Bagi remaja cinta pada pandangan pertama adalah cinta impian. cinta yang seakan tanpa perlu ditanya, langsung menyapa di tatapan pertama. Bisa muncul saat berpapasan di tikungan, tak sengaja bertabrakan di perpustakaan ataupun tatkala melihat sosoknya dari kejauhan. tapi apakah cinta sejati bisa muncul pada tatapan pertama? entah...karena saya pribadi tidak pernah mengalaminya. saya hanya mengalami cinta setelah pernikahan. dan itulah yang terjadi...saya baru belajar mencintai setelah saya menikah.
bagi saya segala sesuatu itu berproses...pun dengan cinta. tak akan mudah untuk memutuskan apakah kita mencintai sesorang atau tidak. kita perlu menelisik, meneliti dan menganalisis apakah sosok itu memang layak untuk dicintai? tentu saja sosok yang layak dicintai adalah sosok yang betul-betul mencintai kita. karena cinta bertepuk sebelah tangan hanya menyisakan kepedihan. lalu...sosok itu harus bersedia menerima kita apa adanya. karena cinta sejati seyogyanya mengabaikan semua pamrih. dan cinta sejati selaiknya akan selalu ada untuk kita, saat senang maupun susah. ternyata untuk memutuskan apakah kita akan mencintai seseorang atau tidak memang memerlukan serangkaian proses
sebelum menikah saya hanya berpikir bahwa menikah itu adalah keindahan. tapi setelah menjalaninya saya mengambil sebuah pelajaran bahwa menikah adalah sebuah perjalanan. yang tentu saja dipenuhi cerita, suka dan duka. pada kisah saya, saya menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah saya kenal sebelumnya. bahkan namanya pun baru saya baca di biodata yang dihamparkan ke hadapan saya. dan saya yakin sekali, sekalipun kami tak pernah berpapasan di jalan. ketika menikah dengannya saat itu saya lapangkan hati saya untuk menerimanya apa adanya. pada awalnya saya mengharapkan bahwa suami saya adalah seseorang yang periang, kocak, humoris jago berdebat dan sedikit keras kepala. nyaris seperti sosok diri saya sendiri. tapi ternyata sosok yang dikirimkan oleh Allah sungguh berbeda dengan apa yang saya harapkan. suami saya adalah sosok yang pendiam, tenang, hemat bicara dan tak suka bercanda. sosok kami sebenarnya sungguh jauh berbeda. dia menyukai warna putih sedangkan saya suka warna hitam atau coklat. dia kalau mandi lama sekali...dan setelah berpakaian rapi harus selalu bersisir, sedangkan saya lebih suka mandi 3 x 4...dan setelah mandi lebih suka membiarkan rambut saya kering sampai lupa disisir. dia ketika memutuskan sesuatu sangat mengutamakan tawakkalnya kepada sang khalik, sedangkan saya masih suka menghitung-hitung dengan kalkulasi saya saya sebagai manusia. dia lebih suka mengalah dan saya sangat suka mendominasi. dia sangat kalem dan saya begitu rame. oh...bayangkalah rumah kami. seperti perbatasan antara dua planet...mungkin planet mars dan venus
di awal pernikahan begitu sulitnya untuk saya menyesuaikan diri dengan segala perbedaan tersebut. saya yang begitu menyukai keriuhan dan gelak tawa yang membahana. harus menrima sebuah rumah yang tenang dan nyaris dipenuhi kesunyian. ketika saya bercerita dengan penuh semangat dan berapi-api, suami saya hanya menaggapinya dengan senyuman. sebuah senyuman ala Rasulullah yang tidak memperlihatkan gigi gerahamnya. ketika saya mendebatnya, yang saya dapatkan hanyalah sebuah senyuman tanpa perlawanan. sungguh saya tak menemukan lawan yang sepadan. padahal, dulu di rumah saya selalu berdebat dengan papa saya tentang apa saja sampai keringatan dan baru berakhir menjelang tengah malam. kini saya tidak mendapatkan perlwanan apapun. dan akhirnya saya terdiam dan memilih untuk masuk kamar dan tidur dengan nyenyak
begitulah hari-hari berlalu...pernikahan kami pun dibumbui dengan pertengkaran-pertengkaran. dan bisa ditebak biang keladinya tentu saja saya sendiri. sebagai makhluk yang dikendalikan oleh hormon, terutama estrogen, saya punya kebiasaan buruk di setiap bulannya. bahwa saya akan marah-marah tanpa sebab. kalau ditanya kenapa, saya juga tidak tahu. yang jelas saya suka mengonetari dan mengkritisi segala sesuatu. dan jika itu tidak sesuai dengan pendapat, keinginan ataupun cara saya...maka tunggulah saya akan menjadi oposisi yang menakutkan. dan itulah yang terjadi di rumah kami, secara, kami sudah berbeda sejak awal, maka di setiap bulan pasti ada saja hal-hal kecil yang memicu pertengkaran kami. tapi dia selalu menunjukkan kedewasaannya..dia tidak pernah menaggapi segala permusuhan yang saya lancarkan kepadanya. dia selalu membalas semua kebencian yang saya lancarkan padanya dengan kebaikan-kebaikan manis yang membuat saya merasa bersalah. menunjukkan kepada saya bahwa sosoknya tidak layak untuk disakiti. setelah bertahun lamanya saya pun akhirnya memutuskan bahwa saya betul-betul akan selalu berada disisinya. mungkin dia tidak romantis...tidak seperti sosok ideal harapan saya...tetapi setelah serangkaian suka duka yang kami alami...saya tahu dia adalh sosok terbaik dalam hidup saya. yang selalu membersamai saya dalam suka dan duka...dikala terik maupun hujan
Yessy Kurniati
Sekedar Berbagi
Kamis, 24 Maret 2016
Jumat, 26 Juli 2013
Hanya Antara Aku dan Engkau
Berikanlah aku kekuatan, yang dengannya
aku akan sanggup mengalahkan diriku, menundukkan nafsuku dan kuat menetapi
kebenaran. Tunjukkan kepadaku sebuah kesabaran...yang selalu menyertaiku untuk
selalu berbahgia atas setiap luka. Duhai....Engkau yang Tahu....betapa aku
liar....betapa aku kelam.....maka jangan pernah biarkan aku kalah. Ketika wasangka
itu mendera....berikan aku pijakan untuk selalu berprasangka baik. Ketika
ketidakpuasan itu menyapa.....anugrahkan untukku qonaah. Duhai....berat nian
perjalanan ini. Yang Engkau buhul diriku dengan NamaMu. Jangan biarkan aku
kalah...jangan biarkan aku jatuh. Bukankah jalan ini kupinta dengan
AsmaMu....maka kuatkan aku untuk bertahan dengan namaMu pula
Perih nian....tapi semoga semuanya membuatku
tambah dewasa. Karuniakanlah kesyukuran...yang membuatku selalu merasa cukup.
Meski syahwatku memberontak mencari pembenaran bagi jiwaku yang tak puas
Selalu antara diriku dan Engkau...tak akan
pernah ada yang lain. Sebab cinta di dunia tak pernah sempurna. Tak ada......maka
aku belajar satu hal....untuk terus menguatkan tawakkal. Suatu ketika pun aku
akan kembali menjumpaiMu. Dan akhirnya, hanya ada diriku dan Engkau
Galau
Menikah itu butuh keberanian. Kucerna
betul-betul kalimat itu. Menggunakan semua potensi otak kiri dan otak kananku.
Secara logika, menikah itu butuh persiapan lahir dan bathin. Secara lahir ia
butuh kematangan dalam masing-masing pribadi. Juga butuh persiapan sandang,
pangan dan papan. Secara bathin menikah memerlukan kekuatan hati dan kesabaran
yang jauh lebih besar.
Ternyata sebanyak apapun ilmu yang engkau
punya, untuk menerapkannya butuh kemampuan khusus. Seperti apa yang kuketahui
tentang menikah. Banyak buku-buku yang kulahap dan kurenungkan. Banyak nasehat
dan kata-kata mutiara telah kubaca. Tapi, ketika kesempatan untuk menikah itu
muncul di hadapan. Aku tak tahu...kenapa aku bimbang
Sebagai seorang jomblo...jujur aku merasa
hidupku sudah berjalan sewajarnya. Mungkin tak sempurna, tapi aku menikmatinya.
Tenggelam dalam berbagai kesibukan. Melakukan banyak petualangan intelektual.
Mencoba hal-hal baru. Dan melakukan segala hal yang kusukai dan kucintai. Aku
tidak bermaksud untuk berkarir sebagaimana mungkin kebanyakan perempuan masa
kini. Tapi I just want learn more. Aku masih ingin belajar
Mungkin aku terjebak dalam prasangka yang
salah. Aku hanya berpikir jika aku menikah maka aku hanya total mengurusi
kekasihku. Waktu, cinta dan hidupku hanya untuknya. Untuk kesibukan lain,
mungkin akan banyak yang kutinggalkan perlahan. Jika hal tersebut kulakukan
sekarang. Kurasa waktunya belum tepat. Masih banyak utang dan kewajiban yang
belum kutunaikan.
Dan yang paling parahnya adalah ketika aku
bercermin dan menengok diriku. Hhhh ada nggak ya yang mau sama aku? Wajah
pas-pasan. Ndak terlalu menarik. Meski sebenarnya aku tergolong perempuan yang
tak terlalu pusing dengan penampilan lahiriah. Tapi aku sadar bagi sebagian
laki-laki hal tersebut adalah hal yang penting.
Galau
Menikah itu butuh keberanian. Kucerna
betul-betul kalimat itu. Menggunakan semua potensi otak kiri dan otak kananku.
Secara logika, menikah itu butuh persiapan lahir dan bathin. Secara lahir ia
butuh kematangan dalam masing-masing pribadi. Juga butuh persiapan sandang,
pangan dan papan. Secara bathin menikah memerlukan kekuatan hati dan kesabaran
yang jauh lebih besar.
Ternyata sebanyak apapun ilmu yang engkau
punya, untuk menerapkannya butuh kemampuan khusus. Seperti apa yang kuketahui
tentang menikah. Banyak buku-buku yang kulahap dan kurenungkan. Banyak nasehat
dan kata-kata mutiara telah kubaca. Tapi, ketika kesempatan untuk menikah itu
muncul di hadapan. Aku tak tahu...kenapa aku bimbang
Sebagai seorang jomblo...jujur aku merasa
hidupku sudah berjalan sewajarnya. Mungkin tak sempurna, tapi aku menikmatinya.
Tenggelam dalam berbagai kesibukan. Melakukan banyak petualangan intelektual.
Mencoba hal-hal baru. Dan melakukan segala hal yang kusukai dan kucintai. Aku
tidak bermaksud untuk berkarir sebagaimana mungkin kebanyakan perempuan masa
kini. Tapi I just want learn more. Aku masih ingin belajar
Mungkin aku terjebak dalam prasangka yang
salah. Aku hanya berpikir jika aku menikah maka aku hanya total mengurusi
kekasihku. Waktu, cinta dan hidupku hanya untuknya. Untuk kesibukan lain,
mungkin akan banyak yang kutinggalkan perlahan. Jika hal tersebut kulakukan
sekarang. Kurasa waktunya belum tepat. Masih banyak utang dan kewajiban yang
belum kutunaikan.
Dan yang paling parahnya adalah ketika aku
bercermin dan menengok diriku. Hhhh ada nggak ya yang mau sama aku? Wajah
pas-pasan. Ndak terlalu menarik. Meski sebenarnya aku tergolong perempuan yang
tak terlalu pusing dengan penampilan lahiriah. Tapi aku sadar bagi sebagian
laki-laki hal tersebut adalah hal yang penting.
Galau
Menikah itu butuh keberanian. Kucerna
betul-betul kalimat itu. Menggunakan semua potensi otak kiri dan otak kananku.
Secara logika, menikah itu butuh persiapan lahir dan bathin. Secara lahir ia
butuh kematangan dalam masing-masing pribadi. Juga butuh persiapan sandang,
pangan dan papan. Secara bathin menikah memerlukan kekuatan hati dan kesabaran
yang jauh lebih besar.
Ternyata sebanyak apapun ilmu yang engkau
punya, untuk menerapkannya butuh kemampuan khusus. Seperti apa yang kuketahui
tentang menikah. Banyak buku-buku yang kulahap dan kurenungkan. Banyak nasehat
dan kata-kata mutiara telah kubaca. Tapi, ketika kesempatan untuk menikah itu
muncul di hadapan. Aku tak tahu...kenapa aku bimbang
Sebagai seorang jomblo...jujur aku merasa
hidupku sudah berjalan sewajarnya. Mungkin tak sempurna, tapi aku menikmatinya.
Tenggelam dalam berbagai kesibukan. Melakukan banyak petualangan intelektual.
Mencoba hal-hal baru. Dan melakukan segala hal yang kusukai dan kucintai. Aku
tidak bermaksud untuk berkarir sebagaimana mungkin kebanyakan perempuan masa
kini. Tapi I just want learn more. Aku masih ingin belajar
Mungkin aku terjebak dalam prasangka yang
salah. Aku hanya berpikir jika aku menikah maka aku hanya total mengurusi
kekasihku. Waktu, cinta dan hidupku hanya untuknya. Untuk kesibukan lain,
mungkin akan banyak yang kutinggalkan perlahan. Jika hal tersebut kulakukan
sekarang. Kurasa waktunya belum tepat. Masih banyak utang dan kewajiban yang
belum kutunaikan.
Dan yang paling parahnya adalah ketika aku
bercermin dan menengok diriku. Hhhh ada nggak ya yang mau sama aku? Wajah
pas-pasan. Ndak terlalu menarik. Meski sebenarnya aku tergolong perempuan yang
tak terlalu pusing dengan penampilan lahiriah. Tapi aku sadar bagi sebagian
laki-laki hal tersebut adalah hal yang penting.
Cerai tanpa Dendam
Dengan cinta engkau kuterima
Dengan cinta pula engkau kulepaskan
Tatkala buhul itu terleraikan
Izinkan, hanya cinta yang kukenang
Bukan luka
Buka lara
Bukan dendam
Bukan pula kebencian
Mungkin, cintaku tak sempurna
Namun yakinlah, ini yang terbaik yang aku
punya
Jika cinta tak bisa lagi bersama
Biarlah hanya indahnya yang kubawa
Luka, lara, dendam dan kebencian
Telah kupunahkan
Dalam rinai air mata
Yang kualirkan atas nama cinta
Hah..cerai lagi. Fenomena itu seakan telah
menjadi trend kehidupan. Hal yang mudah ditemukan di berbagai media. Di koran,
radio, televisi, internet, peristiwa perceraian kerap menjadi berita hangat.
Juga dalam kehidupan nyata. Tak sulit mencari orang-orang di sekitar kita yang
mengalami perceraian
Cinta memang penuh teka-teki. Dia datang
dan pergi kadang seperti angin. Singgah sekejap lalu hilang. Pada satu titik
waktu sepasang suami istri begitu terlihat mesra dan penuh kasih sayang. Seakan
kehidupan mereka hanya mengenal kata bahagia. Tapi di titik waktu lain,
kemesraan itu menguap, berganti dengan amarah dan kebencian. Tak ada lagi
cinta. Yang tersisa hanyalah kekecawaan dan rasa sakit hati
Hal itu menggelitik hatiku. Menjadi
pertanyaan besar yang mengganjal. Apakah cinta seperti sebuah sel. Yang bisa
mengalami mutasi. Hingga cinta yang secara normal harusnya memberikan
kebahagiaan. Justru menjadi biang rinainya air mata. Cinta bermutasi, mengubah
senyum jadi tangisan
Meski memaafkan tak pernah mudah. Namun,
semoga kelapangan jiwa memudahkan kita untuk melakukannya. Bukankah kita pernah
saling mencinta? Jika orang yang pernah kita sayangi telah menyakiti, kuatlah
untuk mencoba memaafkannya. Walaupun untuk mempertahankan kebersamaan itu
sulit. Tapi pastikan hati kita steril dari dendam
Karena cinta dimulai dengan indah, maka
seharusnya dia diakhiri dengan indah pula. Sungguh tak pantas pilar-pilar
dendam membangun kebencian di dalam hati. Terus menangis dan merasa terluka.
Hal itu menyebabkan kita dirundung
kesedihan. Belajarlah untuk melupakan. Belajarlah untuk memaafkan. Meski tak
mudah, yakinlah pasti bisa. Bukan untuk orang lain, tapi untuk kebahagiaan diri
kita sendiri
Langganan:
Postingan (Atom)