Dengan cinta engkau kuterima
Dengan cinta pula engkau kulepaskan
Tatkala buhul itu terleraikan
Izinkan, hanya cinta yang kukenang
Bukan luka
Buka lara
Bukan dendam
Bukan pula kebencian
Mungkin, cintaku tak sempurna
Namun yakinlah, ini yang terbaik yang aku
punya
Jika cinta tak bisa lagi bersama
Biarlah hanya indahnya yang kubawa
Luka, lara, dendam dan kebencian
Telah kupunahkan
Dalam rinai air mata
Yang kualirkan atas nama cinta
Hah..cerai lagi. Fenomena itu seakan telah
menjadi trend kehidupan. Hal yang mudah ditemukan di berbagai media. Di koran,
radio, televisi, internet, peristiwa perceraian kerap menjadi berita hangat.
Juga dalam kehidupan nyata. Tak sulit mencari orang-orang di sekitar kita yang
mengalami perceraian
Cinta memang penuh teka-teki. Dia datang
dan pergi kadang seperti angin. Singgah sekejap lalu hilang. Pada satu titik
waktu sepasang suami istri begitu terlihat mesra dan penuh kasih sayang. Seakan
kehidupan mereka hanya mengenal kata bahagia. Tapi di titik waktu lain,
kemesraan itu menguap, berganti dengan amarah dan kebencian. Tak ada lagi
cinta. Yang tersisa hanyalah kekecawaan dan rasa sakit hati
Hal itu menggelitik hatiku. Menjadi
pertanyaan besar yang mengganjal. Apakah cinta seperti sebuah sel. Yang bisa
mengalami mutasi. Hingga cinta yang secara normal harusnya memberikan
kebahagiaan. Justru menjadi biang rinainya air mata. Cinta bermutasi, mengubah
senyum jadi tangisan
Meski memaafkan tak pernah mudah. Namun,
semoga kelapangan jiwa memudahkan kita untuk melakukannya. Bukankah kita pernah
saling mencinta? Jika orang yang pernah kita sayangi telah menyakiti, kuatlah
untuk mencoba memaafkannya. Walaupun untuk mempertahankan kebersamaan itu
sulit. Tapi pastikan hati kita steril dari dendam
Karena cinta dimulai dengan indah, maka
seharusnya dia diakhiri dengan indah pula. Sungguh tak pantas pilar-pilar
dendam membangun kebencian di dalam hati. Terus menangis dan merasa terluka.
Hal itu menyebabkan kita dirundung
kesedihan. Belajarlah untuk melupakan. Belajarlah untuk memaafkan. Meski tak
mudah, yakinlah pasti bisa. Bukan untuk orang lain, tapi untuk kebahagiaan diri
kita sendiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar