Jumat, 26 Juli 2013

Cerai tanpa Dendam



Dengan cinta engkau kuterima
Dengan cinta pula engkau kulepaskan
Tatkala buhul itu terleraikan
Izinkan, hanya cinta yang kukenang
Bukan luka
Buka lara
Bukan dendam
Bukan pula kebencian
Mungkin, cintaku tak sempurna
Namun yakinlah, ini yang terbaik yang aku punya
Jika cinta tak bisa lagi bersama
Biarlah hanya indahnya yang kubawa
Luka, lara, dendam dan kebencian
Telah kupunahkan
Dalam rinai air mata
Yang kualirkan atas nama cinta

Hah..cerai lagi. Fenomena itu seakan telah menjadi trend kehidupan. Hal yang mudah ditemukan di berbagai media. Di koran, radio, televisi, internet, peristiwa perceraian kerap menjadi berita hangat. Juga dalam kehidupan nyata. Tak sulit mencari orang-orang di sekitar kita yang mengalami perceraian
Cinta memang penuh teka-teki. Dia datang dan pergi kadang seperti angin. Singgah sekejap lalu hilang. Pada satu titik waktu sepasang suami istri begitu terlihat mesra dan penuh kasih sayang. Seakan kehidupan mereka hanya mengenal kata bahagia. Tapi di titik waktu lain, kemesraan itu menguap, berganti dengan amarah dan kebencian. Tak ada lagi cinta. Yang tersisa hanyalah kekecawaan dan rasa sakit hati
Hal itu menggelitik hatiku. Menjadi pertanyaan besar yang mengganjal. Apakah cinta seperti sebuah sel. Yang bisa mengalami mutasi. Hingga cinta yang secara normal harusnya memberikan kebahagiaan. Justru menjadi biang rinainya air mata. Cinta bermutasi, mengubah senyum jadi tangisan
Meski memaafkan tak pernah mudah. Namun, semoga kelapangan jiwa memudahkan kita untuk melakukannya. Bukankah kita pernah saling mencinta? Jika orang yang pernah kita sayangi telah menyakiti, kuatlah untuk mencoba memaafkannya. Walaupun untuk mempertahankan kebersamaan itu sulit. Tapi pastikan hati kita steril dari dendam
Karena cinta dimulai dengan indah, maka seharusnya dia diakhiri dengan indah pula. Sungguh tak pantas pilar-pilar dendam membangun kebencian di dalam hati. Terus menangis dan merasa terluka. Hal itu menyebabkan kita  dirundung kesedihan. Belajarlah untuk melupakan. Belajarlah untuk memaafkan. Meski tak mudah, yakinlah pasti bisa. Bukan untuk orang lain, tapi untuk kebahagiaan diri kita sendiri




Tidak ada komentar:

Posting Komentar