Matahari baru saja menyapa, ketika kaki
ini melangkah menelusuri jalanan. Menapak perlahan suasana pagi yang begitu
ceria. Nun jauh di langit sana awan biru ditemani cirrus yang berarak.
Mengiringi sang surya yang perlahan merangkak. Pohon-pohon yang berbaris
laksana punggawa. Sebagian daunnya meranggas kecoklatan. Sebagian lagi hijau
tua dipenuhi debu-debu kendaraan. Bunga rumput yang memutih berhamburan tertiup
angin pagi. Satu-satu luruh disaksikan embun yang menjuntai di ujung dedaunan
Suasana yang sama selama bertahun-tahun.
Jalan yang sama, langit yang sama dan musim yang sama pula. Tak ada yang
berubah. Selain bangunan yang tambah padat. Tetangga yang kian menua serta
anak-anak mereka yang tumbuh besar. Sekilas tak ada yang berubah
Namun aku tahu hidupku tak demikian. Aku
tahu gurat-gurat halus di wajahku kian bertambah seiring waktu. Bahkan bisa
jadi setiap hela napas menancapkan gurat-gurat yang semakin jelas memudarkan
kemudaanku. Ya....aku perlahan menua. Meski baru berkepala dua aku sadar bahwa
usiaku semakin bertambah dan aku bukanlah remaja lagi yang penuh dengan daya
tarik dan ketidakkhawatiran tentang masa depan..
HH.....semua orang tahu, bahwa hal yang
paling menggelisahkan bagi seorang perempuan adalah ketika dirinya belum
memiliki pasangan. Jangankan di usia
dewasa, di usia remaja pun kekhawatiran jika tidak memiliki pasangan merasuk ke
lubuk hati setiap perempuan. Hal itulah yang menyebabkan mereka rela
melakukan apa saja agar terlihat cantik dan menarik.
Mulai dari menjaga agar tubuh selalu
langsing, kulit terlihat putih dan wajah halus tanpa jerawat. Tak peduli
berapapun biaya yang harus dikeluarkan untuk itu semua. Perempuan adalah
makhluk yang paling konsumtif jika menyangkut masalah penampilan. Dan mereka
menjadi mangsa paling empuk bagi para produsen kosmetik. Termasuk orang-orang
yang tidak bertanggung jawab. Pernah terdengar kasus perempuan yang
menghembuskan nafas terakhir lantaran operasi sedot lemak yang gagal. Atau
perempuan lain yang wajahnya jadi hancur gara-gara pemutih yang mengandung
merkuri. Semua itu dilakukan agar mereka terlihat menarik dan mendapatkan
pasangan yang sesuai dengan keinginan hati
Jika ada manusia yang tidak memiliki
pasangan, meski itu bukan suami atau istri yang sah, maka mereka biasa disebut
dengan jomblo. Momok yang menakutkan bagi para remaja. Tentu saja orang dewasa
jauh lebih khawatir lagi jika harus hidup menjomblo. Karena menjomblo itu
artinya sendirian, kesepian dan kasihan. Jomblo itu identik dengan tidak laku,
tidak menarik sehingga tak ada orang yang tertarik. Seperti atom pemicu radikal
bebas yang bergerak kesana kemari tanpa pasangan. Ia dalam keadaan tidak stabil
terus menerus hingga ada atom lain yang menemaninya. Sehingga jika ia tidak
mendapat atom yang singel, maka ia akan mencari atom lain yang sudah
berpasangan. Bahasa singkatnya merebut pasangan atom lain. Meski hal tersebut
tidak serta merta terjadi di dunia manusia, namun ada saja jomblo yang bersifat
seperti atom radikal bebas itu. Tak tahan kesepian, maka kehidupan orang lain
pun dirusak
Kehidupan jomblo itu sendiri sebenarnya
banyak alasannya. Ada yang menjomblo karena trauma dan sakit hati dengan sebuah
hubungan. Ada juga yang tidak ingin terikat. Sebagian lagi memilih hidup
menjomblo untuk menuntaskan cita-cita tertentu. Bahkan sebagian menjomblo
karena mereka memang tak bisa membina sebuah hubungan. Entah karena standarnya
terlalu tinggi sehingga belum menemukan pilihan yang cocok. Atau karena mereka
tipe manusia yang sulit dipahami. Dan ada yang memilih hidup menjomblo demi
menjaga kehormatan dan ketaatannya sebagai seorang hamba. Semoga aku adalah
tipe jomblo yang terakhir ini
Kenapa bisa?? ya....tentu bisa. Aku
memilih hidup menjomblo hingga datang seseorang yang berani untuk menikahiku.
Bukan sekedar membangun hubungan palsu yang disebut pacaran. Menodai
waktu-waktu berhargaku dengan kebaikan semu dan hal-hal palsu lainnya.
Menggiringku pada sebuah kenistaan besar di hadapan Allah. Karena jelas sekali
Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, tak menghendaki hambaNya terjebak
dalam syahwat yang melenakan. Sehingga
dalam Al Quran, Dia Memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk tidak mendekati
zina. Jangankan melakukan, mendekati saja dilarang
Maka, demi mentaati perintah Tuhanku, aku
memilih hidup menjomblo. Jauh dari pacaran atau hubungan apapun namanya, yang
dapat mengantarkanku pada cinta terlarang itu. Jadi aku menjomblo bukan karena
tak suka lelaki, bukan pula tak ingin menikah. Tetapi karena waktunya saja yang
belum sampai. Dari pada terjebak pada hubungan hitam nan tercela, lebih baik
bersabar hidup menjomblo. Sembari mengamati kehidupan dan mempersiapkan diri
untuk menjalaninya.
Menjadi seorang jomblo tentu saja tak
mudah. Apalagi jika pilihan itu dijalani pada saat remaja. Tatkala semua hormon pertumbuhan mengkondisikan dirimu untuk peka
dan fokus pada perhatian seorang lawan jenis. Keinginan dan kerinduan untuk
mencicipi cinta terlarang begitu kuat menghentak setiap desah nafas. Karena
itulah masa remaja adalah masa rawan bagi perjalanan keimanan seorang hamba.
Godaan yang luar biasa dashyatnya mengintai di sepanjang periode adolesen itu
Jadi ingat bertahun-tahun waktu yang lalu.
Ketika di saat remaja aku memilih menjadi seorang jomblo. Memang aku bukan
satu-satunya jomblo. Tetapi yang membedakanku dengan jomblo lainnya adalah
karena aku jomblo yang anti pacaran. Banyak teman-temanku yang menjomblo tapi
ngejomblo karena patah hati diputuskan oleh laki-laki. Ada juga yang masih
jomblo namun tetap saja terus berusaha untuk mencari pacar. Nah, dirikulah mungkin
satu-satunya jomblo yang say good bye to pacaran
Bagaimana sejarahnya? Apakah aku terlibat
dengan gerakan feminis sejak remaja? Ataukah aku memang memiliki kelainan
sebagi seorang perempuan? Orientasi seksual terganggu mungkin. Oh, tidak.
Sungguh, aku perempuan normal. Aku tidak munafik jika diriku pun pernah
bersimpati dan menyukai seorang laki-laki. Pernah mengalami detakan jantung
yang lebih cepat ketika berada di dekat laki-laki yang kusukai. Juga pernah
hampir terjatuh dalam sebuah cinta terlarang. Sekiranya tanpa izin Allah, aku
pun sudah menjadi korban jerat-jerat syethan dan merusak prinsip hidupku yang
paling penting saat itu.
Tetapi aku adalah tipe remaja yang tidak
suka ikut-ikutan jika aku tak tahu apa manfaat dari sebuah hal. Sebelum aku
menjalani sebuah pilihan, maka aku akan mempertimbangkan baik-buruknya pilihan
itu. Apalagi aku pun telah mengetahui jika pacaran tidak pernah dikenal dalam
Islam dan Allah Tuhan Langit dan Bumi sangat membenci perbuatan zina. Sehingga
hal-hal yang mengarah pada perbuatan itu juga dilarang
Demi menunjang pilihanku untuk menjadi
seorang jomblo, maka akupun menjadi
seorang pemerhati. Mengobservasi kisah kasih beberapa teman sekolahku. Aku
mengikuti perjalanan hubungan itu secara diam-diam. Untuk menemukan sebuah
jawaban, manakah yang lebih dominan dari sebuah kegiatan pacaran di usia sekolah.
Kebaikan atau justru keburukannya
Diantara penemuanku adalah bahwa sekilas
kegiatan pacaran nampak sangat menyenangkan. Ya iyalah. Bagaimana tidak jika
engkau mendapatkan limpahan perhatian dan kasih sayang dari seseorang. Apalagi
secara hormonal tubuhmu memang mendukung hal tersebut. Pacaran dapat menjadi
ajang memuaskan ego dan kebutuhan remaja akan sebuah pengakuan sosial. Pacaran
bisa mendongkrak gengsimu jika pacarmu adalah orang penting atau selebritis
sekolah. Entah pengurus OSIS, bintang olah raga, bintang akademik ataupun
bintang yang paling cute and hand some. Pacaran juga bisa membuatmu berhemat
jika pacarmu memiliki kendaraan. Siapa sih yang tidak senang jika fasilitas
antar jemput tersedia setiap hari sekolah. Perempuan manapun pasti menginginkan
hal tersebut. Dan katanya nih, yang paling seru dari pacaran adalah detakan
jantungmu yang tiba-tiba menjadi lebih cepat. Wajah yang memanas lalu memerah. Napas
yang tidak teratur juga keringat dingin yang mengucur tiba-tiba. Diiringi dengan perubahan perilaku, salah
tingkah jika berada di dekat orang yang kita sukai. Hal tersebut memberikan
sebuah sensasi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Nah, dampak buruk pacaran mulai terlihat
ketika bunga cinta itu bermekaran. Sebagian besar teman-temanku yang fall in
love mengalami gangguan konsentrasi terhadap pelajaran sekolah. Mereka hanya
sibuk berdandan. Selain itu, pacaran bisa menjadi salah satu faktor pemicu
terjadinya pelanggaran aturan sekolah. Lihat saja, teman-temanku lebih suka
membolos untuk bisa berduaan dengan pacarnya. Juga lebih serius menatap wajah
kekasihnya dari pada memperhatikan pelajaran sekolah. Dan kebanyakan siswa yang
langganan masuk ke ruang konseling adalah mereka yang agresif dalam percintaan.
Jadi dapat disimpulkan dalam analisis statistik terdapat hubungan terbalik
antara prestasi akademik dengan aktivitas pacaran
Ketika bunga cinta mulai layu, maka itulah
pertanda sebuah perang urat syaraf dimulai. Sepasang sejoli yang dulunya sangat
berkasih-kasihan tiba-tiba berubah jadi musuh bebuyutan. Tak saling tegur, tak
saling menyapa. Jika bertemu saling membuang muka. Saling menjelekkan dan
saling menyakiti. Entahlah, kemana semua cinta itu hilang dan menguap.
Kejadian paling konyol sebagai akibat
buruk dari pacaran adalah bunuh diri. Memang di sekolahku belum pernah terjadi
hal-hal seperti itu. Tapi di televisi, kejadian tersebut sudah sering
diberitakan. Beberapa remaja rapuh memilih untuk mengakhiri hidup mereka
lantaran diputuskan oleh pacarnya. Memilih mati, seakan-akan itu adalah akhir
dari segalanya. Mencabut nyawanya sendiri seperti menjadikan nyawa sebagai
barang murahan yang mudah dibeli di pasar loak. Mereka tak dapat memaknai
kehidupan selain dari perasaan sesaat yang terbingkai dalam ketidakdewasaan.
Akhir dari observasi itu kian memantapkan
pilihanku untuk menjomblo. Tepatnya, jomblo yang anti pacaran. Bagiku, pacaran
hanyalah aktivitas yang menyia-nyiakan waktu dan usia. Selain menambah dosa
juga menyita perhatian yang seharusnya ditumpukan hanya pada persiapan
menghadapi masa depan. Lagi pula, tak ada yang tahu jika seseorang yang menjadi
pacarmu itu akan menjadi suamimu kelak. Bagaimana kalo hanya cinta semusim.
Cuma bikin sakit hati dan menambah kesedihan. Lebih baik memusatkan pikiran
untuk berprestasi dan menjadi sosok yang lebih baik dari ke hari. Sehingga
dirimu menjelma menjadi sosok yang memang layak untuk dicintai, ok!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar