Jumat, 26 Juli 2013

Catatan Seorang Jomblo



Matahari baru saja menyapa, ketika kaki ini melangkah menelusuri jalanan. Menapak perlahan suasana pagi yang begitu ceria. Nun jauh di langit sana awan biru ditemani cirrus yang berarak. Mengiringi sang surya yang perlahan merangkak. Pohon-pohon yang berbaris laksana punggawa. Sebagian daunnya meranggas kecoklatan. Sebagian lagi hijau tua dipenuhi debu-debu kendaraan. Bunga rumput yang memutih berhamburan tertiup angin pagi. Satu-satu luruh disaksikan embun yang menjuntai di ujung dedaunan
Suasana yang sama selama bertahun-tahun. Jalan yang sama, langit yang sama dan musim yang sama pula. Tak ada yang berubah. Selain bangunan yang tambah padat. Tetangga yang kian menua serta anak-anak mereka yang tumbuh besar. Sekilas tak ada yang berubah
Namun aku tahu hidupku tak demikian. Aku tahu gurat-gurat halus di wajahku kian bertambah seiring waktu. Bahkan bisa jadi setiap hela napas menancapkan gurat-gurat yang semakin jelas memudarkan kemudaanku. Ya....aku perlahan menua. Meski baru berkepala dua aku sadar bahwa usiaku semakin bertambah dan aku bukanlah remaja lagi yang penuh dengan daya tarik dan ketidakkhawatiran tentang masa depan..
HH.....semua orang tahu, bahwa hal yang paling menggelisahkan bagi seorang perempuan adalah ketika dirinya belum memiliki pasangan. Jangankan di usia dewasa, di usia remaja pun kekhawatiran jika tidak memiliki pasangan merasuk ke lubuk hati setiap perempuan. Hal itulah yang menyebabkan mereka rela melakukan apa saja agar terlihat cantik dan menarik.
Mulai dari menjaga agar tubuh selalu langsing, kulit terlihat putih dan wajah halus tanpa jerawat. Tak peduli berapapun biaya yang harus dikeluarkan untuk itu semua. Perempuan adalah makhluk yang paling konsumtif jika menyangkut masalah penampilan. Dan mereka menjadi mangsa paling empuk bagi para produsen kosmetik. Termasuk orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pernah terdengar kasus perempuan yang menghembuskan nafas terakhir lantaran operasi sedot lemak yang gagal. Atau perempuan lain yang wajahnya jadi hancur gara-gara pemutih yang mengandung merkuri. Semua itu dilakukan agar mereka terlihat menarik dan mendapatkan pasangan yang sesuai dengan keinginan hati
Jika ada manusia yang tidak memiliki pasangan, meski itu bukan suami atau istri yang sah, maka mereka biasa disebut dengan jomblo. Momok yang menakutkan bagi para remaja. Tentu saja orang dewasa jauh lebih khawatir lagi jika harus hidup menjomblo. Karena menjomblo itu artinya sendirian, kesepian dan kasihan. Jomblo itu identik dengan tidak laku, tidak menarik sehingga tak ada orang yang tertarik. Seperti atom pemicu radikal bebas yang bergerak kesana kemari tanpa pasangan. Ia dalam keadaan tidak stabil terus menerus hingga ada atom lain yang menemaninya. Sehingga jika ia tidak mendapat atom yang singel, maka ia akan mencari atom lain yang sudah berpasangan. Bahasa singkatnya merebut pasangan atom lain. Meski hal tersebut tidak serta merta terjadi di dunia manusia, namun ada saja jomblo yang bersifat seperti atom radikal bebas itu. Tak tahan kesepian, maka kehidupan orang lain pun dirusak
Kehidupan jomblo itu sendiri sebenarnya banyak alasannya. Ada yang menjomblo karena trauma dan sakit hati dengan sebuah hubungan. Ada juga yang tidak ingin terikat. Sebagian lagi memilih hidup menjomblo untuk menuntaskan cita-cita tertentu. Bahkan sebagian menjomblo karena mereka memang tak bisa membina sebuah hubungan. Entah karena standarnya terlalu tinggi sehingga belum menemukan pilihan yang cocok. Atau karena mereka tipe manusia yang sulit dipahami. Dan ada yang memilih hidup menjomblo demi menjaga kehormatan dan ketaatannya sebagai seorang hamba. Semoga aku adalah tipe jomblo yang terakhir ini
Kenapa bisa?? ya....tentu bisa. Aku memilih hidup menjomblo hingga datang seseorang yang berani untuk menikahiku. Bukan sekedar membangun hubungan palsu yang disebut pacaran. Menodai waktu-waktu berhargaku dengan kebaikan semu dan hal-hal palsu lainnya. Menggiringku pada sebuah kenistaan besar di hadapan Allah. Karena jelas sekali Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, tak menghendaki hambaNya terjebak dalam syahwat yang melenakan.  Sehingga dalam Al Quran, Dia Memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk tidak mendekati zina. Jangankan melakukan, mendekati saja dilarang
Maka, demi mentaati perintah Tuhanku, aku memilih hidup menjomblo. Jauh dari pacaran atau hubungan apapun namanya, yang dapat mengantarkanku pada cinta terlarang itu. Jadi aku menjomblo bukan karena tak suka lelaki, bukan pula tak ingin menikah. Tetapi karena waktunya saja yang belum sampai. Dari pada terjebak pada hubungan hitam nan tercela, lebih baik bersabar hidup menjomblo. Sembari mengamati kehidupan dan mempersiapkan diri untuk menjalaninya.
Menjadi seorang jomblo tentu saja tak mudah. Apalagi jika pilihan itu dijalani pada saat remaja. Tatkala semua hormon pertumbuhan mengkondisikan dirimu untuk peka dan fokus pada perhatian seorang lawan jenis. Keinginan dan kerinduan untuk mencicipi cinta terlarang begitu kuat menghentak setiap desah nafas. Karena itulah masa remaja adalah masa rawan bagi perjalanan keimanan seorang hamba. Godaan yang luar biasa dashyatnya mengintai di sepanjang periode adolesen itu
Jadi ingat bertahun-tahun waktu yang lalu. Ketika di saat remaja aku memilih menjadi seorang jomblo. Memang aku bukan satu-satunya jomblo. Tetapi yang membedakanku dengan jomblo lainnya adalah karena aku jomblo yang anti pacaran. Banyak teman-temanku yang menjomblo tapi ngejomblo karena patah hati diputuskan oleh laki-laki. Ada juga yang masih jomblo namun tetap saja terus berusaha untuk mencari pacar. Nah, dirikulah mungkin satu-satunya jomblo yang say good bye to pacaran
Bagaimana sejarahnya? Apakah aku terlibat dengan gerakan feminis sejak remaja? Ataukah aku memang memiliki kelainan sebagi seorang perempuan? Orientasi seksual terganggu mungkin. Oh, tidak. Sungguh, aku perempuan normal. Aku tidak munafik jika diriku pun pernah bersimpati dan menyukai seorang laki-laki. Pernah mengalami detakan jantung yang lebih cepat ketika berada di dekat laki-laki yang kusukai. Juga pernah hampir terjatuh dalam sebuah cinta terlarang. Sekiranya tanpa izin Allah, aku pun sudah menjadi korban jerat-jerat syethan dan merusak prinsip hidupku yang paling penting saat itu.
Tetapi aku adalah tipe remaja yang tidak suka ikut-ikutan jika aku tak tahu apa manfaat dari sebuah hal. Sebelum aku menjalani sebuah pilihan, maka aku akan mempertimbangkan baik-buruknya pilihan itu. Apalagi aku pun telah mengetahui jika pacaran tidak pernah dikenal dalam Islam dan Allah Tuhan Langit dan Bumi sangat membenci perbuatan zina. Sehingga hal-hal yang mengarah pada perbuatan itu juga dilarang
Demi menunjang pilihanku untuk menjadi seorang jomblo, maka akupun  menjadi seorang pemerhati. Mengobservasi kisah kasih beberapa teman sekolahku. Aku mengikuti perjalanan hubungan itu secara diam-diam. Untuk menemukan sebuah jawaban, manakah yang lebih dominan dari sebuah kegiatan pacaran di usia sekolah. Kebaikan atau justru keburukannya
Diantara penemuanku adalah bahwa sekilas kegiatan pacaran nampak sangat menyenangkan. Ya iyalah. Bagaimana tidak jika engkau mendapatkan limpahan perhatian dan kasih sayang dari seseorang. Apalagi secara hormonal tubuhmu memang mendukung hal tersebut. Pacaran dapat menjadi ajang memuaskan ego dan kebutuhan remaja akan sebuah pengakuan sosial. Pacaran bisa mendongkrak gengsimu jika pacarmu adalah orang penting atau selebritis sekolah. Entah pengurus OSIS, bintang olah raga, bintang akademik ataupun bintang yang paling cute and hand some. Pacaran juga bisa membuatmu berhemat jika pacarmu memiliki kendaraan. Siapa sih yang tidak senang jika fasilitas antar jemput tersedia setiap hari sekolah. Perempuan manapun pasti menginginkan hal tersebut. Dan katanya nih, yang paling seru dari pacaran adalah detakan jantungmu yang tiba-tiba menjadi lebih cepat. Wajah yang memanas lalu memerah. Napas yang tidak teratur juga keringat dingin yang mengucur tiba-tiba. Diiringi dengan perubahan perilaku, salah tingkah jika berada di dekat orang yang kita sukai. Hal tersebut memberikan sebuah sensasi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.  Nah, dampak buruk pacaran mulai terlihat ketika bunga cinta itu bermekaran. Sebagian besar teman-temanku yang fall in love mengalami gangguan konsentrasi terhadap pelajaran sekolah. Mereka hanya sibuk berdandan. Selain itu, pacaran bisa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya pelanggaran aturan sekolah. Lihat saja, teman-temanku lebih suka membolos untuk bisa berduaan dengan pacarnya. Juga lebih serius menatap wajah kekasihnya dari pada memperhatikan pelajaran sekolah. Dan kebanyakan siswa yang langganan masuk ke ruang konseling adalah mereka yang agresif dalam percintaan. Jadi dapat disimpulkan dalam analisis statistik terdapat hubungan terbalik antara prestasi akademik dengan aktivitas pacaran
Ketika bunga cinta mulai layu, maka itulah pertanda sebuah perang urat syaraf dimulai. Sepasang sejoli yang dulunya sangat berkasih-kasihan tiba-tiba berubah jadi musuh bebuyutan. Tak saling tegur, tak saling menyapa. Jika bertemu saling membuang muka. Saling menjelekkan dan saling menyakiti. Entahlah, kemana semua cinta itu hilang dan  menguap.
Kejadian paling konyol sebagai akibat buruk dari pacaran adalah bunuh diri. Memang di sekolahku belum pernah terjadi hal-hal seperti itu. Tapi di televisi, kejadian tersebut sudah sering diberitakan. Beberapa remaja rapuh memilih untuk mengakhiri hidup mereka lantaran diputuskan oleh pacarnya. Memilih mati, seakan-akan itu adalah akhir dari segalanya. Mencabut nyawanya sendiri seperti menjadikan nyawa sebagai barang murahan yang mudah dibeli di pasar loak. Mereka tak dapat memaknai kehidupan selain dari perasaan sesaat yang terbingkai dalam ketidakdewasaan.
Akhir dari observasi itu kian memantapkan pilihanku untuk menjomblo. Tepatnya, jomblo yang anti pacaran. Bagiku, pacaran hanyalah aktivitas yang menyia-nyiakan waktu dan usia. Selain menambah dosa juga menyita perhatian yang seharusnya ditumpukan hanya pada persiapan menghadapi masa depan. Lagi pula, tak ada yang tahu jika seseorang yang menjadi pacarmu itu akan menjadi suamimu kelak. Bagaimana kalo hanya cinta semusim. Cuma bikin sakit hati dan menambah kesedihan. Lebih baik memusatkan pikiran untuk berprestasi dan menjadi sosok yang lebih baik dari ke hari. Sehingga dirimu menjelma menjadi sosok yang memang layak untuk dicintai, ok!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar