Menikah itu butuh keberanian. Kucerna
betul-betul kalimat itu. Menggunakan semua potensi otak kiri dan otak kananku.
Secara logika, menikah itu butuh persiapan lahir dan bathin. Secara lahir ia
butuh kematangan dalam masing-masing pribadi. Juga butuh persiapan sandang,
pangan dan papan. Secara bathin menikah memerlukan kekuatan hati dan kesabaran
yang jauh lebih besar.
Ternyata sebanyak apapun ilmu yang engkau
punya, untuk menerapkannya butuh kemampuan khusus. Seperti apa yang kuketahui
tentang menikah. Banyak buku-buku yang kulahap dan kurenungkan. Banyak nasehat
dan kata-kata mutiara telah kubaca. Tapi, ketika kesempatan untuk menikah itu
muncul di hadapan. Aku tak tahu...kenapa aku bimbang
Sebagai seorang jomblo...jujur aku merasa
hidupku sudah berjalan sewajarnya. Mungkin tak sempurna, tapi aku menikmatinya.
Tenggelam dalam berbagai kesibukan. Melakukan banyak petualangan intelektual.
Mencoba hal-hal baru. Dan melakukan segala hal yang kusukai dan kucintai. Aku
tidak bermaksud untuk berkarir sebagaimana mungkin kebanyakan perempuan masa
kini. Tapi I just want learn more. Aku masih ingin belajar
Mungkin aku terjebak dalam prasangka yang
salah. Aku hanya berpikir jika aku menikah maka aku hanya total mengurusi
kekasihku. Waktu, cinta dan hidupku hanya untuknya. Untuk kesibukan lain,
mungkin akan banyak yang kutinggalkan perlahan. Jika hal tersebut kulakukan
sekarang. Kurasa waktunya belum tepat. Masih banyak utang dan kewajiban yang
belum kutunaikan.
Dan yang paling parahnya adalah ketika aku
bercermin dan menengok diriku. Hhhh ada nggak ya yang mau sama aku? Wajah
pas-pasan. Ndak terlalu menarik. Meski sebenarnya aku tergolong perempuan yang
tak terlalu pusing dengan penampilan lahiriah. Tapi aku sadar bagi sebagian
laki-laki hal tersebut adalah hal yang penting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar