Menantimu dalam musim yang tak terperi
Pada resah dan kesah yang hampir membuncah
Seperti bunga yang mencari keharumannya
Laksana mentari yang mencari cahyanya
Engkau adalah kepingan hati yang pernah hilang
Pasangan jiwa yang telah ditakdirkan
Bagimu selaksa makna
Hadirmu adalah cinta
Wahai.....kepingan hati
Kapankah akan bersua
Pada angin aku bertanya
Pada waktu aku berkata
Padamu duhai pemilik patahan jiwa
Bilakah engkau menjelma
Dalam mata yang binar kejora
Dalam senyum seindah puspa
Dalam rupa kesatria
Bilakah engkau datang
Maka pupuslah rindu ini
Hilanglah dahaga kini
Karena engkau adalah keharuman
Karena engkau adalah cahaya
Karena engkau adalah cinta
Bilakah, resah ini kan punah?
Menanti ....adalah kata yang tidak menarik.
Menunggu....lebih-lebih...berarti kehidupan yang jemu. Namun dua kata itu
sekarang hampir menjadi warna bagi hari-hariku. Menanti dan menunggu sekeping
hati yang entah kapan akan bertemu. Dalam sebuah ikatan suci. Ustadz bilang,
mitsakan ghalidza, buhul yang tak terlerai.
Bagi jomblo sepertiku tak ada pertanyaan
yang paling menikam, selain pertanyaan kapan menikah?. Meski tanya itu berbalut
senyum ketulusan, tetap saja ada luka yang tertinggal. Bukan aku tak ingin
bukan pula tak mau. Tapi, atas hikmahNya, waktunya memang belum tiba
Apakah ada gelisah dan kekhawatiran.
Entahlah, aku tak tahu pasti. Jujur, ada rasa rindu dengan kebahagiaan. Ibarat
seseorang yang berpuasa yang tentunya sangat mengharapkan waktu magrib tiba.
Apalagi jika ada undangan walimah baru yang beredar. Seperti sesuatu yang
otomatis. Hati berseru, kapan waktumu???
Bagi laki-laki, waktu menunggu mungkin bukanlah
sesuatu yang menuntut. Dengan dukungan fisiologi dan masyarakat, mereka kan
tegar hingga usia kapanpun mereka mau melajang. Tapi bagi perempuan, tiap detik
waktu ibarat jarum yang menusuk hingga ke hati yang paling lubuk. Tiap waktu,
seperti tuntutan yang semakin besar volumenya. Karena hal yang sama, fisiologi
dan masyarakat.
Semua orang tahu perempuan memiliki batas
waktu dalam bereproduksi. Juga telah menjadi pengetahuan bersama bahwa masa
akan memangsa semua keremajaan dan daya tarik perempuan. Masyarakat pun tak mau
tahu. Jika perempuan terlambat menikah maka gunjingan dan tuduhan akan
dialamatkan kepadanya. Terlalu pemilih. Terlalu penuh kriteria
Sampai ada sebuah sindiran yang patut
untuk menjadi perenungan bagi perempuan manapun. Jika seorang perempuan masih
berusia muda, maka ia akan berkata kepada laki-laki yang datang kepadanya ”siapa
kau?”. Ketika perempuan itu telah menyelesaikan pendidikan dan pekerjaannya
sudah mapan dia akan berkata kapada
lelaki yang datang kepadanya ”siapa saya?”. Karena hal tersebut maka tak ada lelaki pun
yang berani untuk datang kepadanya. Hingga usia senja telah menjadi bayangan, maka
perempuan itu pun akhirnya akan berkata ”siapa saja!
Menurutku, menetapkan kriteria bagi
pasangan hidup tentu sah-sah saja. Karena aku akan menghabiskan hidupku bersamanya.
Namun yang tidak tepat adalah jika dalam menetapkan kriteria itu sama sekali tidak melihat kenyataan. Tidak bercermin
mematut sosok diri sendiri. Mengharapkan pasangan yang ideal sedangkan diri
kita adalah orang yang bergelimang kekurangan. Merindukan sosok yang terbaik
sedangkan diri kita tak pernah berusaha untuk memperbaiki diri.
Sebagai jomblo dalam usia layak nikah. Sepertinya
aku harus bersabar melanjutkan perjuangan ini. Perjuangan menampik kecendrungan
hati pada cinta terlarang. Menjaga ketaatan kepada Allah dan menyiapkan diri
untuk kemungkinan terburuk. Tapi aku yakin, sosok yang dianugrahkan Allah
kepadaku pastinya tak berbeda jauh dari diriku sendiri. Maka aku harus belajar
berbesar hati untuk menerima sosok itu apa adanya. Persamaan itu mungkin sulit
untuk didapatkan, karena laki-laki dan perempuan memang berbeda. Tetapi saling
memahami akan mampu menghimpun yang terserak dan menyatukannya menjadi sebuah
cinta. Cinta atas nama Allah dalam KeridhoanNya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar