Cinta
itu buta. Awalnya aku tak terlalu paham dengan kalimat tersebut. Mengapa cinta
bisa menjadikan seseorang buta. Hingga tahi kucing disangka coklat. Padahal,
antara tahi kucing dan silver queen adalah dua hal yang sangat berbeda. Apakah
cinta memang sedasyat itu efeknya. Hingga dapat membutakan mata dan hati
seseorang
Aku baru paham makna kalimat itu sampai
aku berjumpa dengan seseorang. Sebut saja namanya indra. Meski namanya
terdengar maskulin, percayalah dia seorang perempuan asli. Saat berkenalan
dengannya, anak itu tak terlalu menarik perhatian. Sikapnya kalem dengan wajah
yang cukup manis. Tidak terlalu menggambarkan hidup yang penuh riak gelombang.
Sungguh, ia terlihat sangat biasa. Sehingga akupun tak terlalu memperhatikannya
Tapi ketika aku terpilih menjadi ketua
kelas, tiba-tiba semua kesan itu berubah. Sebagai penanggung jawab kelas
tentunya aku tahu tentang seluk beluk teman-temanku terkait dengan masalah
akademik mereka. Dan si Indra
temanku itu pasti menarik perhatian dan memusingkan ketua kelas manapun. Kenapa?
Karena malasnya......minta ampun. Bayangkan, dalam satu bulan kegiatan belajar
mengajar, paling banyak ia hadir selama satu pekan. Itu pun masih dipotong
kalau ia datang terlambat atau membolos. Ia hampir tak pernah mencatat meski ke
sekolah dengan tas tersandang di bahunya. Apalagi mengerjakan tugas. Ia lebih sering
bergosip ria dengan temannya atau menggoda anak laki-laki di belakang
bangkunya. Pokoknya....kacau....kacau dan kacau.
Aku tentu berkewajiban menangani masalah
ini. Suatu hal yang
tak sepele. Ini terkait dengan
pencitraan kelas dan tindakan preventif terhadap anggota kelas yang lain. Ya...tahu sendiri khan. Perbuatan
buruk itu mudah menular. Aku tidak mau anggota kelasku terjangkit penyakitnya
si Indra itu
Akhirnya aku mencoba pendekatan persuasif.
Menggali dan menelusuri ada apa dengan anak itu? Kenapa dia sampai bertindak
demikian. Ternyata Indra tengah terjebak
dalam masalah yang serius. Ia bermasalah dengan keluarganya yang tidak
merestusi hubungannya dengan seorang lelaki. Maka ia menunjukkan perlawanannya
dengan merusak masa depannya sendiri. Aku pun penasaran dengan sosok lelaki
yang dicintai oleh Indra. Sekeren dan setampan apakah lelaki yang membuat
seorang perempuan begitu tergila-gila padanya. Karena dalam pandanganku Indra
terlalu mencintai pacarnya itu. Sampai-sampai ia tidak dapat membedakan mana
yang baik dan mana yang buruk.
Lelaki yang dicintai oleh Indra itu
ternyata seorang duda tanpa anak yang bercerai hidup dengan istrinya. Suka
mabuk-mabukan. Hanya pendatang di sebuah kampung, sehingga asal usulnya tidak
jelas. Tanpa pekerjaan, dan kesana kemari sebagai pengangguran. Masalah
tampang, maaf, aku sampai kaget ketika Indra menunjukkan fotonya. Wajah itu
sangat tidak bersahabat dengan sepasang mata yang kemerahan. Kalau begitu,
orang tua mana sih yang bakal merestui? Wajar saja jika keluarga Indra, atas
nama cinta mereka, tidak membiarkan Indra untuk meneruskan hubungannya dengan
lelaki tersebut. Tapi begitulah, Indra telah dibutakan oleh cintanya. Hingga ia
memilih untuk menyakiti keluarganya ketimbang meninggalkan laki-laki
penggangguran itu.
Sebagai teman, aku berusaha untuk menyadarkannya.
Mengingatkan bahwa apa yang dipilih dan tengah dijalaninya itu adalah sebuah
kesalahan. Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti kedua orang tuanya demi seorang
laki-laki yang baru saja dikenalnya. Bukankah keluarganya telah memberikan
banyak hal. Sejak ia kecil hingga menjelang remaja. Kedua orang tuanya telah
memberikan materi dan juga kasih sayang. Bahkan, menurut salah seorang teman
sekampungnya, Indra tergolong sebagai anak manja. Karena terlalu bergelimangan
cinta dan perhatian dari keluarganya.
Dapat dijelaskan kenapa Indra sampai
berperilaku demikian, sebab mungkin selama ini permintaannnya tidak pernah
ditolak. Indra selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Sampai-sampai keinginan
yang aneh dan merusak pun ingin ia dapatkan. Di satu sisi, orang tuanya tidak
akan berdiam diri melihat anaknya di ambang kehancuran. Indra adalah kesayangan
mereka, tentu saja hanya hal-hal indah dan kebaikan yang mereka inginkan ada dalam
hidup putri mereka itu. Mereka tidak akan pernah rela jika putri mereka menikah
dengan seorang pengagguran yang tak jelas asal usulnya, juga pernah mengalami
kegagalan dalam membina rumah tangga.
Ternyata masalah tersebut sangat pelik.
Keluarga Indra betul-betul menerapkan sistem over protektif pada putri mereka.
Sampai tindak-tindak kekerasan pun mulai dihalalkan. Indra sudah biasa dipukuli
ataupun dihakimi oleh keluarganya di depan umum. Tetapi Indra tak pernah jera,
ia betul-betul membalas perlakuan orang tuanya dengan merusak masa depannya
sendiri
Acap kali dalam pembicaraan di sore hari,
Indra terlihat begitu menyesali dirinya. Sembari menyeka air mata yang mengalir
dari pipinya, dia sadar dan tahu bahwa sebenarnya keluarga melakukan hal
tersebut karena sayang dan cinta kepadanya. Tapi di sisi lain, ia tetap
bersikukuh mempertahankan cintanya kepada pacarnya itu. Dalam pengakuannya,
Indra mengatakannya bahwa ia merasa hidupnya tak berarti tanpa lelaki tersebut.
Sepertinya pada sosok Indra, kutemukan jawaban yang memahamkanku, bahwa cinta
itu buta
Apapun masalahnya, tentu sebagai seorang
ketua kelas misi utamaku adalah menormalkan kembali kehidupan akademik temanku
ini. Aku sering menyadarkannya bahwa pendidikan adalah hal yang penting. Kita
semakin tidak mampu membedakan mana kebaikan dan mana keburukan jika kita tidak
bersekolah. Meski mungkin di
kelas kita tidak diajarkan semua hal tentang kehidupan. Tapi minimal, dari
sekolah kita mendapatkan sebuah kerangka pikir yang menjadi piranti untuk
menganalisis tentang manfaat ataupun kerugian dari sebuah pilihan. Sekolah
memang tidak menjamin masa depan. Namun minimal memberikan kita kesempatan yang
lebih besar untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan
Khutbahku itu jadi terapi bagi Indra
ketika baru duduk di bangkunya dan akan kuulangi lagi ketika istirahat.
Kemudian menjelang pulang, aku akan menepuk lembut bahunya, menatapnya dalam,
dan berseru lirih” kamu bisa, Insya Allah”. Kutambahi lagi terapi itu dengan
sebuah ancaman bahwa jika ia tidak menunjukkan perbaikan dalam kegiatan
akademik, maka aku mogok jadi temannya. Ya, seiring waktu ternyata aku dan
Indra bisa jadi teman yang baik, saling melengkapi dan saling menguatkan. Aku
bersyukur karena ia terlihat sangat menikmati dan menghargai pertemanan yang telah
terjalin. Sehingga hal tersebut, dalam pandanganku, bisa jadi salah satu
senjata untuk menggiringnya kembali ke jalan yang benar. Yaitu menjalani
kehidupan sekolah dengan baik dan belajar dengan rajin
Alhamdulillah, terapi itu cukup manjur.
Menjelang ujian evaluasi semester 2, Indra menunjukkan perbaikan kehidupan
akademik yang cukup signifikant. Seperti sebuah rekor yang terpecahkan, Indra datang ke sekolah hampir selama 2 pekan
berturut-turut dan tidak pernah membolos. Sungguh kebahagiaan yang tak tertera
dengan kata-kata. Aku optimis, anak itu akan mampu melewati ujian kehidupannya
kali ini
Mendung yang bergayut di langit menemani
hari pertama ujian akhir semester ke dua. Udara yang berat seakan menambah
beban ketika menyelesaikan soal-soal yang memusingkan kepala. Kondisi ujian
sebagaimana biasa. Tegang, riuh dan menghabiskan energi. Aku berharap Indra
akan datang hari itu, untuk mengikuti ujian. Aku khawatir jika semester ke dua
hancur, bisa-bisa ia tidak naik kelas. Padahal, aku sangat berharap perbaikan
yang sudah dicapai mampu dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Namun, entah
mengapa sampai semua ujian selesai sosok Indra belum juga kutemukan.
Hari-hari
berlalu dan ujian pun usai sudah. Dalam kelegaan melepas kepenatan, dalam
hatiku masih menyimpan sebuah tanda tanya besar. Ada apa dengan temanku Indra.
Apakah dia masih baik-baik saja. Hingga
kudengar berita yang sangat menghancurkan hati. Ternyata Indra telah lari
meninggalkan rumah bersama dengan pacarnya. Menurut salah seorang teman
sekampungnya, Indra pernah mencoba untuk kabur pada waktu sebelumnya, tetapi
berhasil digagalkan oleh kerabatnya. Karena hal tersebut, ia dipukuli
habis-habisan oleh kakaknya. Bahkan diseret mulai dari jalan raya hingga ke
dalam rumahnya. Tubuh Indra penuh luka dan babak belur. Pada kali yang lain,
Indra akhirnya betul-betul berhasil kabur. Ia memilih pacarnya itu dari pada
keluarga yang telah membesarkannya. Bisa jadi karena kecewa dan sakit hati
dengan perlakuan dari kakaknya. Yang tega memukuli dan menyeretnya di muka
umum. Maka tekad Indra pun kian bulat untuk lari bersama pacarnya
Hh....
ada yang sesak di hatiku mendengar
kisah itu. Sesuatu yang membumbung hingga di pelupukku. Memaksa arus air
mata yang coba untuk kubendung akhirnya meruah dan tumpah seketika. Aku sedih
dan merasa gagal. Kenapa Indra bodoh sekali?? Kenapa dia begitu buta dengan
cinta yang dipilihnya? Aku sedih kehilangan seorang teman yang kusayangi. Dan
aku tidak berada di sisinya ketika dia terpuruk. Aku gagal sebagai seorang
penanggung jawab kelas mengembalikan salah seorang generasi pelanjut bangsa
menyelesaikan pendidikannya.
Sebuah
pelajaran penting yang tertinggal dari seorang teman. Bertahun-tahun kupatri
dan kujadikan prasasti di hatiku. Sebuah bukti sejarah tentang cinta yang membutakan.
Dan menjadi peringatan bahwa hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah akan
menyebabkan penderitaan tanpa batas. Aku bertemu sesekali dengan Indra setelah
beberapa tahun, dan entah apa yang tersembunyi dari senyumnya. Seperti senyum Monalisa,
ekspresi itu begitu sulit ku eja. Entah dia bahagia.....entah dia
menyesal.....entah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar