Jumat, 26 Juli 2013

Cinta Itu Buta



 Cinta itu buta. Awalnya aku tak terlalu paham dengan kalimat tersebut. Mengapa cinta bisa menjadikan seseorang buta. Hingga tahi kucing disangka coklat. Padahal, antara tahi kucing dan silver queen adalah dua hal yang sangat berbeda. Apakah cinta memang sedasyat itu efeknya. Hingga dapat membutakan mata dan hati seseorang
Aku baru paham makna kalimat itu sampai aku berjumpa dengan seseorang. Sebut saja namanya indra. Meski namanya terdengar maskulin, percayalah dia seorang perempuan asli. Saat berkenalan dengannya, anak itu tak terlalu menarik perhatian. Sikapnya kalem dengan wajah yang cukup manis. Tidak terlalu menggambarkan hidup yang penuh riak gelombang. Sungguh, ia terlihat sangat biasa. Sehingga akupun tak terlalu memperhatikannya
Tapi ketika aku terpilih menjadi ketua kelas, tiba-tiba semua kesan itu berubah. Sebagai penanggung jawab kelas tentunya aku tahu tentang seluk beluk teman-temanku terkait dengan masalah akademik mereka. Dan si Indra temanku itu pasti menarik perhatian dan memusingkan ketua kelas manapun. Kenapa? Karena malasnya......minta ampun. Bayangkan, dalam satu bulan kegiatan belajar mengajar, paling banyak ia hadir selama satu pekan. Itu pun masih dipotong kalau ia datang terlambat atau membolos. Ia hampir tak pernah mencatat meski ke sekolah dengan tas tersandang di bahunya. Apalagi mengerjakan tugas. Ia lebih sering bergosip ria dengan temannya atau menggoda anak laki-laki di belakang bangkunya. Pokoknya....kacau....kacau dan kacau.
Aku tentu berkewajiban menangani masalah ini. Suatu hal yang tak sepele. Ini terkait dengan pencitraan kelas dan tindakan preventif terhadap anggota kelas yang lain. Ya...tahu sendiri khan. Perbuatan buruk itu mudah menular. Aku tidak mau anggota kelasku terjangkit penyakitnya si Indra itu
Akhirnya aku mencoba pendekatan persuasif. Menggali dan menelusuri ada apa dengan anak itu? Kenapa dia sampai bertindak demikian.  Ternyata Indra tengah terjebak dalam masalah yang serius. Ia bermasalah dengan keluarganya yang tidak merestusi hubungannya dengan seorang lelaki. Maka ia menunjukkan perlawanannya dengan merusak masa depannya sendiri. Aku pun penasaran dengan sosok lelaki yang dicintai oleh Indra. Sekeren dan setampan apakah lelaki yang membuat seorang perempuan begitu tergila-gila padanya. Karena dalam pandanganku Indra terlalu mencintai pacarnya itu. Sampai-sampai ia tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Lelaki yang dicintai oleh Indra itu ternyata seorang duda tanpa anak yang bercerai hidup dengan istrinya. Suka mabuk-mabukan. Hanya pendatang di sebuah kampung, sehingga asal usulnya tidak jelas. Tanpa pekerjaan, dan kesana kemari sebagai pengangguran. Masalah tampang, maaf, aku sampai kaget ketika Indra menunjukkan fotonya. Wajah itu sangat tidak bersahabat dengan sepasang mata yang kemerahan. Kalau begitu, orang tua mana sih yang bakal merestui? Wajar saja jika keluarga Indra, atas nama cinta mereka, tidak membiarkan Indra untuk meneruskan hubungannya dengan lelaki tersebut. Tapi begitulah, Indra telah dibutakan oleh cintanya. Hingga ia memilih untuk menyakiti keluarganya ketimbang meninggalkan laki-laki penggangguran itu.
Sebagai teman, aku berusaha untuk menyadarkannya. Mengingatkan bahwa apa yang dipilih dan tengah dijalaninya itu adalah sebuah kesalahan. Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti kedua orang tuanya demi seorang laki-laki yang baru saja dikenalnya. Bukankah keluarganya telah memberikan banyak hal. Sejak ia kecil hingga menjelang remaja. Kedua orang tuanya telah memberikan materi dan juga kasih sayang. Bahkan, menurut salah seorang teman sekampungnya, Indra tergolong sebagai anak manja. Karena terlalu bergelimangan cinta dan perhatian dari keluarganya.
Dapat dijelaskan kenapa Indra sampai berperilaku demikian, sebab mungkin selama ini permintaannnya tidak pernah ditolak. Indra selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Sampai-sampai keinginan yang aneh dan merusak pun ingin ia dapatkan. Di satu sisi, orang tuanya tidak akan berdiam diri melihat anaknya di ambang kehancuran. Indra adalah kesayangan mereka, tentu saja hanya hal-hal indah dan kebaikan yang mereka inginkan ada dalam hidup putri mereka itu. Mereka tidak akan pernah rela jika putri mereka menikah dengan seorang pengagguran yang tak jelas asal usulnya, juga pernah mengalami kegagalan dalam membina rumah tangga.
Ternyata masalah tersebut sangat pelik. Keluarga Indra betul-betul menerapkan sistem over protektif pada putri mereka. Sampai tindak-tindak kekerasan pun mulai dihalalkan. Indra sudah biasa dipukuli ataupun dihakimi oleh keluarganya di depan umum. Tetapi Indra tak pernah jera, ia betul-betul membalas perlakuan orang tuanya dengan merusak masa depannya sendiri
Acap kali dalam pembicaraan di sore hari, Indra terlihat begitu menyesali dirinya. Sembari menyeka air mata yang mengalir dari pipinya, dia sadar dan tahu bahwa sebenarnya keluarga melakukan hal tersebut karena sayang dan cinta kepadanya. Tapi di sisi lain, ia tetap bersikukuh mempertahankan cintanya kepada pacarnya itu. Dalam pengakuannya, Indra mengatakannya bahwa ia merasa hidupnya tak berarti tanpa lelaki tersebut. Sepertinya pada sosok Indra, kutemukan jawaban yang memahamkanku, bahwa cinta itu buta
Apapun masalahnya, tentu sebagai seorang ketua kelas misi utamaku adalah menormalkan kembali kehidupan akademik temanku ini. Aku sering menyadarkannya bahwa pendidikan adalah hal yang penting. Kita semakin tidak mampu membedakan mana kebaikan dan mana keburukan jika kita tidak bersekolah. Meski mungkin di kelas kita tidak diajarkan semua hal tentang kehidupan. Tapi minimal, dari sekolah kita mendapatkan sebuah kerangka pikir yang menjadi piranti untuk menganalisis tentang manfaat ataupun kerugian dari sebuah pilihan. Sekolah memang tidak menjamin masa depan. Namun minimal memberikan kita kesempatan yang lebih besar untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan
Khutbahku itu jadi terapi bagi Indra ketika baru duduk di bangkunya dan akan kuulangi lagi ketika istirahat. Kemudian menjelang pulang, aku akan menepuk lembut bahunya, menatapnya dalam, dan berseru lirih” kamu bisa, Insya Allah”. Kutambahi lagi terapi itu dengan sebuah ancaman bahwa jika ia tidak menunjukkan perbaikan dalam kegiatan akademik, maka aku mogok jadi temannya. Ya, seiring waktu ternyata aku dan Indra bisa jadi teman yang baik, saling melengkapi dan saling menguatkan. Aku bersyukur karena ia terlihat sangat menikmati dan menghargai pertemanan yang telah terjalin. Sehingga hal tersebut, dalam pandanganku, bisa jadi salah satu senjata untuk menggiringnya kembali ke jalan yang benar. Yaitu menjalani kehidupan sekolah dengan baik dan belajar dengan rajin
Alhamdulillah, terapi itu cukup manjur. Menjelang ujian evaluasi semester 2, Indra menunjukkan perbaikan kehidupan akademik yang cukup signifikant. Seperti sebuah rekor yang terpecahkan,  Indra datang ke sekolah hampir selama 2 pekan berturut-turut dan tidak pernah membolos. Sungguh kebahagiaan yang tak tertera dengan kata-kata. Aku optimis, anak itu akan mampu melewati ujian kehidupannya kali ini
Mendung yang bergayut di langit menemani hari pertama ujian akhir semester ke dua. Udara yang berat seakan menambah beban ketika menyelesaikan soal-soal yang memusingkan kepala. Kondisi ujian sebagaimana biasa. Tegang, riuh dan menghabiskan energi. Aku berharap Indra akan datang hari itu, untuk mengikuti ujian. Aku khawatir jika semester ke dua hancur, bisa-bisa ia tidak naik kelas. Padahal, aku sangat berharap perbaikan yang sudah dicapai mampu dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Namun, entah mengapa sampai semua ujian selesai sosok Indra belum juga kutemukan.
            Hari-hari berlalu dan ujian pun usai sudah. Dalam kelegaan melepas kepenatan, dalam hatiku masih menyimpan sebuah tanda tanya besar. Ada apa dengan temanku Indra. Apakah dia masih  baik-baik saja. Hingga kudengar berita yang sangat menghancurkan hati. Ternyata Indra telah lari meninggalkan rumah bersama dengan pacarnya. Menurut salah seorang teman sekampungnya, Indra pernah mencoba untuk kabur pada waktu sebelumnya, tetapi berhasil digagalkan oleh kerabatnya. Karena hal tersebut, ia dipukuli habis-habisan oleh kakaknya. Bahkan diseret mulai dari jalan raya hingga ke dalam rumahnya. Tubuh Indra penuh luka dan babak belur. Pada kali yang lain, Indra akhirnya betul-betul berhasil kabur. Ia memilih pacarnya itu dari pada keluarga yang telah membesarkannya. Bisa jadi karena kecewa dan sakit hati dengan perlakuan dari kakaknya. Yang tega memukuli dan menyeretnya di muka umum. Maka tekad Indra pun kian bulat untuk lari bersama pacarnya
            Hh.... ada yang sesak di hatiku mendengar   kisah itu. Sesuatu yang membumbung hingga di pelupukku. Memaksa arus air mata yang coba untuk kubendung akhirnya meruah dan tumpah seketika. Aku sedih dan merasa gagal. Kenapa Indra bodoh sekali?? Kenapa dia begitu buta dengan cinta yang dipilihnya? Aku sedih kehilangan seorang teman yang kusayangi. Dan aku tidak berada di sisinya ketika dia terpuruk. Aku gagal sebagai seorang penanggung jawab kelas mengembalikan salah seorang generasi pelanjut bangsa menyelesaikan pendidikannya.
            Sebuah pelajaran penting yang tertinggal dari seorang teman. Bertahun-tahun kupatri dan kujadikan prasasti di hatiku. Sebuah bukti sejarah tentang cinta yang membutakan. Dan menjadi peringatan bahwa hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah akan menyebabkan penderitaan tanpa batas. Aku bertemu sesekali dengan Indra setelah beberapa tahun, dan entah apa yang tersembunyi dari senyumnya. Seperti senyum Monalisa, ekspresi itu begitu sulit ku eja. Entah dia bahagia.....entah dia menyesal.....entah








Tidak ada komentar:

Posting Komentar