Jumat, 26 Juli 2013

Sekuntum Mawar Berduri



Siang yang cerah. Matahari bersinar terang. Memanaskan suasana di ruang itu. Ruang tempat beberapa perempuan berkumpul. Mereka tengah bermajelis. Pimpinannya seorang perempuan paru baya. Dengan wajah dan penampilan yang sederhana. Mereka biasa memanggilnya Ummi. Di sekelilingnya berkumpul empat belas perempuan yang lebih muda. Usia mereka hampir sebaya, sekitar dua puluhan
Empat perempuan di antara mereka sudah menikah tapi baru satu yang memiliki anak. Seorang anak laki-laki berusia 13 bulan yang juga ikut serta pada pertemuan itu. Satu orang masih hamil muda, baru berusia 2 bulan. Dua orang lainnya belum menunjukkan tanda kehamilan meski mereka cukup lama menikah. Sisanya, adalah jomblo-jomblo yang sibuk dengan berbagai aktifitas. Ada yang bekerja sebagai karyawati dan guru SD. Ada yang sibuk menyelesaikan kegiatan Koaas sebagai dokter muda dan perawat. Juga merampungkan kegiatan profesi apoteker. Yang lain masih menyelesaikan kuliah dan skripsi. Mereka semua adalah jomblo-jomblo bahagia yang berada pada usia layak nikah.
”Jangan pernah menyangka bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang selamanya indah” Kata Ummi sembari menatap tajam ke arah semua perempuan itu. Lekat dan dalam.
Yang ditatap menunduk dan tertegun. Pembahasan di majelis kali ini adalah tentang persiapan menikah.
”Saya juga tidak sepakat jika ada yang mengatakan bahwa menikah adalah solusi bagi setiap masalah. Sehingga kalau ada masalah, maka menikah adalah anjurannya. Karena menikah itu tidak mudah. Banyak hal yang harus dipersiapkan” Ummi menghela nafasnya sejenak, lalu melanjutkan nasehatnya
            ”Menikah itu menyatukan tidak hanya dua jiwa yang berbeda.Tapi juga dua keluarga besar. Jika kita menikah dengan seorang laki-laki, sesungguhnya kita juga menikah dengan keluarganya”
”Betul itu Ummi” Timpal salah seorang perempuan yang telah menikah
”Jika ada yang mengatakan menikah itu indah, ya memang benar, tetapi masih banyak hal yang belum terungkap. Pernikahan itu umpamanya sekuntum mawar berduri. Bunganya hanya sekuntum, tapi durinya sepanjang batang”
”Belum lagi jika kita terjebak dalam ketaksepahaman dengan suami. Kita maunya begini, suami maunya begitu. ”Contoh kongkrit ketika menididk anak”
”Kita sudah membaiasakan anak kita untuk tidak makan mi instan ataupun cemilan instant lainnya, tapi abinya justru mencontohkan itu langsung pada anaknya
”dipikir mudah apa mendidik anak kecil satu kesalahan saja akan merusak pengkondisian yang telah dibangun berwaktu-waktu lamanya”
”Trus apa dong ummi yang harus kita lakukan kalau terjadi seperti itu, menghadapi suami yang sulit dinasehati”
”Ya....itulah yang penting dari pernikahan. Kesabaran dan kebijaksanaan. Jika sebelum menikah kita punya kesabaran dalam skala 7, maka ketika menikah kesabaran itu harus mencapai skala 9 atau lebih. Baru kehidupan perkawinan kita bisa berjalan. Kalu tidak...ya, seperti yang kita saksikan bersama. Banyak pernikahan yang akhirnya berujung pada perceraian”
”Satu hal lagi yang sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan perempuan, mengalah dan diam. Kalau suami bersalah, peringatkan dalam batas yang wajar. Jika ia ngotot dengan suatu hal, yang dalam pandangan kita itu salah. Ya, kita mengalah, sekiranya usaha untuk memperingatkan itu telah kita lakukan. Meski rasanya pasti sangat sulit. Nah, saat dia telah menyaksikan langsung kebenaran pendapat kita, maka saat itulah kita bisa masuk untuk menasehatinya. Tapi ingat dalam batas yang wajar. Jangan pernah terkesan menggurui dan membuatnya terpuruk. Laki-laki paling tidak suka dikalahkan, lebih-lebih oleh istrinya”
”Kok gitu sih Ummi, nggak adil dong, dan sulit sekali jadi perempuan”
”Inilah alasannya mengapa ketika kita menikah niat itu harus karena Allah, karena kita betul-betul akan mendapatkan ujian. Jika niat kita ikhlas karena Allah, maka kita kan saling berlomba dalam kebaikan. Tak peduli sipa yang paling hebat. Yang jelas prinsip yang selalu kita pegang, siap yang melakukan kebaikan pasti mendaptkan kebaikan pula”
”hh....ternyata menikah itu menakutkan” seorang merempuan mendesah perlahan  
”Oh...tidak juga, Hal tersebut dituturkan kepada kita bukan untuk menjadi momok. Sehingga memilih menjadi jomblo abadi. Tapi ini ibaratnya memberikan gambaran medan kepada kita semua bahwa pernikahan bukanlah hal yang mudah. Banyak perempuan yang kebelet sekali menikah sampai-sampai mungkin melakukan hal-hal tercela. Bahkan rela mengorbankan harga diri mereka di hadapan lelaki. Kita harus yakin bahwa segala sesuatu itu telah ditakdirkan. Pernikahan sama seperti  mawar berduri. Yang akan mekar ketika waktunya tiba. Namun semoga pernikahan itu bukanlah cinta semusim, namun cinta yang kekal hingga ke akhirat kelak”
”Banyak-banyak mempersiapkan diri, jangan Cuma fisik semata tapi juga psikis. Jadilah perempuan yang lebih dewasa. Mengalah itu tak mudah. Namun mengalah tak berarti kalah. Acap kali dengan mengalah kita bisa memenangkan sebuah pertarungan, tanpa terlihat, tanpa terdengar. Seharusnya seperti itulah gaya seorang perempuan ketika menaklukan suaminya”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar