Siang yang cerah. Matahari bersinar
terang. Memanaskan suasana di ruang itu. Ruang tempat beberapa perempuan
berkumpul. Mereka tengah bermajelis. Pimpinannya seorang perempuan paru baya.
Dengan wajah dan penampilan yang sederhana. Mereka biasa memanggilnya Ummi. Di
sekelilingnya berkumpul empat belas perempuan yang lebih muda. Usia mereka
hampir sebaya, sekitar dua puluhan
Empat perempuan di antara mereka sudah
menikah tapi baru satu yang memiliki anak. Seorang anak laki-laki berusia 13
bulan yang juga ikut serta pada pertemuan itu. Satu orang masih hamil muda,
baru berusia 2 bulan. Dua orang lainnya belum menunjukkan tanda kehamilan meski
mereka cukup lama menikah. Sisanya, adalah jomblo-jomblo yang sibuk dengan
berbagai aktifitas. Ada yang bekerja sebagai karyawati dan guru SD. Ada yang
sibuk menyelesaikan kegiatan Koaas sebagai dokter muda dan perawat. Juga
merampungkan kegiatan profesi apoteker. Yang lain masih menyelesaikan kuliah
dan skripsi. Mereka semua adalah jomblo-jomblo bahagia yang berada pada usia
layak nikah.
”Jangan pernah menyangka bahwa pernikahan
itu adalah sesuatu yang selamanya indah” Kata Ummi sembari menatap tajam ke
arah semua perempuan itu. Lekat dan dalam.
Yang ditatap menunduk dan tertegun.
Pembahasan di majelis kali ini adalah tentang persiapan menikah.
”Saya juga tidak sepakat jika ada yang
mengatakan bahwa menikah adalah solusi bagi setiap masalah. Sehingga kalau ada
masalah, maka menikah adalah anjurannya. Karena menikah itu tidak mudah. Banyak
hal yang harus dipersiapkan” Ummi menghela nafasnya sejenak, lalu melanjutkan
nasehatnya
”Menikah itu menyatukan tidak hanya
dua jiwa yang berbeda.Tapi juga dua keluarga besar. Jika kita menikah dengan
seorang laki-laki, sesungguhnya kita juga menikah dengan keluarganya”
”Betul itu Ummi” Timpal salah seorang
perempuan yang telah menikah
”Jika ada yang mengatakan menikah itu indah, ya
memang benar, tetapi masih banyak hal yang belum terungkap. Pernikahan itu
umpamanya sekuntum mawar berduri. Bunganya hanya sekuntum, tapi durinya
sepanjang batang”
”Belum lagi jika kita terjebak dalam
ketaksepahaman dengan suami. Kita maunya begini, suami maunya begitu. ”Contoh
kongkrit ketika menididk anak”
”Kita sudah membaiasakan anak kita untuk
tidak makan mi instan ataupun cemilan instant lainnya, tapi abinya justru mencontohkan
itu langsung pada anaknya
”dipikir mudah apa mendidik anak kecil satu
kesalahan saja akan merusak pengkondisian yang telah dibangun berwaktu-waktu
lamanya”
”Trus apa dong ummi yang harus kita
lakukan kalau terjadi seperti itu, menghadapi suami yang sulit dinasehati”
”Ya....itulah yang penting dari
pernikahan. Kesabaran dan kebijaksanaan. Jika sebelum menikah kita punya
kesabaran dalam skala 7, maka ketika menikah kesabaran itu harus mencapai skala
9 atau lebih. Baru kehidupan perkawinan kita bisa berjalan. Kalu tidak...ya,
seperti yang kita saksikan bersama. Banyak pernikahan yang akhirnya berujung
pada perceraian”
”Satu hal lagi yang sulit untuk dilakukan
oleh kebanyakan perempuan, mengalah dan diam. Kalau suami bersalah, peringatkan
dalam batas yang wajar. Jika ia ngotot dengan suatu hal, yang dalam pandangan
kita itu salah. Ya, kita mengalah, sekiranya usaha untuk memperingatkan itu
telah kita lakukan. Meski rasanya pasti sangat sulit. Nah, saat dia telah
menyaksikan langsung kebenaran pendapat kita, maka saat itulah kita bisa masuk
untuk menasehatinya. Tapi ingat dalam batas yang wajar. Jangan pernah terkesan
menggurui dan membuatnya terpuruk. Laki-laki paling tidak suka dikalahkan,
lebih-lebih oleh istrinya”
”Kok gitu sih Ummi, nggak adil dong, dan
sulit sekali jadi perempuan”
”Inilah alasannya mengapa ketika kita
menikah niat itu harus karena Allah, karena kita betul-betul akan mendapatkan
ujian. Jika niat kita ikhlas karena Allah, maka kita kan saling berlomba dalam
kebaikan. Tak peduli sipa yang paling hebat. Yang jelas prinsip yang selalu
kita pegang, siap yang melakukan kebaikan pasti mendaptkan kebaikan pula”
”hh....ternyata menikah itu menakutkan”
seorang merempuan mendesah perlahan
”Oh...tidak juga, Hal tersebut dituturkan
kepada kita bukan untuk menjadi momok. Sehingga memilih menjadi jomblo abadi.
Tapi ini ibaratnya memberikan gambaran medan kepada kita semua bahwa pernikahan
bukanlah hal yang mudah. Banyak perempuan yang kebelet sekali menikah
sampai-sampai mungkin melakukan hal-hal tercela. Bahkan rela mengorbankan harga
diri mereka di hadapan lelaki. Kita harus yakin bahwa segala sesuatu itu telah
ditakdirkan. Pernikahan sama seperti
mawar berduri. Yang akan mekar ketika waktunya tiba. Namun semoga
pernikahan itu bukanlah cinta semusim, namun cinta yang kekal hingga ke akhirat
kelak”
”Banyak-banyak mempersiapkan diri, jangan
Cuma fisik semata tapi juga psikis. Jadilah perempuan yang lebih dewasa.
Mengalah itu tak mudah. Namun mengalah tak berarti kalah. Acap kali dengan
mengalah kita bisa memenangkan sebuah pertarungan, tanpa terlihat, tanpa
terdengar. Seharusnya seperti itulah gaya seorang perempuan ketika menaklukan
suaminya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar