Jumat, 26 Juli 2013

Cinta Tapi Benci



Mataku tak mampu berpaling. Ketika tatapnya tertumbuk pada satu wajah. Lebam dan biru pada beberapa bagian terlihat begitu jelas. Seperti habis terkena benda tumpul dan pukulan tanpa belas kasih. Yang lebih-lebih mengherankan pemilik wajah itu akan seminar proposal skripsi pada hari ini. Tentu saja lebam dan biru bukan riasan yang tepat untuk seminar. Meski telah ditutupi dengan kaca mata lebar, bekas itu terlalu jelas dan menyisakan tanya bagi setiap orang yang memandangnya.
”Hai ka...bagaimana persiapannya....penguji dan pembimbingmu sudah dihubungi? Anakmu mana?” Tanyaku menyapa
”Saya sudah menghubungi pembimbing dan penguji saya kak, Insya Allah mereka akan datang. Cuma mungkin agak telat. Anak saya dititip di rumah tantenya suami” jawabnya lembut dan sendu
”Ka...itu....” kuberanikan diri untuk bertanya sembari menatap wajahnya yang biru dan lebam
”Mmmmm....mmmm....”dia menunduk tak menjawab pertanyaanku
Segera kutuntun tangannya keluar ruangan mencari pojok yang sunyi. Dia menurutiku, dan kamipun terdampar di sebuah bangku dekat pohon mangga
”Saya sudah tidak tahan lagi kak....hu.....”tangisnya tumpah beberapa waktu ketika kami sudah duduk di bangku itu
”siapa yang melakukan itu padamu dek?” Tanyaku dengan rasa geram
”Suami....kak....suamiku...” tuturnya lirih
”Suamimu dek....tapi...kenapa dia bisa melakukan itu padamu...? Bagaimana bisa...kaukan istrinya” Tanyaku dengan rasa gemas
”Itulah kak, saya juga tidak mengerti....dia bisa baik dan bisa jahat dalam waktu yang berdekatan. Kesalahan-kesalahan kecil yang saya lakukan bisa saja memicu amarahnya Dan dia tidak segan-segan main tangan” Tangisnya yang tadi meruah semakin menderas. Air mata itu bersanding dengan biru lebam di sudut mata dan bibirnya
”Apa pekerjaan suamimu de? Tanyaku menyelidik
”Polisi kak” Jawabnya sembari memainkan ujung kemejanya
”hhh...polisi lagi...bagaimana bisa dia melakukan penganiayaan pada istrinya. Itu perbuatan melanggar hukum” Kataku dengan nada penuh kebencian
Dengan nada sendu, dia pun melanjutkan tuturnya ”Bukan sekali ini kak saya dihajar olehnya....sering sekali....bahkan pernah saya dipukuli habis-habisan dan diseret dari ruang tamu ke kamar tidur”
Dengan tatap penuh tanya aku berkata padanya ”Apa kau tidak melapor perbuatan suamimu de...kau harus melapor. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu bagaimana?
Sambil menyeka air matnaya dia menjawab ”Saya tidak ingin memberitahukan keluarga saya kakak, mereka sudah terlalu banyak saya susahkan. Saya tak ingin mereka menjadi sedih melihat keadaan saya. Cukup saya sendiri yang menanggung dan mengatasi masalah ini”
”Lalu keluarga suamimu bagaimana? Apa kau pernah memberitahu meraka tentang kelakuan suamimu itu” Tanyaku menyelidik
”Sudah kak, sering malah, tapi mereka acuh tak acuh. Karena bagi mereka, sifat suami saya memang seperti itu. Tidak bisa diubah. Temperamen dan pemarah”
”De...apa kau tidak tahu sifat suamimu sebelumnya?”
”Tidak kak...ketika pacaran dia adalah laki-laki baik. Makanya ketika dia serius mau melamar saya, orang tua langsung menyetujui
”Saya malu pada orang tua saya kak, karena mereka telah memberikan saya banyak hal sejak kami menikah. Rumah, perabotan, uang. Tapi saya tidak tahu kenapa suami saya justru bersikap kurang ajar pada orang tua saya. Dia sering menjelek-jelekkan Bapak saya”
”Tapi bagaimanapun mereka akhirnya kan tahu. Khan tidak baik jika mereka tahunya justru dari orang lain”
”Entahlah kak...saya juga tidak paham dengan suami saya”
”Apa kau masih....suka padanya”
”Entah kak...meski saya benci padanya...tapi jujur kak, saya suka...suka dan cinta kepadanya”
”Biasa setelah selesai memukuli saya dia akan datang dan mengobati lebam-lebam itu dan mengajak saya untuk makan dan tidur bersama. Dia menjelma menjadi sosok yang pernah saya kenal dulu sebelum menikah”
”Bagaimana mungkin kau bisa makan dan tidur dengannya, padahal kau baru saja dipukuli habis-habisan??
”Saya tidak tahu kak....saya tidak paham dengan diriku dan juga suamiku”
”Apa suamimu sering berbuat seperti itu padamu. Jangan-jangan dia berkepribadian ganda dan punya masalah kejiwaan. Mungkin dia orang yang posesif”
”Memang dulu saya hampir menolak pinangannya kak, karena saya merasa belum siap untuk menikah. Tapi orang tua karena melihat pekerjaannya, langsung menyetujui ketika dia datang melamar. Saya kurang tahu jika dia mendendam pada saya lantaran penolakan saya itu”
”Sampai kapan kau mau begini de, kau harus memutuskan. Maaf de, saya tidak bermaksud ikut campur. Tetapi sebagai sesama perempuan saya tidak rela kau diperlakukan seperti itu. Apa hak nya berbuat jahat kepadamu. Memangnya kau boneka. Dipeluk ketika diinginkan dan dihajar ketika marah lalu dicampakkan ketika bosan. Kau itu istrinya yang seharusnya dia cintai. Apalagi kalian sudah memilki anak.
”Makanya kak, saya harus cepat selesai. Saya harus mandiri. Saya ingin cerai. Saya hanya memikirkan putri saya. Kalau saya bercerai, saya harus punya penopang untuk membesarkan anak saya. Dan saya tak ingin menyusahkan orang tua saya lagi”
”Sebenarnya hati saya sudah berdarah-darah dan terluka. Selama ini saya mencoba bertahan demi anak saya. Bagaimanapun dia pasti membutuhkan ayahnya. Yang membuat saya sakit hati, suami saya sering memukuli dan menghajar saya di depan anaknya. Sampai anaknya menangis ketakutan”
”De,  mungkin kau suka melawan atau banyak bicara di depan suamimu ya? Laki-laki biasanya tidak suka dikasih begitu. Coba instropeksi dirimu dulu de
”Tidak kak, saya betul-betul berusaha menjadi istri yang baik. Saya tidak berani melawan suami karena orang tua saya mengajarkan saya untuk selalu menghormati orang lain. Saya bahkan tak habis pikir, kesalahan apa dalam tutur kataku hingga membuatnya sampai tega memukulku. Dalam penilaian saya, perkataanku wajar-wajar saja kak, dan sebisa mungkin saya merndahkan diri di hadapannya”
”Hhhh lalu bagaimana dengan hidupmu selanjutnya....kau harus melapor de. Kepada siapun itu. Jadi, kalau terjadi apa-apa padamu maka orang akan tahu siapa yang harus dimintai pertanggung jawaban”
”Kamu sabar ya de..mungkin ini ujian untukmu. Semoga kesabaranmu ditambahkan oleh Allah. Sering-sering berdo’a untuk suamimu. Bukankah Allah yang membolak-balikkan hati manusia
”Itulah juga kesalahanku kak, suamiku adalah orang yang tidak pernah sholat. Bahkan ketika saya sholat dia menertawainya. Ketika saya berdo’a dia mencibir dan mengejek. Mengatakan bahwa do’a tidak akan bisa menolong saya. Itu juga yang memantapkan saya untuk bercerai”
”De..pikirkanlah jalan yang terbaik. Bagaimanapun itu jangan pernah jauh dari Allah. Minta petunjuk dan pertolonganNya. Semoga semua masalahmu diberikan jalan keluar:
”Terima kasih kak...mmm...sepertinya hampir jam sepuluh. Saya mau mempersiapkan diri untuk presentasi kak. Mau belajar baik-baik”
”Pergilah...kau harus jadi perempuan yang sabar dan kuat. Semoga selalu dijaga
”Iya kak, mari, assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumussalam...”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar