Mataku tak mampu berpaling. Ketika
tatapnya tertumbuk pada satu wajah. Lebam dan biru pada beberapa bagian
terlihat begitu jelas. Seperti habis terkena benda tumpul dan pukulan tanpa
belas kasih. Yang lebih-lebih mengherankan pemilik wajah itu akan seminar
proposal skripsi pada hari ini. Tentu saja lebam dan biru bukan riasan yang
tepat untuk seminar. Meski telah ditutupi dengan kaca mata lebar, bekas itu
terlalu jelas dan menyisakan tanya bagi setiap orang yang memandangnya.
”Hai ka...bagaimana persiapannya....penguji dan
pembimbingmu sudah dihubungi? Anakmu mana?” Tanyaku menyapa
”Saya sudah menghubungi pembimbing dan penguji
saya kak, Insya Allah mereka akan datang. Cuma mungkin agak telat. Anak saya
dititip di rumah tantenya suami” jawabnya lembut dan sendu
”Ka...itu....” kuberanikan diri untuk bertanya
sembari menatap wajahnya yang biru dan lebam
”Mmmmm....mmmm....”dia menunduk tak menjawab
pertanyaanku
Segera kutuntun tangannya keluar ruangan mencari
pojok yang sunyi. Dia menurutiku, dan kamipun terdampar di sebuah bangku dekat
pohon mangga
”Saya sudah tidak tahan lagi
kak....hu.....”tangisnya tumpah beberapa waktu ketika kami sudah duduk di
bangku itu
”siapa yang melakukan itu padamu dek?” Tanyaku
dengan rasa geram
”Suami....kak....suamiku...” tuturnya lirih
”Suamimu dek....tapi...kenapa dia bisa melakukan
itu padamu...? Bagaimana bisa...kaukan istrinya” Tanyaku dengan rasa gemas
”Itulah kak, saya juga tidak mengerti....dia bisa
baik dan bisa jahat dalam waktu yang berdekatan. Kesalahan-kesalahan kecil yang
saya lakukan bisa saja memicu amarahnya Dan dia tidak segan-segan main tangan”
Tangisnya yang tadi meruah semakin menderas. Air mata itu bersanding dengan
biru lebam di sudut mata dan bibirnya
”Apa pekerjaan suamimu de? Tanyaku menyelidik
”Polisi kak” Jawabnya sembari memainkan ujung
kemejanya
”hhh...polisi lagi...bagaimana bisa dia melakukan penganiayaan
pada istrinya. Itu perbuatan melanggar hukum” Kataku dengan nada penuh
kebencian
Dengan nada sendu, dia pun melanjutkan tuturnya ”Bukan
sekali ini kak saya dihajar olehnya....sering sekali....bahkan pernah saya
dipukuli habis-habisan dan diseret dari ruang tamu ke kamar tidur”
Dengan tatap penuh tanya aku berkata padanya ”Apa
kau tidak melapor perbuatan suamimu de...kau harus melapor. Kalau sampai
terjadi apa-apa denganmu bagaimana?
Sambil menyeka air matnaya dia menjawab ”Saya
tidak ingin memberitahukan keluarga saya kakak, mereka sudah terlalu banyak
saya susahkan. Saya tak ingin mereka menjadi sedih melihat keadaan saya. Cukup
saya sendiri yang menanggung dan mengatasi masalah ini”
”Lalu keluarga suamimu bagaimana? Apa kau pernah
memberitahu meraka tentang kelakuan suamimu itu” Tanyaku menyelidik
”Sudah kak, sering malah, tapi mereka acuh tak
acuh. Karena bagi mereka, sifat suami saya memang seperti itu. Tidak bisa
diubah. Temperamen dan pemarah”
”De...apa kau tidak tahu sifat suamimu sebelumnya?”
”Tidak kak...ketika pacaran dia adalah laki-laki
baik. Makanya ketika dia serius mau melamar saya, orang tua langsung menyetujui
”Saya malu pada orang tua saya kak, karena mereka
telah memberikan saya banyak hal sejak kami menikah. Rumah, perabotan, uang.
Tapi saya tidak tahu kenapa suami saya justru bersikap kurang ajar pada orang
tua saya. Dia sering menjelek-jelekkan Bapak saya”
”Tapi bagaimanapun mereka akhirnya kan tahu. Khan tidak baik jika mereka tahunya justru dari orang lain”
”Tapi bagaimanapun mereka akhirnya kan tahu. Khan tidak baik jika mereka tahunya justru dari orang lain”
”Entahlah kak...saya juga tidak paham dengan suami
saya”
”Apa kau masih....suka padanya”
”Entah kak...meski saya benci padanya...tapi jujur
kak, saya suka...suka dan cinta kepadanya”
”Biasa setelah selesai memukuli saya dia akan
datang dan mengobati lebam-lebam itu dan mengajak saya untuk makan dan tidur
bersama. Dia menjelma menjadi sosok yang pernah saya kenal dulu sebelum
menikah”
”Bagaimana mungkin kau bisa makan dan tidur
dengannya, padahal kau baru saja dipukuli habis-habisan??
”Saya tidak tahu kak....saya tidak paham dengan
diriku dan juga suamiku”
”Apa suamimu sering berbuat seperti itu padamu.
Jangan-jangan dia berkepribadian ganda dan punya masalah kejiwaan. Mungkin dia
orang yang posesif”
”Memang dulu saya hampir menolak pinangannya kak,
karena saya merasa belum siap untuk menikah. Tapi orang tua karena melihat
pekerjaannya, langsung menyetujui ketika dia datang melamar. Saya kurang tahu
jika dia mendendam pada saya lantaran penolakan saya itu”
”Sampai kapan kau mau begini de, kau harus
memutuskan. Maaf de, saya tidak bermaksud ikut campur. Tetapi sebagai sesama
perempuan saya tidak rela kau diperlakukan seperti itu. Apa hak nya berbuat
jahat kepadamu. Memangnya kau boneka. Dipeluk ketika diinginkan dan dihajar
ketika marah lalu dicampakkan ketika bosan. Kau itu istrinya yang seharusnya
dia cintai. Apalagi kalian sudah memilki anak.
”Makanya kak, saya harus cepat selesai. Saya harus
mandiri. Saya ingin cerai. Saya hanya memikirkan putri saya. Kalau saya
bercerai, saya harus punya penopang untuk membesarkan anak saya. Dan saya tak
ingin menyusahkan orang tua saya lagi”
”Sebenarnya hati saya sudah berdarah-darah dan
terluka. Selama ini saya mencoba bertahan demi anak saya. Bagaimanapun dia
pasti membutuhkan ayahnya. Yang membuat saya sakit hati, suami saya sering
memukuli dan menghajar saya di depan anaknya. Sampai anaknya menangis ketakutan”
”De, mungkin kau suka melawan atau banyak bicara di
depan suamimu ya? Laki-laki biasanya tidak suka dikasih begitu. Coba
instropeksi dirimu dulu de
”Tidak kak, saya betul-betul berusaha menjadi
istri yang baik. Saya tidak berani melawan suami karena orang tua saya
mengajarkan saya untuk selalu menghormati orang lain. Saya bahkan tak habis
pikir, kesalahan apa dalam tutur kataku hingga membuatnya sampai tega
memukulku. Dalam penilaian saya, perkataanku wajar-wajar saja kak, dan sebisa
mungkin saya merndahkan diri di hadapannya”
”Hhhh lalu bagaimana dengan hidupmu
selanjutnya....kau harus melapor de. Kepada siapun itu. Jadi, kalau terjadi
apa-apa padamu maka orang akan tahu siapa yang harus dimintai pertanggung
jawaban”
”Kamu sabar ya de..mungkin ini ujian untukmu.
Semoga kesabaranmu ditambahkan oleh Allah. Sering-sering berdo’a untuk suamimu.
Bukankah Allah yang membolak-balikkan hati manusia
”Itulah juga kesalahanku kak, suamiku adalah orang
yang tidak pernah sholat. Bahkan ketika saya sholat dia menertawainya. Ketika
saya berdo’a dia mencibir dan mengejek. Mengatakan bahwa do’a tidak akan bisa
menolong saya. Itu juga yang memantapkan saya untuk bercerai”
”De..pikirkanlah jalan yang terbaik. Bagaimanapun
itu jangan pernah jauh dari Allah. Minta petunjuk dan pertolonganNya. Semoga
semua masalahmu diberikan jalan keluar:
”Terima kasih kak...mmm...sepertinya hampir jam
sepuluh. Saya mau mempersiapkan diri untuk presentasi kak. Mau belajar baik-baik”
”Pergilah...kau harus jadi perempuan yang sabar
dan kuat. Semoga selalu dijaga
”Iya kak, mari, assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumussalam...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar