Padamu pagi kuucap salam
Seperti mentari yang menyapa dengan hangat
Seperti embun yang tersenyum dengan silau
Seperti angin yang berlalu dengan syahdu
Padamu pagi kuucap rindu
Seperti riuh di pucuk menghijau
Seperti sejuk yang mendekap lembut
Seperti haru yang tertahan oleh senyum
Pagi,
Antara diriku dan engkau
Ada kisah yang terbelenggu
Terperangkap dalam kabut
Dan tak pernah meluntur
Meski
Musim telah beradius jauh
Aroma pinus telah tertinggal di tengah gunung
Pun canda telah patah di padang tebu
Juga sendu yang hilang di kebun jagung
Pagiku, rindu selalu ada untukmu
Sebab cintaku pernah membuncah di sebuah pagi
Aku mengenal sosoknya, tatkala jasad ini
berada nun jauh di pegunungan. Tempat yang dipagari oleh bukit-bukit kecoklatan.
Tanahnya merah berhias kerikil cadas. Hamparan tebu sejauh mata memandang. Dan
pohon pinus berbaris di tepi sungai berkelok. Ladang jagung seakan menjadi
saksi ketika hari itu aku menyapanya
Sosoknya jelita. Tuturnya santun dan
memikat. Pribadinya pun supel dan mudah untuk berteman dengan orang lain. Sulit
untuk dipercaya bahwa hingga saat itu ia masih menjomblo. Ketika usianya hampir
mencapai empat puluh tahun.
Ketika ketidakpercayaanku kututurkan
kepadanya dia hanya tersenyum sembari berkata ”tak ada hidup yang sempurna,
karena kesempurnaan itu hanya milik yang kuasa”. Ya memang kusadari hal itu,
tapi untuk sosok yang satu ini aku betul-betul kembali tertampar oleh kenyataan
Aku memanggilnya kak Ica, sosok yang
kukenal ketika aku melaksanakan kegiatan KKN di sebuah daerah pedalaman. Sejak
pertemuan di ladang jagung, aku dan kak ica menjadi teman yang suka berbagi
segala hal. Termasuk tentang hidup kami masing-masing
Di sebuah sore yang berlatar mendung, kak
ica mengeluh kepalanya sakit. Aku pun memijat lembut dahinya sembari menatap
wajahnya yang masih terlihat menarik di usianya sekarang. Kak Ica memang pandai
merawat diri.
Perlahan kuberanikan diri untuk bertanya
”Kak, saya mau bertanya nih. Tapi jangan marah ya...karena sungguh pertanyaan
ini membuat saya penasaran?
Kak Ica tersenyum sambil menahan rasa sakitnya
”Tanya apa....silakan, kenapa harus marah...?
”Karena mungkin pertanyaan saya agak
menyinggung privasi kakak, tapi sungguh saya hanya ingin mencari hikmah. Siapa
tahu ada pelajaran yang bisa saya ambil untuk hidup saya
Ya...silakan...kakak tak akan
marah....lagi pula kalau adik yang bertanya siapa sih yang bisa marah ”katanya
sambil tersenyum menggoda
”Kak...sebenarnya saya masih penasaran dengan
kehidupan kakak?
”Kehidupanku...kenapa? Perasaan ...saya ini cuma
orang biasa kok, bukan artis”
”Ih..kakak, maksudku, terus terang dalam
pandanganku kakak itu seperti seorang perempuan sempurna. Cantik, baik, pintar
masak lagi. Mana mungkin tak ada seorang lelaki pun yang tertarik pada kakak
dan berniat untuk menikah. Maaf lo kak, kalau pertanyaannya menghujam
”Ah, tidak apa-apa kok....ya seperti yang pernah
kakak bilang tak ada hidup yang sempurna. Pun sosok kakak yang sekarang kau
kenal, hanyalah manusia juga yang tengah diuji kesabarannya dalam menjalani
kehidupan.”Kau benar dengan segala rasa penasaranmu itu. Karena bagaimanapun
seorang perempuan yang terus menerus menjomblo pasti telah terjadi dengan dirinya. Mungkin sebagian
karena patah hati. Tapi percayalah kakak bukan yang seperti itu, kakak jadi
jomblo karena memilihnya secara sadar...hhhhhh...”
”Jadi jomblo khan ga enak kak, kita pasti paham
maksudku. Cibiran orang, kesepian dan juga ketidaksempurnaan hidup sebagai
seorang perempuan. Bagaimana mungkin kakak bisa menjadikannya sebagai pilihan
”hmmmm....ya....tentu...kamu benar...kakak pun
tahu dan merasakan hal-hal yang kau sebutkan tadi. Tetapi ada hal lain yang
membuat kakak akhirnya memilih untuk menjadi jomblo
”Alasan apa itu kak...sedemikian penting hingga
kakak rela mengorbankan diri kakak seperti ini?
”Iya dik...hal yang sangat penting....Itu adalah....cinta”
”Cinta....maksudnya cinta kepada siapa ....dan
yang seperti apa”
”ah...kakak memang belum menyambungkan penggalan-penggalan
fakta kehidupan kakak kepadamu. Baiklah...sekarang kakak akan menuturkannya padamu.
Kaka adalah anak pertama dari banyak saudara, dua belas orang. Kau tahu sendiri
khan, si hale, si anti dan saudara-saudara kakak yang lain itu. Mereka hadir
dan tumbuh dalam jarak yang cukup rapat. Sejak kecil kakak sudah terkondisikan
untuk membantu ibu merawat mereka. Keluarga kami hanyalah petani miskin. Tentu
saja untuk menghidupi sebuah keluarga besar adalah hal yang berat untuk Bapak.
Dan kesulitan itu kian bertambah ketika kelas lima SD ibu kakak meninggal. Maka
otomatis semua beban untuk merawat dan mengasuh adik-adik jatuh ke pundak
kakak. Ibarat jatuh tertimpa tangga, tak lama setelah kematian ibu, Bapak jadi
sakit-sakitan, tak kuat bekerja berat. Maka ekonomi keluarga kami pun menjadi
lebih sulit. Mau tidak mau sebagai anak sulung, beban itu pun harus kakak
pikul. Bekerja di sawah demi membantu Bapak dan menghidupi keluarga kami.
”Demikianlah pekerjaan itu kakak jalani. Kau tahu
sendiri kalau jadi petani di kampung ini hasilnya tidak banyak. Untuk makan pun
masih kurang. Maka ketika berusia 17 tahun kakak merantau ke Malaysia. Mencari
nafkah demi keluarga. Bertahun-tahun di Malaysia, Alhamdulillah hasilnya cukup
untuk menghidupi keluarga. Karena itu kakak jadi semangat menjalani hidup
sebagai TKW. Meski tentu saja itu adalah hal yang berat
”Saat itu pula ujian yang teramat sulit menimpa
kakak. Ketika di Malaysia kakak bertemu dengan seorang lelaki, dan dia serius
melamar kakak. Hingga dia betul-betul pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan
Bapak. Ketika pernikahan itu hampir berlangsung, ada hal yang membuat kakak
memilih hidup seperti sekarang ini. Ternyata laki-laki itu meminta kakak untuk
tinggal bersamanya dan meninggalkan keluarga. Hal itu wajar tentunya bagi
setiap istri. Tapi kakak tidak bisa melakukan hal itu. Siapa yang akan mengurus
Bapak. Siapa yang akan mengurus adik-adikku, Basri, hale, anti dan
lainnya. Dan tentu saja setiap
lelaki pasti berpikir untuk menikahi perempuan yang punya keluarga besar seperti
kakak. Bebannya terlalu banyak. Jadi satu-satunya cara adalah memisahkan sang
istri dengan keluarganya
’Kakak memang mencintai lelaki
itu...sangat...tetapi kakak tentu saja lebih memilih Bapak dan adik-adikku.
Lelaki itu mungkin tetap bisa hidup dan menjalani kehidupannya tanpa kakak,
tetapi Bapak, Basri, Hale, Anti dan adik-adikku yang lain akan
terengah-terengah jika kakak tak ada bersama mereka
”Jadi....
”Jadi kuputuskan untk membatalkan perkawinan itu”
”Jadi kuputuskan untk membatalkan perkawinan itu”
”terus....
”Terus.....aku memilih menjadi jomblo
abadi....karena aku harus terus menghidupi bapak dan adik-adikku. Maka setelah
kejadian itu akupun merantau ke Arab Saudi. Bertahun-tahun lamanya, dan baru
kembali beberapa waktu yang lalu itu”
’Kakak tidak pernah rindu untuk menikah?
”Tentu saja pernah, kakak pun perempuan normal
yang mendambakan kehidupan yang normal. Tapi kakak terlanjur trauma dengan
laki-laki. Kau tahu, karena gagal menikahiku lelaki yang pernah kucintai itu
menikah dengan sahabatku yang juga sepupuku. Karena hal itu juga yang membuatku
tak sanggup berada di kampung ini selama bertahun-tahun hingga....” Kalimatnya
menggantung
”Hingga apa...”
”Hingga mereka bercerai...ternyata lelaki itu pun
tak tahan tinggal di kampung ini. Istrinya pun tak mau di ajak untuk tinggal di
tempat lain. Seperti kakak, perempuan itu juga sangat mencintai keluarganya. Ia
tak bisa berpisah dengan mereka. Dia memilih berpisah dengan suaminya”
”Hhhhh kisah yang unik, tapi bagaimana
perempuan-perempuan seperti kakak bisa kuat menjalani kehidupan yang seperti
ini, berkorban tanpa kesudahan”
’Itulah cinta...yang entah kamipun tak paham bagaimana
dia mampu memenuhi hati kami hingga tak ada cinta lain yang mampu
menggantikannya. Senyum bapak, tawa adik-adik...melihat mereka tumbuh dan
berhasil adalah harapan terindah. Untuk itu kakak rela mengorbankan
apapun..termasuk kebahagiaan kakak. O...ya, Insya Allah dalam pekan ini Basri
akan menikah, akhirnya satu lagi adikku akan menemui kebahagiaannya. Nanti kamu
harus datang membantu ya”
”Insya Allah. Kak...ternyata kebahagiaan mereka
harus ditebus dengan kebahagianmu”
”Ah...tidak juga...karena kebahagianku tidak
berada pada bahagiaku sendiri. Kebahagianku ada pada kebahagiaan mereka. Jika
mereka bahagia....maka akupun pasti berbahagia. Kayaknya udah hampir magrib
nih...sakit kepala kakak juga sudah mulai hilang. Terima kasih ya... kakak mau
pulang dulu. Ceritanya jangan terlalu diambil hati. Kakak ini bukan contoh
perempuan yang sempurna. Masing-masing orang punya keadaan. Semoga keadaanmu
jauh lebih baik. Nanti kakak bantu ya mencarikan. Supaya kau bisa tinggal
disini”
”Ih...kakak...saya mau pulang kampung. Memangnya
kakak saja yang cinta keluarga. Aku juga mau lekas bertemu dan membahagiakan
orang tuaku”
”Iya...iya...terserah deh. Kakak pulang dulu ya”
”um...um..sampai jumpa lagi”
Kutatap perempuan itu hingga hilang di tikungan
jalan. Sembari lisanku berbisik”Ya Allah, kuatkanlah perempuan itu. Jadikanlah
setiap pengorbananya sebagai amal kebaikan yang bisa menambah timbangannya di
hadapanMu kelak. Perempuan yang rela mengorbankan dirinya demi Bapak dan
adik-adiknya. Kak Ica semoga Allah senantiasa mencintaimu dan memberikanmu
kebahagian. Karena sungguh...kau adalah perempuan yang paling layak untuk
berbahagia”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar