Pagi kembali menyapa. Dalam derap semangat kepalaku berputar memikirkan agenda
sepanjang hari ini. Hari yang
sibuk dan penuh dengan tugas-tugas. Jadwal yang padat dan hal-hal yang harus
diselesaikan. Hari yang berderap dengan kehidupan. Hari yang bergegas dengan
karya. Karena hidup adalah pergerakan.
Tiba-tiba aroma maskulin menyeruak di
seluruh udara yang kuhirup. Suasana laut biru memenuhi paru-paruku. Otakku
memindai dengan cepat. Ini bau laki-laki. Karena sibuk dengan pikiranku sendiri
aku lengah dengan keadaan di sekelilingku. Tanpa sadar ternyata beberapa lelaki
baru saja berkelebat di sisiku.
Laki-laki....hhh.....sosok asing itu.
Seperti teka-teki berjalan. Mengurai pikiran dan hidup mereka layaknya
berhadapan dengan sebuah riset tanpa ujung dan tanpa kesimpulan. Apalagi teori.
Menelisik apa yang ada di hati mereka sama sulitnya seperti menemukan jarum di
Samudera Atlantik. Memang nggak nyambung, tapi seperti itulah sulitnya memahami
seorang laki-laki.
Allah yang Maha Kuasa menjadikan makhluk
yang bernama laki-laki itu sebagai manusia yang pertama diciptakan. Atas
kesepiannya, maka Allah pun menciptakan seorang teman yang bernama perempuan.
Untuk menemaninya. Untuk menghiburnya dan untuk mencintainya. Perempuan itu
diciptakan dari tulang rusuk kirinya. Tak diciptakan dari tulang kepala,
sehingga laki-laki tak perlu menjunjung dan menyembah seorang perempuan. Pun tak diciptakan dari
tulang kaki, calcaneus misalnya, agar perempuan tak diinjak-injak dan dijajah
oleh laki-laki.. Tetapi dijadikan dari tulang rusuk agar ia menjadi pendamping.
Sehingga laki-laki menempatkan perempuan di hatinya dan dalam dekap lengan
kekarnya
Dalam ilmu Fisika, dikenal adanya tata
surya beserta sembilan planet yang mengitarinya. Tersebutlah planet yang paling
dekat dengan bumi yaitu planet Mars dan Planet Venus. Pada keseharian, meski
laki-laki dan perempuan berada dalam satu bumi, namun mereka seperti hidup di
planet yang berbeda. Laki-laki di planet Mars dan perempuan di planet Venus
Dalam pandangan perempuan, laki-laki itu
adalah sosok yang egois. Selalu mau menang sendiri. Tak ada ruang bagi pendapat
orang lain. Mereka selalu punya alasan untuk membenarkan segala hal yang mereka
lakukan. Laki-laki tak pernah sudi untuk diatur atau diperintah. Apatah lagi
oleh seorang perempuan. Hal yang paling sulit untuk diterima oleh seorang
lelaki normal. Ya, hal tersebut bisa jadi memang kodrat yang diberikan Allah
kepada mereka. Karena laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan.
Seorang perempuan yang telah menikah
pernah menuturkan hasil pengamatannya tentang sifat laki-laki. Sebuah teori
yang didapatkan dari observasi langsung selama hampir sembilan tahun pernikahannya.
Didapatkan kesimpulan bahwa laki-laki itu cenderung berpikir praktis. Mereka
fokus pada satu masalah saja. Kurang peka dan kurang mampu berempati.Tak suka
ditentang dan tak suka dilawan. Mereka adalah makhluk yang sangat dominan dan
berpikir dengan otak kiri mereka
Sedangkan perempuan diberikan oleh Allah
kecerdasan bahasa yang melebihi laki-laki. Titik broka di otak perempuan
berkembang dengan sangat baik sehingga mereka sangat suka berbicara. Mereka
juga sangat perasa dan sensitif. Dominan berpikir dengan otak kanan sehingga mereka sangat pandai berempati.
Ini penjelasan ilmiah kenapa
kaum hawa sangat suka ngerumpi dan ngegosip.
Nah, hal tersebutlah yang biasa memicu
munculnya fenomena piring terbang di beberapa rumah tangga. Lantaran persoalan
sepele perabot yang dibeli dengan susah payah hancur dan musnah dalam waktu
singkat. Karena laki-laki tak suka dilawan sedangkan perempuan sangat suka
berbicara, maka masalah kecil merebak menjadi sebuah pertengkaran dasyat.
Omelan-omelan dari perempuan tak jarang memicu amarah laki-laki yang
menyebabkan fenomena tangan melayang juga menyertai pertengkaran itu.
Ah, andai laki-laki dan perempuan bisa
lebih dewasa. Mengapa perbedaan justru dijadikan peretak. Bukankah Allah
menciptakan perbedaan itu pasti dengan sebuah hikmah. Seyogyanya, perbedaan
tidak menimbulkan perpecahan. Namun justru dengan perbedaan itu laki-laki dan perempuan bisa saling
melengkapi. Seperti sepasang hati yang saling menggenapkan dan saling mengisi.
Mengapa piring dan gelas itu tak diisi dengan beberapa potongan bolu coklat dan
teh hangat? Dari pada saling melempar, lebih baik duduk berhadapan. Bicara
sembari menikmati bolu coklat yang legit dan hangatnya teh melati. Pernikahan
diawali dengan cinta, harusnya dijalani dan diakhiri dengan cinta pula
By the way, bicara memang mudah. Namun menjalaninya itu akan
sangat....sangat....sangat sulit. Lebih mudah mengamati daripada melakoni.
Ketika jadi jomblo enak sekali bicara dan bermimpi tentang hubungan yang ideal.
Tapi, coba lihat kalau nanti sudah menikah? Mampukah bertahan dengan keidealan
itu?
Sudahlah....yang jelas minimal sudah ada
niat baik untuk menghadapi kekisruhan dalam rumah tangga. Konon, kuncinya ada
pada perempuan. Satu hal, bukan, dua hal malah, yang harus selalu dilakukan
oleh seorang istri. Bersabar
dan mengalah. Sampai kapan???? Sampai kebahagiaan itu selalu ada dalam rumah
kita dan sampai ruh kita telah menjumpai RabbNya.
Mungkin sebagian besar perempuan akan
protes dan tak sepakat. Ya...boleh-boleh saja. Kita akan membahas ini pada
bagian lain, sehingga kita bisa berbagi tentang makna menjomblo, makna menikah
dan makna menjalani kehidupan bagi seorang perempuan. Seorang makhluk yang
diciptakan demi sebuah misi agung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar