Pesan yang kubaca dari layanan sms itu
begitu menghentak. Meluruhkan pertahananku dan mengalirkan butir-butir air mata
dari sepasang mataku yang perih. Pedih menahan kecamuk rasa yang memenuhi
rongga dada
Isi pesan itu sebenarnya berkali-kali kuterima
lewat pesan sms ataupun pembicaraan di telepon. Pertanyaan yang sama tentang kapan
aku menikah dan siapa calon yang telah aku siapkan. Biasanya hal itu aku
tanggapi dengan canda. Dan selalu aku bisa berkelit dari desakan ibu untuk
segera menikah
Tapi kali ini sms itu begitu dalam.
Tertera kata-kata yang menghujam ke dalam jiwaku yang paling lubuk. Entah, jika
kata-kata yang terungkap dalam sms tersebut adalah manifestasi sekeping hati
yang perih. Sedih, lantaran harapan yang begitu lama dipendam tak jua kunjung
menjadi kenyataan. Padahal, waktu yang terus berlalu menumbuhkan kerinduan dan
kecemasan. Pada keinginan untuk menyaksikan putri tertuanya menikah dan
memberikannya seorang cucu
Ibu....bukan aku tak ingin menikah.
Sungguh, jika kemungkinan untuk itu dapat kulakukan. Maka dengan segera aku
akan menikah. Tetapi sungguh, hingga saat ini belum ada satu pun seorang lelaki
yang datang kepadaku. Tentu saja lelaki yang layak untuk dinikahi. Bukan
seperti lelaki kebanyakan yang bertaburan di luar sana.
Para lelaki yang sering ibu minta aku
untuk meliriknya, memikirkannya lalu memilihnya. Ibu...bukan para lelaki itu
yang kucari. Aku mencari lelaki yang mencintai Tuhannya, RasulNya dan Islam. Aku
mencari pejuang. Aku mencari mujahid. Karena aku mencintai Tuhanku, RasulNya
dan Islam. Karena aku adalah pejuang dan mencintai apa-apa yang mendekatkan
kepadanya
Juga....karena cinta tak cukup kuat
menjadi perekat sebuah perkawinan. Rumah tangga membutuhkan simpul yang lebih liat
dari cinta. Itulah kesamaan cita-cita. Yang dengannya masing-masing sosok akan
siap untuk memberikan yang terbaik bagi yang lainnya. Rela dengan kesabaran dan
kondisi terburuk sekalipun. Karena menikah tak hanya memuaskan naluri
kemanusiaan. Tetapi menikah adalah separuh agama. Yang ukurannya tak main-main
bagi seorang hamba yang tengah berjuang mencari kesejatiannya.
Maka ibu...maafkan jika aku masih
membuatmu tenggelam dalam kekhawatiran. Maafkan jika aku membuatmu terduduk
syahdu di penghujung malam untuk melirihkan namaku ke haribaanNya. Maafkan jika
aku menambahkan lagi sebaris gurat di dahimu yang senja. Maafkan pula jika aku
mengalirkan lagi air matamu untuk ke sekian kalinya. Maafkan aku
ibu.....maafkan....tapi percayalah aku akan selalu berusaha melakukan yang
terbaik untukmu. Aku akan berusaha memenuhi apa yang kau inginkan. Selama aku
mampu. Selama tidak menyalahi apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya.
Apalagi jika hal itu adalah sesuatu yang sesuai dengan keinginan Allah dan
RasulNya. Tunggulah ibu....aku akan berburu menantu untukmu
Maka perburuan itupun kumulai....tetapi
aku tak tahu ke hutan mana aku akan menuju. Mencari seorang menantu untuk ibu.
Apalagi di kota besar seperti ini. Mana ada hutan untuk berburu. Lalu aku
mencoba menyusun rencana demi terwujudnya asa di dada. Mancari dan memilih
beberapa kenalan yang berpotensi untuk menjadi channel bagi sebuah pernikahan.
Mulai dari yang memiliki keponakan laki-laki, paman laki-laki juga yang punya
saudara laki-laki. Semua kuurutkan dalam mata pikiranku. Akhirnya hati dan
pikiran ini pun terbetik pada sebuah sosok
Seorang ikhwa yang masih sekampung
denganku. Usianya jauh lebih tua sekitar 6 tahun. Dulu pernah kuliah, tapi entah
bagaimanan ceritanya kuliah itu tak pernah tuntas. Sangat idealis dan dulu
seorang aktivis vokal yang paling dicari oleh birokrat. Mungkin karena itu
pulalah mengapa kuliahnya tak kelar. Ia terlalu jengah dengan kepongahan
birokrat. Maka ia pun mencari jalannya sendiri....memberontak dan meninggalkan
ruang kuliah. Sekarang...masih sesekali aku menyaksikan kelebatnya di masjid
pondokan. Mengajar anak-anak mengaji atau bermain bola. Aktivitasnya yang lain
di luar sana, sedikitpun aku tak tahu
Mengapa dia menjadi pilihan?
Mhh...entah...saat itu aku hanya terkagum dan takjub dengan proses perubahan
yang ia alami. Metamorfosis yang mencengangkan. Sedikit menyejarah, aku
mengenal sosoknya ketika masih menjadi mahasiswa baru. Dia kenalan teman satu
kamarku. Orangnya asyik dan ramai. Juga idealis dan aktivis di sebuah organisasi kampus yang paling
terkenal di masanya. Dia sosok yang ramah. Yang paling kuingat dia adalah orang
yang selalu menyapaku untuk singgah di pondokannya setiap pulang kuliah.
Sehingga bagiku dia senior yang paling baik. Trus...dia punya seorang pacar yang
sangat dia sayangi. Mereka seperti sepasang jiwa yang saling melengkapi. Karena
mereka punya banyak persamaan. Sama-sama kuliah difakultas yang sama, satu
kelas, satu pondokan dan satu organisasi.
Tetapi meski sudah punya pacar, sosok itu tetap
suka jahil dan usil. Jika dia datang ke pondokan kami tak ada satu pun cewek
yang lewat di depannya, melainkan pasti mendapat gangguannya. Mulai dari
siulan, sapaan ataupun nyanyian penuh rayuan. Pokoknya dalam pandanganku saat
itu dia laki-laki biasa...bukan pejuang. Dia hanya seorang senior yang ramah
tetapi tak akan pernah membuat aku jatuh hati padanya. Terlebih dia sudah punya
pacar
Hingga terjadilah sebuah peristiwa yang
sungguh tak pernah terduga. Tiba-tiba aku mendengar bahwa pacarnya telah
meninggal. Padahal, mereka nyaris menikah. Pacarnya meninggal saat menjalani
kegiatan KKN. Sosok itu sepertinya mengalami goncangan yang sangat keras hingga
dia tidak pernah terlihat lagi di pondokan. Aku pun tak pernah mendengar lagi
beritanya. Tak ada sapaan...tak ada candaan...sosok itu seperti menghilang
Beberapa waktu kemudian...lagi-lagi aku
mendengar kabar bahwa dia mulai berubah. Tak lagi jadi aktivis kampus yang suka
berdemo dan merongrong ketenangan birokrat. Tetapi dia mulai tertarik belajar
Islam dengan sungguh-sungguh. Dalam hati aku bertanya, apa iya sosok itu bisa
berubah. Dengan membayangkan buku-buku Karl Marx di meja belajarnya juga poster
Iwan Fals seukuran pintu di depan kamarnya. Belum lagi bacaan-bacaan berbau
sosialis dan kekiri-kirian yang pernah kusaksikan terpajang rapi di lemari
bukunya. Juga tulisan-tulisannya yang mencerminkan jiwa berbalut pemberontakan
Hingga di sebuah tikungan....jantungku
seperti melompat. Ketika kami nyaris bertabrakan. Tapi tak ada lagi candaan
ataupun sapaan..sosok yang sama namun dalam balutan fisik yang berbeda. Baju
putih berlengan pendek dipadu dengan celana di atas mata kaki, dan kalau mataku
tak salah jenggot lebat telah menghiasi wajahnya yang menunduk. Aku
diam...diapun terdiam. Meski dulu kami sempat agak akrab tapi kami sama-sama
paham. Kini, dia tengah bermetamorfosis menjadi seorang muslim yang
sesungguhnya. Pun aku, saat itu tengah
berbenah menjadi sosok muslimah yang jauh lebih baik.
Bertahun waktu berlalu. Aku mulai aktif dalam
dakwah daerah. Dan berkenalan dengan seorang akhwat. Yang ternyata adalah
adiknya. Secara substansi mereka serupa. Sama-sama suka berjuang. Adiknya
adalah pembina di lembaga dakwah daerahku dan kami saling kenal meski tak
terlalu akrab. Ternyata sosok itu tak kunjung menikah, padahal adiknya hampir
memberikannya keponakan yang kedua
Berbekal perkenalan yang agak akrab, maka
kucoba memberanikan diri menyampaikan maksud hati kepada adiknya. Meski rasanya
lumayan malu juga. Tapi rasa malu itu tergantikan dengan suara sendu
ibuku..bagaimanapun aku harus segera mencarikannya menantu. Maka kucoba
menghubungi akhwat tersebut beberapa kali. Qadarallah tak pernah tersambung.
Ternyata dia tengah berada di kampung suaminya. Lalu akupun menyusun sms
sepanjang 6 kali sms untuk menyampaikan maksud hati ini. Sedikit lega
rasanya...minimal aku sudah berusaha
Tetapi...lagi-lagi ketetapan Allah
berlaku. Setelah berhari-hari ternyata sms itu terpending dan tak pernah sampai
pada tujuannya. Hhhh...aku merasa lelah karena usaha itu. Energi mentalku
seperti terkuras. Tapi aku tak putus asa, maka kucari cara lain lagi. Kali ini
mencari informasi tentang walimah jama’i. Itu loh menikah yang baramai-ramai
dan seru abis. Ternyata prosesnyapun agak berbelit. Tambah pula waktu
pelaksanaannya belum jelas. Entah dalam waktu dekat ataukah dalam waktu yang
tak bisa ditentukan. Maka walimah jama’i menjadi alternatif kesekian jika usaha
lain tak berhasil
Saat diri ini dilanda kegamangan untuk
melanjutkan perburuan datanglah sebuah panggilan. Aku ingat sekali. Waktu itu
baru saja aku berembuk dengan adikku tentang strategi mencari menantu untuk
ibu. Suara handphone memutus perbicangangan kami yang sedang seru-serunya.
Ternyata dari temanku yang menawarkan sesuatu. Singkat, padat dan jelas. Sebuah
ta’aruf. Dia memintaku untuk membawa biodata dan foto sesegera mungkin. Karena
ada ikhwa yang sedang mencari akhwat. Saat itu hatiku cenderung merasa biasa
saja. Karena kegagalan usahaku sebelumnya telah memberi sebuah pelajaran.
Jangan pernah over estimate...tapi bersiaplah dengan kemungkinan terburuk.
Bergegaslah aku untuk menyusun biodata.
Aku bingung karena tak pernah membuat biodata untuk walimah sebelumnya. Kalau
untuk melamar pekerjaan aku sudah punya beberapa dokumen. Kucoba untuk
memilah-milahnya dan memperkirakan informasi yang dibutuhkan. Selesai biodata
maka aku pun mencari selembar foto sebagai pelengkapnya. Namun aku baru ingat
ternyata aku tak punya selembar foto pun...ya...tak punya meski selembar foto
ukuran 2x3. Setelah bongkar sana bongkar sini, aku menemukan foto yang
tertempel di kartu ujian. Foto yang discan secara terburu-buru karena kasus
yang serupa. Aku tak punya foto. Dari pada tidak ada, maka foto seadanya yang
sangat tidak layak pajang itu pun kulampirkan bersama biodata
Ketika temanku menerima biodata dan fotoku
dia mencak-mencak, karena foto yang tidak bagus itu. Lalu aku berusaha mencari
kamera digital ataupun alat foto yang lain. Tetapi tidak ada yang kuperoleh.
Kukatakan pada temanku agar biodata itu diserahkan beberapa hari lagi karena
aku baru mau membuat foto. Temanku tidak menyetujuinya, dia tetap meminta agar
biodata dan fotoku harus diserahkan pada hari itu juga. Setelah keringatan
kesana kemari mencari kamera, akhirnya dapat juga kamera pinjaman dari salah
seorang kawan di kampus. Maka terpampanglah wajahku yang sederhana dan sangat
biasa di sudut atas biodata.
Progresifitas ta’aruf itu begitu lama
kurasa. Hingga aku melanjutkan usaha yang lain. Tidak lagi membidik sasaran
sebelumnya, karena aku masih ingin mengumpulkan energi. Berburu sosok yang satu
itu ternyata membutuhkan nafas yang cukup panjang. Jadi aku mendiamkan usaha tersebut
di salah satu sudut hati. Kelak, jika usaha lain tak berhasil dan energiku
sudah cukup kuat maka perburuan akan
kulanjutkan. Sekarang aku mulai serius berburu informasi tentang walimah
jama’i. Meski waktunya tak jelas...tak apalah. Yang penting di hadapan Allah
aku bisa mempertanggun jawabkan sesuatu. Bahwa betul-betul aku berusaha mencari
menantu untuk ibuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar