Jumat, 26 Juli 2013

Berburu Menantu Untuk Ibu



Pesan yang kubaca dari layanan sms itu begitu menghentak. Meluruhkan pertahananku dan mengalirkan butir-butir air mata dari sepasang mataku yang perih. Pedih menahan kecamuk rasa yang memenuhi rongga dada
Isi pesan itu sebenarnya berkali-kali kuterima lewat pesan sms ataupun pembicaraan di telepon. Pertanyaan yang sama tentang kapan aku menikah dan siapa calon yang telah aku siapkan. Biasanya hal itu aku tanggapi dengan canda. Dan selalu aku bisa berkelit dari desakan ibu untuk segera menikah
Tapi kali ini sms itu begitu dalam. Tertera kata-kata yang menghujam ke dalam jiwaku yang paling lubuk. Entah, jika kata-kata yang terungkap dalam sms tersebut adalah manifestasi sekeping hati yang perih. Sedih, lantaran harapan yang begitu lama dipendam tak jua kunjung menjadi kenyataan. Padahal, waktu yang terus berlalu menumbuhkan kerinduan dan kecemasan. Pada keinginan untuk menyaksikan putri tertuanya menikah dan memberikannya seorang cucu
Ibu....bukan aku tak ingin menikah. Sungguh, jika kemungkinan untuk itu dapat kulakukan. Maka dengan segera aku akan menikah. Tetapi sungguh, hingga saat ini belum ada satu pun seorang lelaki yang datang kepadaku. Tentu saja lelaki yang layak untuk dinikahi. Bukan seperti lelaki kebanyakan yang bertaburan di luar sana.
Para lelaki yang sering ibu minta aku untuk meliriknya, memikirkannya lalu memilihnya. Ibu...bukan para lelaki itu yang kucari. Aku mencari lelaki yang mencintai Tuhannya, RasulNya dan Islam. Aku mencari pejuang. Aku mencari mujahid. Karena aku mencintai Tuhanku, RasulNya dan Islam. Karena aku adalah pejuang dan mencintai apa-apa yang mendekatkan kepadanya
Juga....karena cinta tak cukup kuat menjadi perekat sebuah perkawinan. Rumah tangga membutuhkan simpul yang lebih liat dari cinta. Itulah kesamaan cita-cita. Yang dengannya masing-masing sosok akan siap untuk memberikan yang terbaik bagi yang lainnya. Rela dengan kesabaran dan kondisi terburuk sekalipun. Karena menikah tak hanya memuaskan naluri kemanusiaan. Tetapi menikah adalah separuh agama. Yang ukurannya tak main-main bagi seorang hamba yang tengah berjuang mencari kesejatiannya.
Maka ibu...maafkan jika aku masih membuatmu tenggelam dalam kekhawatiran. Maafkan jika aku membuatmu terduduk syahdu di penghujung malam untuk melirihkan namaku ke haribaanNya. Maafkan jika aku menambahkan lagi sebaris gurat di dahimu yang senja. Maafkan pula jika aku mengalirkan lagi air matamu untuk ke sekian kalinya. Maafkan aku ibu.....maafkan....tapi percayalah aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Aku akan berusaha memenuhi apa yang kau inginkan. Selama aku mampu. Selama tidak menyalahi apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Apalagi jika hal itu adalah sesuatu yang sesuai dengan keinginan Allah dan RasulNya. Tunggulah ibu....aku akan berburu menantu untukmu
Maka perburuan itupun kumulai....tetapi aku tak tahu ke hutan mana aku akan menuju. Mencari seorang menantu untuk ibu. Apalagi di kota besar seperti ini. Mana ada hutan untuk berburu. Lalu aku mencoba menyusun rencana demi terwujudnya asa di dada. Mancari dan memilih beberapa kenalan yang berpotensi untuk menjadi channel bagi sebuah pernikahan. Mulai dari yang memiliki keponakan laki-laki, paman laki-laki juga yang punya saudara laki-laki. Semua kuurutkan dalam mata pikiranku. Akhirnya hati dan pikiran ini pun terbetik pada sebuah sosok
Seorang ikhwa yang masih sekampung denganku. Usianya jauh lebih tua sekitar 6 tahun. Dulu pernah kuliah, tapi entah bagaimanan ceritanya kuliah itu tak pernah tuntas. Sangat idealis dan dulu seorang aktivis vokal yang paling dicari oleh birokrat. Mungkin karena itu pulalah mengapa kuliahnya tak kelar. Ia terlalu jengah dengan kepongahan birokrat. Maka ia pun mencari jalannya sendiri....memberontak dan meninggalkan ruang kuliah. Sekarang...masih sesekali aku menyaksikan kelebatnya di masjid pondokan. Mengajar anak-anak mengaji atau bermain bola. Aktivitasnya yang lain di luar sana, sedikitpun aku tak tahu
Mengapa dia menjadi pilihan? Mhh...entah...saat itu aku hanya terkagum dan takjub dengan proses perubahan yang ia alami. Metamorfosis yang mencengangkan. Sedikit menyejarah, aku mengenal sosoknya ketika masih menjadi mahasiswa baru. Dia kenalan teman satu kamarku. Orangnya asyik dan ramai. Juga idealis dan aktivis  di sebuah organisasi kampus yang paling terkenal di masanya. Dia sosok yang ramah. Yang paling kuingat dia adalah orang yang selalu menyapaku untuk singgah di pondokannya setiap pulang kuliah. Sehingga bagiku dia senior yang paling baik. Trus...dia punya seorang pacar yang sangat dia sayangi. Mereka seperti sepasang jiwa yang saling melengkapi. Karena mereka punya banyak persamaan. Sama-sama kuliah difakultas yang sama, satu kelas, satu pondokan dan satu organisasi.
Tetapi meski sudah punya pacar, sosok itu tetap suka jahil dan usil. Jika dia datang ke pondokan kami tak ada satu pun cewek yang lewat di depannya, melainkan pasti mendapat gangguannya. Mulai dari siulan, sapaan ataupun nyanyian penuh rayuan. Pokoknya dalam pandanganku saat itu dia laki-laki biasa...bukan pejuang. Dia hanya seorang senior yang ramah tetapi tak akan pernah membuat aku jatuh hati padanya. Terlebih dia sudah punya pacar
Hingga terjadilah sebuah peristiwa yang sungguh tak pernah terduga. Tiba-tiba aku mendengar bahwa pacarnya telah meninggal. Padahal, mereka nyaris menikah. Pacarnya meninggal saat menjalani kegiatan KKN. Sosok itu sepertinya mengalami goncangan yang sangat keras hingga dia tidak pernah terlihat lagi di pondokan. Aku pun tak pernah mendengar lagi beritanya. Tak ada sapaan...tak ada candaan...sosok itu seperti menghilang
Beberapa waktu kemudian...lagi-lagi aku mendengar kabar bahwa dia mulai berubah. Tak lagi jadi aktivis kampus yang suka berdemo dan merongrong ketenangan birokrat. Tetapi dia mulai tertarik belajar Islam dengan sungguh-sungguh. Dalam hati aku bertanya, apa iya sosok itu bisa berubah. Dengan membayangkan buku-buku Karl Marx di meja belajarnya juga poster Iwan Fals seukuran pintu di depan kamarnya. Belum lagi bacaan-bacaan berbau sosialis dan kekiri-kirian yang pernah kusaksikan terpajang rapi di lemari bukunya. Juga tulisan-tulisannya yang mencerminkan jiwa berbalut pemberontakan
Hingga di sebuah tikungan....jantungku seperti melompat. Ketika kami nyaris bertabrakan. Tapi tak ada lagi candaan ataupun sapaan..sosok yang sama namun dalam balutan fisik yang berbeda. Baju putih berlengan pendek dipadu dengan celana di atas mata kaki, dan kalau mataku tak salah jenggot lebat telah menghiasi wajahnya yang menunduk. Aku diam...diapun terdiam. Meski dulu kami sempat agak akrab tapi kami sama-sama paham. Kini, dia tengah bermetamorfosis menjadi seorang muslim yang sesungguhnya.  Pun aku, saat itu tengah berbenah menjadi sosok muslimah yang jauh lebih baik.
Bertahun waktu berlalu. Aku mulai aktif dalam dakwah daerah. Dan berkenalan dengan seorang akhwat. Yang ternyata adalah adiknya. Secara substansi mereka serupa. Sama-sama suka berjuang. Adiknya adalah pembina di lembaga dakwah daerahku dan kami saling kenal meski tak terlalu akrab. Ternyata sosok itu tak kunjung menikah, padahal adiknya hampir memberikannya keponakan yang kedua
Berbekal perkenalan yang agak akrab, maka kucoba memberanikan diri menyampaikan maksud hati kepada adiknya. Meski rasanya lumayan malu juga. Tapi rasa malu itu tergantikan dengan suara sendu ibuku..bagaimanapun aku harus segera mencarikannya menantu. Maka kucoba menghubungi akhwat tersebut beberapa kali. Qadarallah tak pernah tersambung. Ternyata dia tengah berada di kampung suaminya. Lalu akupun menyusun sms sepanjang 6 kali sms untuk menyampaikan maksud hati ini. Sedikit lega rasanya...minimal aku sudah berusaha
Tetapi...lagi-lagi ketetapan Allah berlaku. Setelah berhari-hari ternyata sms itu terpending dan tak pernah sampai pada tujuannya. Hhhh...aku merasa lelah karena usaha itu. Energi mentalku seperti terkuras. Tapi aku tak putus asa, maka kucari cara lain lagi. Kali ini mencari informasi tentang walimah jama’i. Itu loh menikah yang baramai-ramai dan seru abis. Ternyata prosesnyapun agak berbelit. Tambah pula waktu pelaksanaannya belum jelas. Entah dalam waktu dekat ataukah dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Maka walimah jama’i menjadi alternatif kesekian jika usaha lain tak berhasil
Saat diri ini dilanda kegamangan untuk melanjutkan perburuan datanglah sebuah panggilan. Aku ingat sekali. Waktu itu baru saja aku berembuk dengan adikku tentang strategi mencari menantu untuk ibu. Suara handphone memutus perbicangangan kami yang sedang seru-serunya. Ternyata dari temanku yang menawarkan sesuatu. Singkat, padat dan jelas. Sebuah ta’aruf. Dia memintaku untuk membawa biodata dan foto sesegera mungkin. Karena ada ikhwa yang sedang mencari akhwat. Saat itu hatiku cenderung merasa biasa saja. Karena kegagalan usahaku sebelumnya telah memberi sebuah pelajaran. Jangan pernah over estimate...tapi bersiaplah dengan kemungkinan terburuk.
Bergegaslah aku untuk menyusun biodata. Aku bingung karena tak pernah membuat biodata untuk walimah sebelumnya. Kalau untuk melamar pekerjaan aku sudah punya beberapa dokumen. Kucoba untuk memilah-milahnya dan memperkirakan informasi yang dibutuhkan. Selesai biodata maka aku pun mencari selembar foto sebagai pelengkapnya. Namun aku baru ingat ternyata aku tak punya selembar foto pun...ya...tak punya meski selembar foto ukuran 2x3. Setelah bongkar sana bongkar sini, aku menemukan foto yang tertempel di kartu ujian. Foto yang discan secara terburu-buru karena kasus yang serupa. Aku tak punya foto. Dari pada tidak ada, maka foto seadanya yang sangat tidak layak pajang itu pun kulampirkan bersama biodata
Ketika temanku menerima biodata dan fotoku dia mencak-mencak, karena foto yang tidak bagus itu. Lalu aku berusaha mencari kamera digital ataupun alat foto yang lain. Tetapi tidak ada yang kuperoleh. Kukatakan pada temanku agar biodata itu diserahkan beberapa hari lagi karena aku baru mau membuat foto. Temanku tidak menyetujuinya, dia tetap meminta agar biodata dan fotoku harus diserahkan pada hari itu juga. Setelah keringatan kesana kemari mencari kamera, akhirnya dapat juga kamera pinjaman dari salah seorang kawan di kampus. Maka terpampanglah wajahku yang sederhana dan sangat biasa di sudut atas biodata.
Progresifitas ta’aruf itu begitu lama kurasa. Hingga aku melanjutkan usaha yang lain. Tidak lagi membidik sasaran sebelumnya, karena aku masih ingin mengumpulkan energi. Berburu sosok yang satu itu ternyata membutuhkan nafas yang cukup panjang. Jadi aku mendiamkan usaha tersebut di salah satu sudut hati. Kelak, jika usaha lain tak berhasil dan energiku sudah cukup kuat maka  perburuan akan kulanjutkan. Sekarang aku mulai serius berburu informasi tentang walimah jama’i. Meski waktunya tak jelas...tak apalah. Yang penting di hadapan Allah aku bisa mempertanggun jawabkan sesuatu. Bahwa betul-betul aku berusaha mencari menantu untuk ibuku





Tidak ada komentar:

Posting Komentar