Jumat, 26 Juli 2013

Cinta



Sebab engkau
Aku bagai hilang arah
Mencari jawaban bagi keraguan sendiri
Menyeka air mata karena jiwa yang guncang
Tak mengerti mengapa rasa menghujam
Sebab engkau
Aku hilang definisi
Seperti laiknya kata yang terasing dalam kalimat
Aku ganjil bagi hatiku sendiri
Tak punya arti lagi
Untuk nilai yang kupatri sepenuh usia
Sebab engkau
Aku kacau
Bingung
Bergolak
Sebab engkau
Rasa pertama yang kueja seksama
Tak perlu kucerna
Rasa itu telah berurat di jiwaku
Hingga aku tak mampu menghilangkannya
Dengan waktu
Dengan ragu
Dengan tanya yang pongah bergayut
Sebab engkau
Adalah cinta

Sebuah kata yang tak lekang untuk dikisahkan. Menjadi inspirasi bagi banyak cerita, buku, puisi, aksi dan cita-cita. Merupakan motivasi bagi hidup yang beraneka warna. Adalah sesuatu yang menjadi ruh dan penguat bagi banyak jiwa. Itulah cinta
Sering dipuja, acap didamba. Namun tak jarang dicela. Cinta selalu menjadi kambing hitam dan tumbal atas kesalahan dalam asmara manusia. Cinta disalahkan ketika terjadi kekecewaan, keterpurukan, kegagalan ataupun kesedihan. Cinta pun dituduh sebagai biang kekacauan. Cinta didakwa atas segala dilema dan kelemahan. Padahal, jika berkaca pada beningnya hati. Sungguh, cinta tak layak untuk itu semua
Apakah itu cinta? Definisinya begitu banyak. Ibnu Qoyyim Rahimahullah menyebutkan beberapa makna cinta. Diantaranya bahwa cinta itu bermakna kesucian, kebeningan dan kejernihan. Inilah esensi cinta yang sesungguhnya. Ia laksana telaga dari mata air. Suci, bening dan jernih. Cinta seharusnya menjadi penyejuk bagi jiwa yang kerontang. Penyubur bagi hati yang kemarau. Perindang bagi sukma yang kekeringan
Cinta juga bermakna percikan dan riak. Hati yang terpercik cinta akan beriak ketika teringat pada sesuatu yang dicintainya. Deburan gelombang rasa dalam rongga dada mampu mengguncang akal sehat. Mampu mengguyurkan rinai hujan pada wajah yang sumringah. Karena jika riak dan deburan itu telah menjadi raja, maka segala rasa akan dikuasainya. Jangan biarkan cinta menjadi raja di dalam hati. Tapi jadilah penguasa bagi cinta yang engkau punya
Sebenarnya, cinta tak pernah salah ketika tempatnya benar. Karena cinta adalah sesuatu yang suci dan menjadi sebab bagi banyak kebaikan. Bukankah cinta menjadi sebab terciptanya alam semesta? Atas nama cinta matahari tak pernah letih bersinar. Kalaulah bukan karena cinta, tidak akan menangis tanah yang kering terhadap awan hitam dan bumi tidak akan tertawa pada bunga di musim semi. Karena cinta menjadikan  kehidupan begitu indah
Masalahnya, di zaman ini makna cinta menjadi rusak dan sempit. Tak lagi bening tak lagi suci. Cinta hanya dimaknai sebagai rasa yang dilatari sebentuk syahwat. Atau arogansi hati untuk memiliki. Cinta hilang sejatinya. Padahal, cinta mencakup semua bentuk kasih sayang di muka bumi ini. Cinta melingkupi semua bentuk ketulusan dan pengorbanan. Kesediaan untuk memberi dan kelapangan untuk menerima. Cinta ada dalam semua kesungguhan.
Jadi bagaimana donk caranya bersikap. Agar memiliki cinta yang selamat dan menyelamatkan. Penting untuk dipahami, kecintaan kepada makhluk harus berada dalam bingkai ketaatan kepada khalik. Sebab mencinta makhluk itu fana dan punah. Karena engkau pasti berpisah dengannya. Sedangkan mencinta khalik itu kekal dan abadi. Pun, engkau pasti berjumpa denganNya. Maka cintailah makhluk atas nama cinta kepada Allah. Niscaya cintamu akan selamat dan menyelamatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar