Jumat, 26 Juli 2013

Galau



Menikah itu butuh keberanian. Kucerna betul-betul kalimat itu. Menggunakan semua potensi otak kiri dan otak kananku. Secara logika, menikah itu butuh persiapan lahir dan bathin. Secara lahir ia butuh kematangan dalam masing-masing pribadi. Juga butuh persiapan sandang, pangan dan papan. Secara bathin menikah memerlukan kekuatan hati dan kesabaran yang jauh lebih besar.
Ternyata sebanyak apapun ilmu yang engkau punya, untuk menerapkannya butuh kemampuan khusus. Seperti apa yang kuketahui tentang menikah. Banyak buku-buku yang kulahap dan kurenungkan. Banyak nasehat dan kata-kata mutiara telah kubaca. Tapi, ketika kesempatan untuk menikah itu muncul di hadapan. Aku tak tahu...kenapa aku bimbang
Sebagai seorang jomblo...jujur aku merasa hidupku sudah berjalan sewajarnya. Mungkin tak sempurna, tapi aku menikmatinya. Tenggelam dalam berbagai kesibukan. Melakukan banyak petualangan intelektual. Mencoba hal-hal baru. Dan melakukan segala hal yang kusukai dan kucintai. Aku tidak bermaksud untuk berkarir sebagaimana mungkin kebanyakan perempuan masa kini. Tapi I just want learn more. Aku masih ingin belajar
Mungkin aku terjebak dalam prasangka yang salah. Aku hanya berpikir jika aku menikah maka aku hanya total mengurusi kekasihku. Waktu, cinta dan hidupku hanya untuknya. Untuk kesibukan lain, mungkin akan banyak yang kutinggalkan perlahan. Jika hal tersebut kulakukan sekarang. Kurasa waktunya belum tepat. Masih banyak utang dan kewajiban yang belum kutunaikan.
Dan yang paling parahnya adalah ketika aku bercermin dan menengok diriku. Hhhh ada nggak ya yang mau sama aku? Wajah pas-pasan. Ndak terlalu menarik. Meski sebenarnya aku tergolong perempuan yang tak terlalu pusing dengan penampilan lahiriah. Tapi aku sadar bagi sebagian laki-laki hal tersebut adalah hal yang penting.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar