Jumat, 26 Juli 2013

Pangeran Impian



Jangan dikira menjadi seorang jomblo itu mudah. Apalagi menjomblo di usia yang sangat layak nikah. Kerinduan untuk memiliki pasangan hidup sering menggelisahkan malam-malam yang panjang. Menerbitkan sebuah do’a dari hati yang terlubuk. Do’a agar diberikan pasangan terbaik dari sisiNya. Tetap berusaha menenangkan hati untuk tidak pernah berpikir mencari jalan singkat untuk memuaskan dahaga itu. Mencoba hal-hal yang telah dilarang oleh Sang Pencipta. Menguatkan jiwa, bagaimanapun, cinta hanya boleh ada sesudah pernikahan. Buhul yang tak terlerai
Sepanjang penantian itu, kadang pikiran nakal datang menggoda. Memunculkan pertanyaan seperti apa kira-kira pasangan hidupku kelak. Akankah dia seperti kriteria yang kutetapkan? Atau justru berlawanan 180 derajat. Ya, bagaimanapun sebagai seorang perempuan aku juga punya kriteria bagi suamiku kelak. Seperti semua perempuan lainnya. Asa tentang sosok seorang suami idaman. Kriteriaku mungkin sama dengan kebanyakan perempuan pada umumnya. Merindukan seorang suami yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
Pertama, beriman kepada Allah. Seorang suami adalah pemimpin. Kesuksesan sebuah keluarga meraih kebaikan dunia dan akhirat sangat tergantung dari suaminya. Jika suami adalah seseorang yang jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala apa yang bisa ia bimbingkan kepada keluarganya. Alasan paling penting mengapa aku memilih laki-laki yang beriman, karena apa yang bisa diharapkan dari laki-laki yang tidak beriman
Maksudku, laki-laki yang beriman dia akan takut untuk berbuat sewenang-wenang terhadap istrinya, karena dia pasti takut kepada Tuhannya. Dia akan selalu berupaya menjadi sosok terbaik bagi istrinya sebab dia paham itu merupakan hal yang dicintai oleh Tuhannya
Lantas bagaimana dengan laki-laki yang tidak beriman?? Apa yang bisa diharapkan. Jika dia berakhlak baik sekalipun akan sulit utnuk mengamankan diri bahwa dia tulus melakukannya. Karena kebaikan tanpa keimanan tidak akan kekal. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan itu bisa jadi karena tendesi tertentu. Mungkin istrinya memang cantik jadi dia mencintai istrinya karena kecantikannya. Tapi ketika kecantikan itu pudar maka bisa jadi cintanya pun memudar .
Lebih-lebih ketika laki-laki itu buruk akhlaknya. Akan sulit utnuk menyadarkan seseorang yang tidak takut kepada manusia pun tidak teaut kepada Penciptanya. Dia akan mudah melakukan penjajahan dan menyakiti istrinya. Dia akan menganggap bahwa perempuan hanyalah budak nafsu semata. Tempat menyalurkan syahwat dan menghasilkan anak. Tidak perlu diperlakukan dengan baik. Karena perempuan hanyalah makhluk yang lemah
Karena hal tersebutlah Rasulullah Shallahu’alahi Wa Salam memerintahkan kepada orang tua. Jika datang seorang laki-laki yang bagus agamanya dan baik akhlaknya malamar putri mereka, maka nikahkanlah. Karena laki-laki yang beriman tidak akan berbuat zalim kepada keluarganya.
Kedua, memiliki akhlak yang baik. Bagaimanapun sebagai seorang perempuan, aku menginginkan lelaki yang lemah lembut dan penyayang. Seperti Rasulullah. Karena sifat keperempuananku yang perasa dan lemah tentu membutuhkan bimbingan dari sosok yang lemah lembut dan penyayang. Jadi ingat dengan perkataan Rasulullah bahwa laki-laki terbaik adalah yang paling baik kepada keluarganya
Jujur, rumah tangga Rasulullah memberi inspirasi bagi hal tersebut. Bagaimana Rasulullah memperlakukan istri-istri beliau menjadi sebuah standar kriteria. Bahwa kelak dalam rumah tanggaku pun aku ingin sekali hal itu terwujud. Diantaranya, Rasulullah bercengkrama dengan istri beliau. Contohnya ketika bersama ’Aisyah. Rasulullah mendengarkan istrinya itu  bercerita banyak hal sambil beliau bertelekan di pangkuannya. Rasulullah juga menyeka air mata istri beliau Shofiyyah ketika menyertainya dalam sebuah safar. Saat itu kebetulan Shofiyyah tertinggal dari Rasulullah karena unta yang beliau tumpangi lambat jalannya.
Selain itu, Rasulullah pun mengetahui sifat dan kebiasaan para istrinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah sangat perhatian kepada mereka. Sebagaimana perkataan beliau Shallalahu’alaihi Wa Salam kepada ’Aisyah Radhiyallahu Anhu, ”Aku mengerti kapan engkau ridha kepadaku dan kapan engkau marah”. Aisyah pun berkata ”dari mana engkau ketahui itu?”. Beliau lalu berkata, ”jika engkau ridha, engkau berkata ”Tidak, demi Rabb Muhammad,” sedangkan jika engkau marah engkau berkata ” Tidak, demi Rabb Ibrahim”. Aisyah pun berkata, ”Benar ya Rasulullah, aku tidak sanggup mendiamkan kecuali namamu”
Ketiga, lelaki yang tidak pemarah dan egois. Duh, perempuan mana sih yang bisa tahan dengan suami yang suka marah-marah dan tidak mau mendengarkan pendapat istrinya? Pun aku meminta kepada Allah semoga saja aku tidak disandingkan dengan lelaki yang seperti itu. Aku khawatir tidak bisa bersabar atasnya. Karena menurutku segala sesuatu itu bisa diselesaikan dengan jalur diplomasi. Kita bisa berdialog dari hati ke hati. Tidak perlu sampai bersuara keras atau pun berkata kasar. Itu akhlak yang tercela
Apalagi kalau sampai tidak mempedulikan pendapat orang lain. Suami memang pemimpin tapi apakah salahnya jika mendengarkan pendapat istrinya? Bukankah kita diciptakan oleh Allah tanpa kesempurnaan? Karena hal itulah kita bisa saling melengkapi. Bisa jadi pendapat seorang istri mungkin lebih baik dari suami. Jika hal tersebut untuk kebaikan bersama, mengapa tidak diterima? Suami akan tetap menjadi pemimpin, meski ia mengikuti beberapa saran dari istrinya.
Hal tersebut pernah dicontohkan Rasulullah ketika menerima pendapat dari Ummu Salamah. Saat itu Rasulullah memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menyembelih hewan dan bercukur, namun tidak ada satu oarang pun yang mengerjakannya. Maka Rasulullah menjadi sedih dan masuk ke salah satu rumah istrinya. Tatkala berda di rumah Ummu Salam itulah beliau mendapatkan ususl yang cemerlang. Istri beliau menganjurkan agar Rasulullah tidak hanya memberi perintah, tetapi langsung melakukannya. Alhamdulillah berhasil, ketika Rasulullah menyembelih hewan dan mencukur rambutnya, maka para sahabat langsung mengikutinya dengan berbondong-bondong.
Keempat, mau membantu pekerjaan rumah. Mengurus rumah tangga bukan pekerjaan yang ringan. Sebagai lelaki mungkin berpendapat bahwa urusan domestik sepenuhnya adalah tanggung jawab perempuan. Ok, hal itu bisa diterima. Tetapi alangkah baiknya jika lelaki pun membantu istrinya untuk mengerjakan tugas-tugas kerumahtanggaan. Meski istri tetap merupakan penanggung jawab utama. Bukankah ketika lelaki melamar seorang perempuan adalah utnuk dijadikan istri, bukan pembantu. Maka dukunglah keikhlasan dan motivasi seorang istri dengan menghargai apa yang ia lakukan untuk keluarga. Salah satunya adalah dengan membantunya menyelesaikan tugas tersebut
Lagi pula, cinta dan kasih sayang akan semakin kental nuansanya ketika suami istri merasa senasib sepenaggungan. Segala sesuatu dibagi bersama. Tidak hanya kebahagiaan, termasuk pula masalah dan kesulitan. Karena suami dan istri adalah rekan yang saling mendukung untuk mewujudkan sebuah visi bersama. Yaitu terbentuknya keluarga yang bahagia.
Jangan salah ya, Rasulullah adalah suami yang sangat sibuk Beliau adalah pemimpin negara, pemimpin spiritual, panglima perang, guru dan masih banyak fungsi lainnya. Tetapi beliau masih mau membantu istrinya untuk melakukan pekerjaan rumah. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Aisyah apa yand dilakukan nabi ketika berada bersama keluarganya? Aiyah menjawab bahwa beliau membantu pekerjaan istrinya dan jika masuk waktu sholat, beliau bangkit untuk sholat.
Kelima, romantis. Mungkin hal ini sulit diperoleh pada sebagian besar laki-laki. Meski hampir semua perempuan merindukan hal tersebut. Laki-laki yang mampu menerbitkan perasaan indah pada istri mereka. Dengan berbagi kejutan dan hal yang indah. Romantis itu sering diidentikkan dengan bunga, puisi cinta. Atau sentuhan lembut dan tatap penuh makna. Tetapi sebenarnya banyak hal yang bisa memunculkan romantisme itu dalam kehidupan suami istri. Lagi, Rasulullah adalah contoh terbaik
Beliau shallahu ’alaihi wasalam biasa bersandar di pangkuan Aisyah yang tengah haid sembari membaca Al Qur’an. Beliau pun memanggil istrinya dengan panggilan kesayangan. Misalnya Aisyah dipanggil dengan Humairah atau Aisy. Rasulullah sering bercanda dengan istrinya bahkan mereka pernah lomba lari. Ketika mandi bersama, Rasulullah dan istrinya pun saling berebut timba dari dalam ember
Ya, meski tak harus sama persis, minimal kaum lelaki pahamlah bahwa istrinya adalah sesosok jiwa yang juga butuh hiburan. Dan tak ada hiburan yang lebih membahagiakan bagi seorang istri selain cinta dan perhatian tulus dari suaminya. Karena ketika perempuan telah merelakan dirinya menjadi seorang istri, maka suami adalah segalanya. Yang menjadi cahaya bagi hatinya. Penyenang bagi matanya. Kerinduan bagi jiwanya. Dan tujuan dari ketaatannya. Semual hal tersebut dilakuakn oleh seorang perempuan, tentunya, hanya mengharap Ridho dari Tuhannya semata.
Hmm...namanya juga harapan, pastilah sangat ideal. Apalagi yang dijadikan inspirasi adalah Rasulullullah Shallahu’alahi Wa Salam. Namun aku sadar, bahwa kehidupan tak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ketika ada hal yang kita harapkan maka kita hanya bisa bersusaha dan kepada Allah semata kita bertawakkal. Tak mungkin seorang perempuan bisa mendapatkan suami seperti Rasulullah Shalalahu’alaihi wasalam, jika dirinya tak mampu menjadi Khadijah, Aisyah, ataupun istri Rasulullah yang lain. Karena jiwa-jiwa itu seperti tentara, mereka akan saling tarik menarik. Menginginkan suami seperti Muhammad, maka harus berupaya menjadi Khadijah.
            Pun jika telah berusaha, maka selalu persiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Manusia tidak mengetahui hal-hal ghaib. Bisa jadi dia mendapatkan sesuatu yang buruk dalam pandangannya. Namun hal tersebut bisa jadi sesuatu yang baik dalam pandangan Allah. Pun sesuatu yang baik dalam pandangannya bisa jadi adalah hal yang buruk dalam pandangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tawakkal adalah kuncinya. Serahkan semuanya kepada Allah. Karena yakin dan  percaya, Allah Subhanahu wa ta’ala mungkin tak memberikan apa yang kita inginkan, tetapi pasti Dia memberikan apa yang kita butuhkan. Dan itu adalah hal yang terbaik bagi hidup kita






Tidak ada komentar:

Posting Komentar