Jangan dikira menjadi seorang jomblo itu
mudah. Apalagi menjomblo di usia yang sangat layak nikah. Kerinduan untuk
memiliki pasangan hidup sering menggelisahkan malam-malam yang panjang.
Menerbitkan sebuah do’a dari hati yang terlubuk. Do’a agar diberikan pasangan
terbaik dari sisiNya. Tetap berusaha menenangkan hati untuk tidak pernah
berpikir mencari jalan singkat untuk memuaskan dahaga itu. Mencoba hal-hal yang
telah dilarang oleh Sang Pencipta. Menguatkan jiwa, bagaimanapun, cinta hanya
boleh ada sesudah pernikahan. Buhul yang tak terlerai
Sepanjang penantian itu, kadang pikiran
nakal datang menggoda. Memunculkan pertanyaan seperti apa kira-kira pasangan
hidupku kelak. Akankah dia seperti kriteria yang kutetapkan? Atau justru
berlawanan 180 derajat. Ya, bagaimanapun sebagai seorang perempuan aku juga
punya kriteria bagi suamiku kelak. Seperti semua perempuan lainnya. Asa tentang
sosok seorang suami idaman. Kriteriaku mungkin sama dengan kebanyakan perempuan
pada umumnya. Merindukan seorang suami yang memiliki sifat-sifat sebagai
berikut :
Pertama, beriman kepada Allah. Seorang
suami adalah pemimpin. Kesuksesan sebuah keluarga meraih kebaikan dunia dan
akhirat sangat tergantung dari suaminya. Jika suami adalah seseorang yang jauh
dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala apa yang bisa ia bimbingkan kepada keluarganya.
Alasan paling penting mengapa aku memilih laki-laki yang beriman, karena apa yang
bisa diharapkan dari laki-laki yang tidak beriman
Maksudku, laki-laki yang beriman dia akan takut
untuk berbuat sewenang-wenang terhadap istrinya, karena dia pasti takut kepada
Tuhannya. Dia akan selalu berupaya menjadi sosok terbaik bagi istrinya sebab
dia paham itu merupakan hal yang dicintai oleh Tuhannya
Lantas bagaimana dengan laki-laki yang
tidak beriman?? Apa yang bisa diharapkan. Jika dia berakhlak baik sekalipun
akan sulit utnuk mengamankan diri bahwa dia tulus melakukannya. Karena kebaikan
tanpa keimanan tidak akan kekal. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan itu bisa jadi
karena tendesi tertentu. Mungkin istrinya memang cantik jadi dia mencintai
istrinya karena kecantikannya. Tapi ketika kecantikan itu pudar maka bisa jadi
cintanya pun memudar .
Lebih-lebih ketika laki-laki itu buruk
akhlaknya. Akan sulit utnuk menyadarkan seseorang yang tidak takut kepada
manusia pun tidak teaut kepada Penciptanya. Dia akan mudah melakukan penjajahan
dan menyakiti istrinya. Dia akan menganggap bahwa perempuan hanyalah budak
nafsu semata. Tempat menyalurkan syahwat dan menghasilkan anak. Tidak perlu
diperlakukan dengan baik. Karena perempuan hanyalah makhluk yang lemah
Karena hal tersebutlah Rasulullah
Shallahu’alahi Wa Salam memerintahkan kepada orang tua. Jika datang seorang
laki-laki yang bagus agamanya dan baik akhlaknya malamar putri mereka, maka
nikahkanlah. Karena laki-laki yang beriman tidak akan berbuat zalim kepada
keluarganya.
Kedua, memiliki akhlak yang baik.
Bagaimanapun sebagai seorang perempuan, aku menginginkan lelaki yang lemah
lembut dan penyayang. Seperti Rasulullah. Karena sifat keperempuananku yang
perasa dan lemah tentu membutuhkan bimbingan dari sosok yang lemah lembut dan
penyayang. Jadi ingat dengan perkataan Rasulullah bahwa laki-laki terbaik
adalah yang paling baik kepada keluarganya
Jujur, rumah tangga Rasulullah memberi
inspirasi bagi hal tersebut. Bagaimana Rasulullah memperlakukan istri-istri
beliau menjadi sebuah standar kriteria. Bahwa kelak dalam rumah tanggaku pun
aku ingin sekali hal itu terwujud. Diantaranya, Rasulullah bercengkrama dengan
istri beliau. Contohnya ketika bersama ’Aisyah. Rasulullah mendengarkan
istrinya itu bercerita banyak hal sambil
beliau bertelekan di pangkuannya. Rasulullah juga menyeka air mata istri beliau
Shofiyyah ketika menyertainya dalam sebuah safar. Saat itu kebetulan Shofiyyah
tertinggal dari Rasulullah karena unta yang beliau tumpangi lambat jalannya.
Selain itu, Rasulullah pun mengetahui
sifat dan kebiasaan para istrinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah
sangat perhatian kepada mereka. Sebagaimana perkataan beliau Shallalahu’alaihi
Wa Salam kepada ’Aisyah Radhiyallahu Anhu, ”Aku mengerti kapan engkau ridha
kepadaku dan kapan engkau marah”. Aisyah pun berkata ”dari mana engkau ketahui
itu?”. Beliau lalu berkata, ”jika engkau ridha, engkau berkata ”Tidak, demi
Rabb Muhammad,” sedangkan jika engkau marah engkau berkata ” Tidak, demi Rabb
Ibrahim”. Aisyah pun berkata, ”Benar ya Rasulullah, aku tidak sanggup
mendiamkan kecuali namamu”
Ketiga, lelaki yang tidak pemarah dan
egois. Duh, perempuan mana sih yang bisa tahan dengan suami yang suka
marah-marah dan tidak mau mendengarkan pendapat istrinya? Pun aku meminta
kepada Allah semoga saja aku tidak disandingkan dengan lelaki yang seperti itu.
Aku khawatir tidak bisa bersabar atasnya. Karena menurutku segala sesuatu itu
bisa diselesaikan dengan jalur diplomasi. Kita bisa berdialog dari hati ke
hati. Tidak perlu sampai bersuara keras atau pun berkata kasar. Itu akhlak yang
tercela
Apalagi kalau sampai tidak mempedulikan pendapat
orang lain. Suami memang pemimpin tapi apakah salahnya jika mendengarkan
pendapat istrinya? Bukankah kita diciptakan oleh Allah tanpa kesempurnaan?
Karena hal itulah kita bisa saling melengkapi. Bisa jadi pendapat seorang istri
mungkin lebih baik dari suami. Jika hal tersebut untuk kebaikan bersama,
mengapa tidak diterima? Suami akan tetap menjadi pemimpin, meski ia mengikuti
beberapa saran dari istrinya.
Hal tersebut pernah dicontohkan Rasulullah
ketika menerima pendapat dari Ummu Salamah. Saat itu Rasulullah memerintahkan
kepada para sahabatnya untuk menyembelih hewan dan bercukur, namun tidak ada
satu oarang pun yang mengerjakannya. Maka Rasulullah menjadi sedih dan masuk ke
salah satu rumah istrinya. Tatkala berda di rumah Ummu Salam itulah beliau
mendapatkan ususl yang cemerlang. Istri beliau menganjurkan agar Rasulullah
tidak hanya memberi perintah, tetapi langsung melakukannya. Alhamdulillah
berhasil, ketika Rasulullah menyembelih hewan dan mencukur rambutnya, maka para
sahabat langsung mengikutinya dengan berbondong-bondong.
Keempat, mau membantu pekerjaan rumah. Mengurus
rumah tangga bukan pekerjaan yang ringan. Sebagai lelaki mungkin berpendapat
bahwa urusan domestik sepenuhnya adalah tanggung jawab perempuan. Ok, hal itu bisa
diterima. Tetapi alangkah baiknya jika lelaki pun membantu istrinya untuk
mengerjakan tugas-tugas kerumahtanggaan. Meski istri tetap merupakan penanggung
jawab utama. Bukankah ketika lelaki melamar seorang perempuan adalah utnuk
dijadikan istri, bukan pembantu. Maka dukunglah keikhlasan dan motivasi seorang
istri dengan menghargai apa yang ia lakukan untuk keluarga. Salah satunya
adalah dengan membantunya menyelesaikan tugas tersebut
Lagi pula, cinta dan kasih sayang akan
semakin kental nuansanya ketika suami istri merasa senasib sepenaggungan.
Segala sesuatu dibagi bersama. Tidak hanya kebahagiaan, termasuk pula masalah
dan kesulitan. Karena suami dan istri adalah rekan yang saling mendukung untuk
mewujudkan sebuah visi bersama. Yaitu terbentuknya keluarga yang bahagia.
Jangan salah ya, Rasulullah adalah suami
yang sangat sibuk Beliau adalah pemimpin negara, pemimpin spiritual, panglima
perang, guru dan masih banyak fungsi lainnya. Tetapi beliau masih mau membantu
istrinya untuk melakukan pekerjaan rumah. Ketika seorang sahabat bertanya
kepada Aisyah apa yand dilakukan nabi ketika berada bersama keluarganya? Aiyah
menjawab bahwa beliau membantu pekerjaan istrinya dan jika masuk waktu sholat,
beliau bangkit untuk sholat.
Kelima, romantis. Mungkin hal ini sulit
diperoleh pada sebagian besar laki-laki. Meski hampir semua perempuan
merindukan hal tersebut. Laki-laki yang mampu menerbitkan perasaan indah pada
istri mereka. Dengan berbagi kejutan dan hal yang indah. Romantis itu sering
diidentikkan dengan bunga, puisi cinta. Atau sentuhan lembut dan tatap penuh
makna. Tetapi sebenarnya banyak hal yang bisa memunculkan romantisme itu dalam
kehidupan suami istri. Lagi, Rasulullah adalah contoh terbaik
Beliau shallahu ’alaihi wasalam biasa
bersandar di pangkuan Aisyah yang tengah haid sembari membaca Al Qur’an. Beliau
pun memanggil istrinya dengan panggilan kesayangan. Misalnya Aisyah dipanggil
dengan Humairah atau Aisy. Rasulullah sering bercanda dengan istrinya bahkan
mereka pernah lomba lari. Ketika mandi bersama, Rasulullah dan istrinya pun
saling berebut timba dari dalam ember
Ya, meski tak harus sama persis, minimal
kaum lelaki pahamlah bahwa istrinya adalah sesosok jiwa yang juga butuh
hiburan. Dan tak ada hiburan yang lebih membahagiakan bagi seorang istri selain
cinta dan perhatian tulus dari suaminya. Karena ketika perempuan telah
merelakan dirinya menjadi seorang istri, maka suami adalah segalanya. Yang
menjadi cahaya bagi hatinya. Penyenang bagi matanya. Kerinduan bagi jiwanya.
Dan tujuan dari ketaatannya. Semual hal tersebut dilakuakn oleh seorang
perempuan, tentunya, hanya mengharap Ridho dari Tuhannya semata.
Hmm...namanya juga harapan, pastilah
sangat ideal. Apalagi yang dijadikan inspirasi adalah Rasulullullah
Shallahu’alahi Wa Salam. Namun aku sadar, bahwa kehidupan tak selamanya sesuai
dengan apa yang kita inginkan. Ketika ada hal yang kita harapkan maka kita
hanya bisa bersusaha dan kepada Allah semata kita bertawakkal. Tak mungkin
seorang perempuan bisa mendapatkan suami seperti Rasulullah Shalalahu’alaihi
wasalam, jika dirinya tak mampu menjadi Khadijah, Aisyah, ataupun istri
Rasulullah yang lain. Karena jiwa-jiwa itu seperti tentara, mereka akan saling
tarik menarik. Menginginkan suami seperti Muhammad, maka harus berupaya menjadi
Khadijah.
Pun jika telah berusaha, maka selalu
persiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Manusia tidak mengetahui hal-hal
ghaib. Bisa jadi dia mendapatkan sesuatu yang buruk dalam pandangannya. Namun
hal tersebut bisa jadi sesuatu yang baik dalam pandangan Allah. Pun sesuatu
yang baik dalam pandangannya bisa jadi adalah hal yang buruk dalam pandangan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tawakkal adalah kuncinya. Serahkan semuanya kepada
Allah. Karena yakin dan percaya, Allah
Subhanahu wa ta’ala mungkin tak memberikan apa yang kita inginkan, tetapi pasti
Dia memberikan apa yang kita butuhkan. Dan itu adalah hal yang terbaik bagi
hidup kita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar