Jumat, 26 Juli 2013

Super Mom



Hasan mengernyitkan kening, ketika menyantap nasi goreng buatan Rahmih, istrinya. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman tipis, sementara Rahmih memandang suaminya penuh harap cemas. Benar dugaannya hingga kali ketiga ia memasakkan nasi goreng untuk suaminya belum juga bisa terasa pas di lidah
”Enak....,”hibur suaminya sambil meneruskan, ”Cuma terlalu asin”. Rahmih tersenyum kecut menahan malu. Setelah hampir sebulan lalu keduanya menikah, baru tak lebih dua pekan mereka menempati rumah kontrakannya. Sejak saat itu Rahmih memang harus memasak, mencuci dan menyetrika sendiri. Pekerjaan-pekerjaan yang tak pernah ia sentuh ketika masih gadis. Ibunya tak pernah mengajarkan pekerjaan-pekerjaan semacam itu kepadanya, dan semasa kuliah pun waktunya habis untuk belajar melulu
Seorang penulis pernah menuturkan pengalamannya sendiri ketika pertama kali menjadi seorang istri. Dia betul-betul merasa bodoh dan tidak percaya diri. Penulis itu menceritakan bahwa dia adalah perempuan yang berprestasi dalam akademik maupun organisasi. Tetapi setengah tahun dia tinggal sendirian di sebuah kontrakan. Pancinya beberapa kali gosong karena dia tidak tahu waktu yang dibutuhkan untuk menggelegakkan sepanci air. Dia pernah menggoreng nasi dengan minyak sebanyak untuk menggoreng ayam dan berkeringat dingin karena hanya harus memasak semangkuk beras
Ya...memang harus diakui. Zaman ini telah merubah paradigma kita, para perempuan, tentang pekerjaan domestik. Sekarang kita sekolahnya tinggi, pandai, mandiri tetapi tak bisa masak, tak suka mencuci ataupun menyapu halaman. Kita lebih suka membaca dan mengutak-atik komputer. Kita lebih suka berdiskusi, browsing atau chating. Bagi kita, menjadi seorang ibu,  sering lebih asing dari pada menjadi pengacara, dokter atau artis.
Berbeda dengan kehidupan gadis-gadis di masa Rasulullah. Mereka telah mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan berkeluarga sebelum mereka baligh. Sehingga ketika datang saat baligh, mereka telah dewasa dan siap untuk menjalani hidup berumah tangga. Seperti Asma’ binti Abu Bakar yang senantiasa menyiapkan makanan bagi suaminya Zubair bin Awwam, menyiapkan bekalnya dan melepas kepergiannya. Atau Fathimah binti Muhammad Shalallahu ’alaihi wasalam yang mengadon roti sampai tangannya bengkak.
Kegiatan masak-memasak ataupun bersih-bersih mungkin kelihatnnya tidak semenarik acara diskusi ataupun internetan. Tapi bisa jadi sebagai perempuan kita belum mampu melakukannya dengan baik. Jika banyak perempuan menganggap remeh hal-hal tersebut maka patut dipertanyakan keperempuanannya. Jangan disangka ya, memasak itu tidak mudah loh. Butuh kepekaan rasa dan keakuratan perkiraan. Sedikit salah memasukkan bumbu, apalagi garam, maka akibatnya bisa fatal. Persis kejadiannya pada kasus Rahmih diatas
Sebagai perempuan kita harus sadar bahwa meski kita merasa sebagai orang yang modern tetapi kita tidak boleh meremehkan pekerjaan rumah tangga. Memasak, menjahit, mencuci ataupun menyetrika. Karena sesungguhnya keterampilan-keterampilan itu turut berperan dalam membentuk karakter feminim seorang wanita
Jika kita terampil melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, kepekaan perasaan bisa terjaga.  Seperti ketika memasak tadi. Kelembutan tangan dan kelincahan motorik halus jari-jari tangan akan tetap terjaga. Semua hal tersebut akan membantu menghaluskan kejiwaan, menumbuhkan kesabaran dan ketelatenan. Kepribadian yang halus dan lembut seperti itu akan menyeimbangkan kemandirian, kepandaian dan kemampuan rasional. Hal yang diajarkan kepada kita dari sekolah-sekolah formal
Yang paling penting, keterampilan-keterampilan itu sangat dibutuhkan ketika kita berumah tangga kelak. Bagaimanapun lezatnya masakan di luar sana, seorang suami pasti tetap merindukan masakan istrinya. Kita perlu menata rumah agar nyaman ditinggali sehingga suami dan anak kita betah di rumah. Kitapun harus mencuci dan menyetrika pakaian, bukan hanya pakaian kita saja. Namun ditambah baju suami dan anak-anak.
Sekarang, mumpung masih jomblo, jangan canggung untuk belajar. Tidak ada salahnya kalau kita coba-coba resep. Kemudian belajar mencuci dan menyetrika sendiri. Jangan ke laundry. Kita juga belajar mempedulikan kamar kita. Dibersihkan dan juga ditata. Sehingga kita menjadi perempuan yang lebih baik. Seimbang antara otak kiri dan otak kanan.Tidak hanya cerdas, pintar, berwawasan dalam akademik dan organisasi.  Namun juga terampil melakukan pekerjaan rumah tangga. Ini dia calon super Mom





Tidak ada komentar:

Posting Komentar