Hasan mengernyitkan kening, ketika
menyantap nasi goreng buatan Rahmih, istrinya. Di bibirnya tersungging sebuah
senyuman tipis, sementara Rahmih memandang suaminya penuh harap cemas. Benar
dugaannya hingga kali ketiga ia memasakkan nasi goreng untuk suaminya belum
juga bisa terasa pas di lidah
”Enak....,”hibur suaminya sambil
meneruskan, ”Cuma terlalu asin”. Rahmih tersenyum kecut menahan malu. Setelah
hampir sebulan lalu keduanya menikah, baru tak lebih dua pekan mereka menempati
rumah kontrakannya. Sejak saat itu Rahmih memang harus memasak, mencuci dan
menyetrika sendiri. Pekerjaan-pekerjaan yang tak pernah ia sentuh ketika masih
gadis. Ibunya tak pernah mengajarkan pekerjaan-pekerjaan semacam itu kepadanya,
dan semasa kuliah pun waktunya habis untuk belajar melulu
Seorang penulis pernah menuturkan
pengalamannya sendiri ketika pertama kali menjadi seorang istri. Dia
betul-betul merasa bodoh dan tidak percaya diri. Penulis itu menceritakan bahwa
dia adalah perempuan yang berprestasi dalam akademik maupun organisasi. Tetapi
setengah tahun dia tinggal sendirian di sebuah kontrakan. Pancinya beberapa
kali gosong karena dia tidak tahu waktu yang dibutuhkan untuk menggelegakkan
sepanci air. Dia pernah menggoreng nasi dengan minyak sebanyak untuk menggoreng
ayam dan berkeringat dingin karena hanya harus memasak semangkuk beras
Ya...memang harus diakui. Zaman ini telah
merubah paradigma kita, para perempuan, tentang pekerjaan domestik. Sekarang kita
sekolahnya tinggi, pandai, mandiri tetapi tak bisa masak, tak suka mencuci
ataupun menyapu halaman. Kita lebih suka membaca dan mengutak-atik komputer. Kita
lebih suka berdiskusi, browsing atau chating. Bagi kita, menjadi seorang
ibu, sering lebih asing dari pada
menjadi pengacara, dokter atau artis.
Berbeda dengan kehidupan gadis-gadis di
masa Rasulullah. Mereka telah mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan
berkeluarga sebelum mereka baligh. Sehingga ketika datang saat baligh, mereka
telah dewasa dan siap untuk menjalani hidup berumah tangga. Seperti Asma’ binti
Abu Bakar yang senantiasa menyiapkan makanan bagi suaminya Zubair bin Awwam,
menyiapkan bekalnya dan melepas kepergiannya. Atau Fathimah binti Muhammad
Shalallahu ’alaihi wasalam yang mengadon roti sampai tangannya bengkak.
Kegiatan masak-memasak ataupun bersih-bersih
mungkin kelihatnnya tidak semenarik acara diskusi ataupun internetan. Tapi bisa
jadi sebagai perempuan kita belum mampu melakukannya dengan baik. Jika banyak
perempuan menganggap remeh hal-hal tersebut maka patut dipertanyakan
keperempuanannya. Jangan disangka ya, memasak itu tidak mudah loh. Butuh
kepekaan rasa dan keakuratan perkiraan. Sedikit salah memasukkan bumbu, apalagi
garam, maka akibatnya bisa fatal. Persis kejadiannya pada kasus Rahmih diatas
Sebagai perempuan kita harus sadar bahwa
meski kita merasa sebagai orang yang modern tetapi kita tidak boleh meremehkan
pekerjaan rumah tangga. Memasak, menjahit, mencuci ataupun menyetrika. Karena
sesungguhnya keterampilan-keterampilan itu turut berperan dalam membentuk
karakter feminim seorang wanita
Jika kita terampil melakukan
pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, kepekaan perasaan bisa terjaga. Seperti ketika memasak tadi. Kelembutan
tangan dan kelincahan motorik halus jari-jari tangan akan tetap terjaga. Semua
hal tersebut akan membantu menghaluskan kejiwaan, menumbuhkan kesabaran dan
ketelatenan. Kepribadian yang halus dan lembut seperti itu akan menyeimbangkan
kemandirian, kepandaian dan kemampuan rasional. Hal yang diajarkan kepada kita
dari sekolah-sekolah formal
Yang paling penting,
keterampilan-keterampilan itu sangat dibutuhkan ketika kita berumah tangga
kelak. Bagaimanapun lezatnya masakan di luar sana, seorang suami pasti tetap
merindukan masakan istrinya. Kita perlu menata rumah agar nyaman ditinggali
sehingga suami dan anak kita betah di rumah. Kitapun harus mencuci dan
menyetrika pakaian, bukan hanya pakaian kita saja. Namun ditambah baju suami
dan anak-anak.
Sekarang, mumpung masih jomblo, jangan
canggung untuk belajar. Tidak ada salahnya kalau kita coba-coba resep. Kemudian
belajar mencuci dan menyetrika sendiri. Jangan ke laundry. Kita juga belajar
mempedulikan kamar kita. Dibersihkan dan juga ditata. Sehingga kita menjadi
perempuan yang lebih baik. Seimbang antara otak kiri dan otak kanan.Tidak hanya
cerdas, pintar, berwawasan dalam akademik dan organisasi. Namun juga terampil melakukan pekerjaan rumah
tangga. Ini dia calon super Mom
Tidak ada komentar:
Posting Komentar