Saudariku yang dimulyakan oleh Allah
Subhanahu Wa Ta’ala. Sungguh Allah telah
berfirman ”Dan Barang siapa yang mentaati Allah dan RasulNya maka sesungguhnya
ia telah mendapat kemenangan yang besar. Saudariku, yang di mulyakan oleh Allah
Subhanahu Wa taala, dalam kehidupan kita
tak ada kebahagiaan sempurna selain
kebahagiaan seseorang dalam rumah tangganya dan kebagiaannya kelak di akhirat.
Dan tidak ada penderitaan yang paling menyakitkan selain penderitaan seseorang dalam
rumah tangganya dan penderitaannya kelak di akhirat. Maka siapa saja yang
merasa bahagia menjalani kehidupan rumah tangganya maka iapun pasti merasa
bahagia menjalani hidup selainnya. Begitu pula sebaliknya, jika ia merasa
kehilangan ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan rumah tangganya maka
kehidupannya bersama yang lain pun akan terasa membosankan dan menyusahkan.
Saudariku.... tahukah engkau bahwa
kebahagiaan bukanlah bintang ajaib yang jatuh pada setiap kita lantas kita akan
merasakannya, dan siapa yang tidak mendapatkan bintang itu maka hidupnya akan
menderita dan susah. Akan tetapi kebahagiaan terjadi di luar kemampuan manusia.
Terjadi di luar ambang batas kesanggupan manusia. Dan itu hanya bisa diraih
dengan tekad yang kuat, usaha dan juga kerja keras. Kebahagiaan yang penuh aral melintang dan juga batu
terjal menghadang, kebahagiaaan hakiki yang menjadi janji rabbul izzati
kebahagiaan yang tak jarang membuat orang mati dalam menitinya sehingga
menjadikan sedikit sekali orang yang merindukannya. Karena indahnya dunia dan
banyaknya harta telah mengalahkan dan menghilangkan janji Rabbnya.
Saudariku yang dimulyakan Allah,
satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan kita kepada kebahagiaan dan
ketenangan hidup di dunia, keselamatan serta keberuntungan kita di akhirat
adalah ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Ketaatan yang menuntut keikhlasan,
ketaatan yang tidak menjadikan hati menjadi berat, ketaatan yang meminta penerimaan
yang tulus dalam diri kita. Ketaatan yang dibuktikan dengan pengorbanan harta,
keluarga, bahkan jiwa. Oleh karena itu, saudariku yang dirahmati oleh Allah Subhanahu
Wa Ta’ala, sungguh indah jika tatanan rumah tangga dihiasi dengan bingkai
ketaatan kepada Allah dan RasulNya,
alangkah bahagianya bila suamimu adalah orang yang senantiasa mendermakan hidup,
harta dan jiwanya untuk meraih kemulyaan di sisi Allah. Keningnya selalu tunduk
karena sujud, lisannya tak pernah lelah karena berdzikir, keringatnya tak
pernah kering dan debu selalu menyelimuti tubuh serta pakaiannya karena
kecintaan berjuang di Jalan Allah. Engkau... ya engkau dan anak-anakmu tak
pernah memalingkannya untuk meraih kemulyaan di sisi Rabbmu, justru suamimu
akan menjadikanmu dan anakmu sebagai bahterah yang menyelamatkan kehidupannya
dan bukan sebagai penghalang atau penghancur kebahagiaan. Suamimu akan
menanamkan keperwiraan dan qonaah kepada keluarganya juga tidak pernah berkecil
hati dengan pemberian Rabbnya
Alangkah mulyanya jika dirimu mendermakan
hidup, harta dan jiwamu untuk meraih kemulyaan di sisi Allah. Kemulyaanmu akan
kau raih dengan ketaatan kepada suamimu, selalu menjaga rahasia, harta dan
kehormatan suamimu. Karena tahukah engkau surga dan nerakamu tergantung pada
ketaatanmu kepadanya. Biarkanlah bibir merahmu yang merekah selalu tersenyum
simpul dengan pemberian suamimu yang tercinta. Biarkanlah dari tanganmu yang
lembut dan mulya tumbuh dan berkembang sosok perwira. Malammu selau dihidupkan
untuk berdo’a, memohon dan merajuk pada Rabbul Izzati demi kemulyaan anak dan
suamimu. Engkau tidak akan pernah rela jika suamimu tergoda dengan kenikmatan
dunia yang fana dan hatimu pun tak akan pernah tenang jika suamimu lari dari
ladang perjuangan. Engkaupun tak ingin menjadi penghalang suamimu untuk meraih
kemulyaan. Karena itu saudariku, banggalah dengan dirimu karena dirimu adalah
istri seorang mujahid, dan engkau bukanlah istri seorang konglomerat. Kalau
suamimu ingin meninggalkan jihad ini dan kerja siang malam setengah mati
mungkin rezkinya di sana akan memberikan tambahan uang untukmu. Tapi engkau
akan mendapatkan banyak kerugian dalam kehidupanmu. Tahukah engkau saudariku,
seorang suami yang jauh dari jihad, jauh dari dzikir dan jauh dari Islam akan
senang bermain di luar, berkhianat di luar dan dia tidak pernah bisa mendidik
dan membuat anak-anakmu berjiwa militan. Saudariku akhirnya engkau pun akan
menua, layu dan mengenang masa lalu yang kelam. Tapi jangan pernah lupa di
rumahmu ada seorang mujahid. Yang dengannya engkau bisa meraih kebahagiaan di
dunia dan akhirat, Insya Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar