Jumat, 26 Juli 2013

Hanya Antara Aku dan Engkau



Berikanlah aku kekuatan, yang dengannya aku akan sanggup mengalahkan diriku, menundukkan nafsuku dan kuat menetapi kebenaran. Tunjukkan kepadaku sebuah kesabaran...yang selalu menyertaiku untuk selalu berbahgia atas setiap luka. Duhai....Engkau yang Tahu....betapa aku liar....betapa aku kelam.....maka jangan pernah biarkan aku kalah. Ketika wasangka itu mendera....berikan aku pijakan untuk selalu berprasangka baik. Ketika ketidakpuasan itu menyapa.....anugrahkan untukku qonaah. Duhai....berat nian perjalanan ini. Yang Engkau buhul diriku dengan NamaMu. Jangan biarkan aku kalah...jangan biarkan aku jatuh. Bukankah jalan ini kupinta dengan AsmaMu....maka kuatkan aku untuk bertahan dengan namaMu pula
Perih nian....tapi semoga semuanya membuatku tambah dewasa. Karuniakanlah kesyukuran...yang membuatku selalu merasa cukup. Meski syahwatku memberontak mencari pembenaran bagi jiwaku yang tak puas

Selalu antara diriku dan Engkau...tak akan pernah ada yang lain. Sebab cinta di dunia tak pernah sempurna. Tak ada......maka aku belajar satu hal....untuk terus menguatkan tawakkal. Suatu ketika pun aku akan kembali menjumpaiMu. Dan akhirnya, hanya ada diriku dan Engkau

Galau



Menikah itu butuh keberanian. Kucerna betul-betul kalimat itu. Menggunakan semua potensi otak kiri dan otak kananku. Secara logika, menikah itu butuh persiapan lahir dan bathin. Secara lahir ia butuh kematangan dalam masing-masing pribadi. Juga butuh persiapan sandang, pangan dan papan. Secara bathin menikah memerlukan kekuatan hati dan kesabaran yang jauh lebih besar.
Ternyata sebanyak apapun ilmu yang engkau punya, untuk menerapkannya butuh kemampuan khusus. Seperti apa yang kuketahui tentang menikah. Banyak buku-buku yang kulahap dan kurenungkan. Banyak nasehat dan kata-kata mutiara telah kubaca. Tapi, ketika kesempatan untuk menikah itu muncul di hadapan. Aku tak tahu...kenapa aku bimbang
Sebagai seorang jomblo...jujur aku merasa hidupku sudah berjalan sewajarnya. Mungkin tak sempurna, tapi aku menikmatinya. Tenggelam dalam berbagai kesibukan. Melakukan banyak petualangan intelektual. Mencoba hal-hal baru. Dan melakukan segala hal yang kusukai dan kucintai. Aku tidak bermaksud untuk berkarir sebagaimana mungkin kebanyakan perempuan masa kini. Tapi I just want learn more. Aku masih ingin belajar
Mungkin aku terjebak dalam prasangka yang salah. Aku hanya berpikir jika aku menikah maka aku hanya total mengurusi kekasihku. Waktu, cinta dan hidupku hanya untuknya. Untuk kesibukan lain, mungkin akan banyak yang kutinggalkan perlahan. Jika hal tersebut kulakukan sekarang. Kurasa waktunya belum tepat. Masih banyak utang dan kewajiban yang belum kutunaikan.
Dan yang paling parahnya adalah ketika aku bercermin dan menengok diriku. Hhhh ada nggak ya yang mau sama aku? Wajah pas-pasan. Ndak terlalu menarik. Meski sebenarnya aku tergolong perempuan yang tak terlalu pusing dengan penampilan lahiriah. Tapi aku sadar bagi sebagian laki-laki hal tersebut adalah hal yang penting.









Galau



Menikah itu butuh keberanian. Kucerna betul-betul kalimat itu. Menggunakan semua potensi otak kiri dan otak kananku. Secara logika, menikah itu butuh persiapan lahir dan bathin. Secara lahir ia butuh kematangan dalam masing-masing pribadi. Juga butuh persiapan sandang, pangan dan papan. Secara bathin menikah memerlukan kekuatan hati dan kesabaran yang jauh lebih besar.
Ternyata sebanyak apapun ilmu yang engkau punya, untuk menerapkannya butuh kemampuan khusus. Seperti apa yang kuketahui tentang menikah. Banyak buku-buku yang kulahap dan kurenungkan. Banyak nasehat dan kata-kata mutiara telah kubaca. Tapi, ketika kesempatan untuk menikah itu muncul di hadapan. Aku tak tahu...kenapa aku bimbang
Sebagai seorang jomblo...jujur aku merasa hidupku sudah berjalan sewajarnya. Mungkin tak sempurna, tapi aku menikmatinya. Tenggelam dalam berbagai kesibukan. Melakukan banyak petualangan intelektual. Mencoba hal-hal baru. Dan melakukan segala hal yang kusukai dan kucintai. Aku tidak bermaksud untuk berkarir sebagaimana mungkin kebanyakan perempuan masa kini. Tapi I just want learn more. Aku masih ingin belajar
Mungkin aku terjebak dalam prasangka yang salah. Aku hanya berpikir jika aku menikah maka aku hanya total mengurusi kekasihku. Waktu, cinta dan hidupku hanya untuknya. Untuk kesibukan lain, mungkin akan banyak yang kutinggalkan perlahan. Jika hal tersebut kulakukan sekarang. Kurasa waktunya belum tepat. Masih banyak utang dan kewajiban yang belum kutunaikan.
Dan yang paling parahnya adalah ketika aku bercermin dan menengok diriku. Hhhh ada nggak ya yang mau sama aku? Wajah pas-pasan. Ndak terlalu menarik. Meski sebenarnya aku tergolong perempuan yang tak terlalu pusing dengan penampilan lahiriah. Tapi aku sadar bagi sebagian laki-laki hal tersebut adalah hal yang penting.









Galau



Menikah itu butuh keberanian. Kucerna betul-betul kalimat itu. Menggunakan semua potensi otak kiri dan otak kananku. Secara logika, menikah itu butuh persiapan lahir dan bathin. Secara lahir ia butuh kematangan dalam masing-masing pribadi. Juga butuh persiapan sandang, pangan dan papan. Secara bathin menikah memerlukan kekuatan hati dan kesabaran yang jauh lebih besar.
Ternyata sebanyak apapun ilmu yang engkau punya, untuk menerapkannya butuh kemampuan khusus. Seperti apa yang kuketahui tentang menikah. Banyak buku-buku yang kulahap dan kurenungkan. Banyak nasehat dan kata-kata mutiara telah kubaca. Tapi, ketika kesempatan untuk menikah itu muncul di hadapan. Aku tak tahu...kenapa aku bimbang
Sebagai seorang jomblo...jujur aku merasa hidupku sudah berjalan sewajarnya. Mungkin tak sempurna, tapi aku menikmatinya. Tenggelam dalam berbagai kesibukan. Melakukan banyak petualangan intelektual. Mencoba hal-hal baru. Dan melakukan segala hal yang kusukai dan kucintai. Aku tidak bermaksud untuk berkarir sebagaimana mungkin kebanyakan perempuan masa kini. Tapi I just want learn more. Aku masih ingin belajar
Mungkin aku terjebak dalam prasangka yang salah. Aku hanya berpikir jika aku menikah maka aku hanya total mengurusi kekasihku. Waktu, cinta dan hidupku hanya untuknya. Untuk kesibukan lain, mungkin akan banyak yang kutinggalkan perlahan. Jika hal tersebut kulakukan sekarang. Kurasa waktunya belum tepat. Masih banyak utang dan kewajiban yang belum kutunaikan.
Dan yang paling parahnya adalah ketika aku bercermin dan menengok diriku. Hhhh ada nggak ya yang mau sama aku? Wajah pas-pasan. Ndak terlalu menarik. Meski sebenarnya aku tergolong perempuan yang tak terlalu pusing dengan penampilan lahiriah. Tapi aku sadar bagi sebagian laki-laki hal tersebut adalah hal yang penting.









Cerai tanpa Dendam



Dengan cinta engkau kuterima
Dengan cinta pula engkau kulepaskan
Tatkala buhul itu terleraikan
Izinkan, hanya cinta yang kukenang
Bukan luka
Buka lara
Bukan dendam
Bukan pula kebencian
Mungkin, cintaku tak sempurna
Namun yakinlah, ini yang terbaik yang aku punya
Jika cinta tak bisa lagi bersama
Biarlah hanya indahnya yang kubawa
Luka, lara, dendam dan kebencian
Telah kupunahkan
Dalam rinai air mata
Yang kualirkan atas nama cinta

Hah..cerai lagi. Fenomena itu seakan telah menjadi trend kehidupan. Hal yang mudah ditemukan di berbagai media. Di koran, radio, televisi, internet, peristiwa perceraian kerap menjadi berita hangat. Juga dalam kehidupan nyata. Tak sulit mencari orang-orang di sekitar kita yang mengalami perceraian
Cinta memang penuh teka-teki. Dia datang dan pergi kadang seperti angin. Singgah sekejap lalu hilang. Pada satu titik waktu sepasang suami istri begitu terlihat mesra dan penuh kasih sayang. Seakan kehidupan mereka hanya mengenal kata bahagia. Tapi di titik waktu lain, kemesraan itu menguap, berganti dengan amarah dan kebencian. Tak ada lagi cinta. Yang tersisa hanyalah kekecawaan dan rasa sakit hati
Hal itu menggelitik hatiku. Menjadi pertanyaan besar yang mengganjal. Apakah cinta seperti sebuah sel. Yang bisa mengalami mutasi. Hingga cinta yang secara normal harusnya memberikan kebahagiaan. Justru menjadi biang rinainya air mata. Cinta bermutasi, mengubah senyum jadi tangisan
Meski memaafkan tak pernah mudah. Namun, semoga kelapangan jiwa memudahkan kita untuk melakukannya. Bukankah kita pernah saling mencinta? Jika orang yang pernah kita sayangi telah menyakiti, kuatlah untuk mencoba memaafkannya. Walaupun untuk mempertahankan kebersamaan itu sulit. Tapi pastikan hati kita steril dari dendam
Karena cinta dimulai dengan indah, maka seharusnya dia diakhiri dengan indah pula. Sungguh tak pantas pilar-pilar dendam membangun kebencian di dalam hati. Terus menangis dan merasa terluka. Hal itu menyebabkan kita  dirundung kesedihan. Belajarlah untuk melupakan. Belajarlah untuk memaafkan. Meski tak mudah, yakinlah pasti bisa. Bukan untuk orang lain, tapi untuk kebahagiaan diri kita sendiri