Jumat, 26 Juli 2013

Sore



Sore yang menua. Berlatar langit kelabu. Matahari hampir condong ke cakrawala. Di bawah lebat akasia aku tenggelam. Hanyut dalam keriduan. Jauh menelisik masa lalu. Daun Ki Hujan berguguran terhempas angin. Satu-satu meluruh menemui bumi. Seperti juga pikiranku yang satu persatu melanglang waktu yang telah kulewati
Hari beraroma musim kemarau. Dengan asap dan sinar yang berbayang. Matahari bersembunyi di sela ranting akasia. Angin membawa semerbak sore hari ke dalam memoriku. Ini seperti sebuah sore pada berbagai penggalan waktu dalam hidupku
Sore di rumah. Aku berada di beranda. Di bawah teduh pohon mangga. Bercengkrama dengan orang-orang yang aku cinta. Menceritakan segala hal yang kulewati hari itu. Kesedihan ataupun kesenangan yang kurasakan. Semuanya saling berbagi energi, saling menghargai dan saling menghangatkan
Sore di sekolah. Saat senyum-senyum itu mengelilingiku. Gelak canda dan tawa meriuh di sepanjang pematang sawah. Panorama pedesaan yang mengelilingi ruang kelas. Teringat jelas satu-satu temanku. Ketulusan mereka, penghargaan mereka dan kenangan yang mereka patri di sepenggal hidupku. Ke manapun aku melangkah, hati ini akan selalu terpaut pada kenangan itu
Sore di sawah. Saat kulitku coklat oleh matahari yang memanggang. Batang tomat yang berbaris rapi menjadi teman dalam keseharian. Buahnya adalah harapanku, karena dari jumlah tomat yang terisi dalam keranjang menentukan rezeki keluarga kami di hari itu. Tumpukan jerami mengundang untuk berbaring di dekapnya. Sembari menatap lepas ke langit sana. Menguntai impian tentang masa depan yang indah
Sore yang kelabu oleh hujan. Tatkala aku di terpaku di sudut kampus. Menatap rimbun mangga yang berbunga. Bayangannya sendu, serupa hatiku yang hampir tak mampu tersenyum. Saat galau ketika begitu banyak ingin yang tak mampu kurengkuh. Tatkala asa yang telah kusulam dengan mimpi-mimpi harus kandas oleh kenyataan. Perihnya pernah menikam, hingga hatiku seperti terkena infeksi ganas. Hampir-hampir aku mengira luka itu tak akan pernah sembuh oleh apapun. Kini, setelah berbilang musim, aku belajar satu hal. Bahwa waktu adalah penyembuh yang paling jitu
Sore di pegunungan. Yang pernah kuisi dengan bercerita tentang warna langit. Biru, jingga dan kelabu. Diselilingi nila dan cirrus putih menipis. Suara angin menjadi sound track. Dan sore seakan menjadi waktu yang selalu kurindukan. Mengeja perjuangan di bilangan keimanan. Menata rasa agar tak salah memaknai cinta
HHHH.... dan kini aku sendiri. Melanjutkan hidup dengan keseorangan. Jauh dari keluarga, jauh dari teman dan jauh dari momen-momen yang kusukai. Aku rindu pada semua hal itu. Hanya satu yang menguatkanku. Meski segala hal yang pernah kunikmati kini tak lagi ada bersamaku. Namun aku yakin, meski aku sendiri...hakikatnya aku tak pernah sendiri. Karena aku memiliki tempat bergantung. Yang tak akan pernah meninggalkanku selamanya. Dia adalah.....Tuhanku.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar