Sore yang menua. Berlatar langit kelabu.
Matahari hampir condong ke cakrawala. Di bawah lebat akasia aku tenggelam.
Hanyut dalam keriduan. Jauh menelisik masa lalu. Daun Ki Hujan berguguran
terhempas angin. Satu-satu meluruh menemui bumi. Seperti juga pikiranku yang
satu persatu melanglang waktu yang telah kulewati
Hari beraroma musim kemarau. Dengan asap
dan sinar yang berbayang. Matahari bersembunyi di sela ranting akasia. Angin
membawa semerbak sore hari ke dalam memoriku. Ini seperti sebuah sore pada
berbagai penggalan waktu dalam hidupku
Sore di rumah. Aku berada di beranda. Di
bawah teduh pohon mangga. Bercengkrama dengan orang-orang yang aku cinta.
Menceritakan segala hal yang kulewati hari itu. Kesedihan ataupun kesenangan
yang kurasakan. Semuanya saling berbagi energi, saling menghargai dan saling
menghangatkan
Sore di sekolah. Saat senyum-senyum itu
mengelilingiku. Gelak canda dan tawa meriuh di sepanjang pematang sawah. Panorama
pedesaan yang mengelilingi ruang kelas. Teringat jelas satu-satu temanku.
Ketulusan mereka, penghargaan mereka dan kenangan yang mereka patri di
sepenggal hidupku. Ke manapun aku melangkah, hati ini akan selalu terpaut pada
kenangan itu
Sore di sawah. Saat kulitku coklat oleh
matahari yang memanggang. Batang tomat yang berbaris rapi menjadi teman dalam
keseharian. Buahnya adalah harapanku, karena dari jumlah tomat yang terisi
dalam keranjang menentukan rezeki keluarga kami di hari itu. Tumpukan jerami
mengundang untuk berbaring di dekapnya. Sembari menatap lepas ke langit sana.
Menguntai impian tentang masa depan yang indah
Sore yang kelabu oleh hujan. Tatkala aku
di terpaku di sudut kampus. Menatap rimbun mangga yang berbunga. Bayangannya
sendu, serupa hatiku yang hampir tak mampu tersenyum. Saat galau ketika begitu
banyak ingin yang tak mampu kurengkuh. Tatkala asa yang telah kusulam dengan
mimpi-mimpi harus kandas oleh kenyataan. Perihnya pernah menikam, hingga hatiku
seperti terkena infeksi ganas. Hampir-hampir aku mengira luka itu tak akan
pernah sembuh oleh apapun. Kini, setelah berbilang musim, aku belajar satu hal.
Bahwa waktu adalah penyembuh yang paling jitu
Sore di pegunungan. Yang pernah kuisi
dengan bercerita tentang warna langit. Biru, jingga dan kelabu. Diselilingi
nila dan cirrus putih menipis. Suara angin menjadi sound track. Dan sore seakan
menjadi waktu yang selalu kurindukan. Mengeja perjuangan di bilangan keimanan.
Menata rasa agar tak salah memaknai cinta
HHHH.... dan kini aku sendiri. Melanjutkan
hidup dengan keseorangan. Jauh dari keluarga, jauh dari teman dan jauh dari
momen-momen yang kusukai. Aku rindu pada semua hal itu. Hanya satu yang
menguatkanku. Meski segala hal yang pernah kunikmati kini tak lagi ada
bersamaku. Namun aku yakin, meski aku sendiri...hakikatnya aku tak pernah
sendiri. Karena aku memiliki tempat bergantung. Yang tak akan pernah
meninggalkanku selamanya. Dia adalah.....Tuhanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar