Selasa, 01 Maret 2011

Inikah Cinta

Seperti bunga di pucuk dedaunan yang baru berkenalan dengan siraman air hujan, maka pernikahan telah mencorakkan begitu banyak warna di hatiku. Hadirnya laksana kelebat angin di saat udara memanas, mengalirkan kesejukan dan juga kebahagiaan. Dulu...seringku bertanya...bagaimanakah rasanya dicintai dan juga mencintai...? Kini ...perlahan aku mengetahui jawabannya.
Aku tak tahu persis apakah ini yang disebut mencintai...? Ada khawatir ketika dia tak ada di sisi. Perasaan kehilangan umpama daun yang tak berjumpa dengan cahaya matahari. Rindu....seperti bergolak dan pecah pada dada yang ingin mendekapnya, ketika cukup lama waktu memisahkan. Tatkala menatapnya ada rasa yang berkecamuk, kagum, sayang, acap kesal....ketika dia bertingkah tak sesuai keinginan. Jika menyibak segala kelemahannya, begitu besar keinginan untuk menyempurnakannya. Jika dia ganjil...maka aku ingin menggenapkannya. Jika dia puzle, maka aku ingin melengkapinya. Selalu berusaha melakukan yang terbaik untuknya....meski tertatih dan tak mudah untuk dijalani. Tapi dari keseluruhan rasa itu...ada satu warna yang mendominasi....bahagia!
Aku pun tak paham pasti apakah ini yang disebut dicintai? Meski ia pernah mengucapkannya....namun tatapannya mengatakan jauh dari apa yang pernah dia lisankan. Rasa menyayangi...melindungi....mencintai...kulihat bagai aura yang memancar di segenap gerak geriknya. Lelaki itu membuatku merasa tersanjung. Ketika di segenap waktunya dia berusaha untuk memenuhi janjinya padaku. Ya...mungkin janji adalah kewajiban, tapi kukagum dengan komitmennya untuk memenuhi hal itu. Siapalah aku...yang selalu harus ia tunggui hanya sekedar untuk memastikan aku pulang dengan selamat dan bebas dari kemacetan. Tegurnyapun tak lebih dari suara lembut yang berisi kata-kata santun pengingat kebengalanku. Ketika aku masih asyik bergumul dengan kesenanganku padahal itu cukup mengganggunya. Hingga kini, belum pernah sekali pun ia bersuara keras kepadaku
Lelaki itu tak sempurna....aku tahu pasti tentangnya. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya begitu sempurna di mataku. Dia adalah lelaki penyayang dan juga santun....yang begitu setia untuk mengajariku tentang arti cinta. Dan juga begitu kukuh untuk menunjukkan padaku bahwa laki-laki bukanlah makhluk egois sebagaimana yang selama ini aku tuduhkan.
Belum lama memang....hari-hari ini masih terangkai dari detik-detik yang berlari dan berlalu. Belum cukup lama hingga bermusim-musim untuk membuktikan azzam....hanya sebuah azzam yang sederhana....menjadi tua bersama di dunia....dan menjadi sepasang kekasih hingga ke akhirat. Entah....akankah azzam itu mewujud padaku dan padanya

Biarkanlah

hidup adalah serangkaian pilihan
semua orang juga tahu
tapi tentang pilihan itu memiliki konsekuensi
tak semua orang paham
jika engkau ingin begini
segerombolan orang ribut mencibir
jika engkau ingin begitu
sebagian orang sinis mendengus
huh...kenapa engkau begini dan begitu
manusia hanyalah maniken berjalan
sekiranya ia tak punya jiwa
maka sudikah kau menjadi maniken berjalan
dengan menggadai jiwamu pada hedonisme
tak mungkin engkau mendapat persetujuan semua orang
pun tak mungkin engkau menuruti semua keinginan mereka
lalu mengapa engkau tak biarkan saja
mereka mengatakan atau melakukan apa saja
selama engkau yakin berjalan di tempat yang benar
melakukan hal yang benar
berpegang pada nilai yang benar
dan tertatih menetapi kebenaran
bersabarlah
akhirnya suara-suara sumbang akan hilang
dan yang tetap terdengar adalah kebenaran
ini hanya masalah kekuatan untuk bertahan
bersabarlah dan biarkan angin membawa jauh
krasak krusuk suara manusia yang tak pernah memiliki kesempurnaan
jauh....ke pelosok hutan yang tak tersentuh

Baik Tak Baik

sunyi hening dalam rinai
merapal ingin ke lubuk hati
adakah asa sanggup menjuntai
pada remah resah dan sangsi
inikah dia lakon duniawi
menyayat mencabik tanpa nurani
segala aksi penuh tendensi
tiada kebaikan kecuali pamrih
duhai
aku tak ingin
jika hati berwarna duri
beronak-onak tanpa henti
hanya akan membuat letih
bahagia sulit dicari
adalah lebih baik
jadi perdu di pangukan bumi
diinjak-injak kaki
tapi tak pernah merintih
tetap lekat dalam konsistensi
sekali baik
tetap baik
tak peduli orang baik
atau tak baik

Berbagi Suami

rasanya begitu sakit ketika tertampar oleh kenyataan. lebih lebam dari sekedar ditampar oleh tangan nan perkasa. Tamparan oleh realitas bahwa kadang manusia tercabik-cabik oleh cinta. Hh....utamanya jika cinta itu adalah cinta yang salah. Beberapa hari ini aku menjumpai perempuan-perempuan yang tergolong makhluk "langka". Entah jika ini justru menjadi keadaan dominan. Menjadi fenomena yang tak terungkap tapi nyata. Perempuan yang bersedia menjadi cinta yang kedua. Bukan mereka tak paham rasa sakit yang sedang dan akan dihadapi. Bukan pula mereka tak tahu konsekuensi dari pilihan yang tak lazim itu. Namun ketika cinta sudah menguasai...maka rasio seakan tak berarti lagi. Kembali kuterpekur pada hidupku. Kembali terngiang apa yang pernah kututurkan pada sosok itu. Duhai...aku tak ingin mencintaimu dengan sangat, karena itu pasti membuatku terluka lebih dalam. Aku hanya ingin mencintai dengan sederhana....sehingga hatiku tak akan pernah terluka. Namun sayang...cinta tergolong fenomena yang uncontroll. Sulit untuk menangkar hati pada skala yang kita inginkan. Aku pun menyadari...bahwa aku tak akan pernah bisa mencintainya dengan sederhana. perlahan tapi pasti...cintaku pada lelaki itu tergolong pada cinta yang menghujam...mulai dalam...berurat dan mengakar....juga berpotensi untuk menimbulkan kelukaaan yang berdarah-darah.
Bicara tentang fenomena berbagi...dulu waktu jomblo aku merasa akan sanggup untuk melakoni pilihan itu. Berbagi suami demi syurga yang hakiki. Itu kondisi ideal...sebelum hati terpaut pada cinta seseorang. sekilas pilihan itu bagiku begitu mudah...dulu. Karena seleraku pada laki-laki masih terkalahkan dengan kelezatan yang kunikmati dari buku-buku yang kukunyah. Aku sanggup meredam kebutuhanku pada laki-laki dibawah hingar bingar ilmu pengetahuan. Tapi sekarang...setelah mencintai....aku sangat paham mengapa pilihan itu diganjar dengan syurga. Sungguh tak mudah untuk berbagi orang yang kau cintai. Egoisme yang paling radikal akan menyeruak dan memaksa hati untuk berkata tidak. Karena cinta tak akan pernah mengizinkan siapun menjadi sekutu.
Hhhh....dan yang acap kutanyakan padanya. Tentang apa yang dicari oleh kaum adam dari anak keturunan hawa? kenapa mereka tak pernah cukup dengan satu pelabuhan saja. Perselingkuhan tak mungkin bisa terjadi jika hanya satu pihak yang mengawali. Interaksi butuh kehadiran kata saling. Yang tentu saja mengharuskan keterlibatan dua pihak. Oh...lelaki...loyalitas mereka terhadap satu cinta sangat rapuh. Lebih rapuh dari sarang laba-laba di ruangan tak berpenghuni. Kehausan mereka akan wanita seakan tak bisa dipuaskan hanya dengan kehadiran seorang istri. Bahkan tak melihat seberapa sempurna dan baik istri yang hadir untuk mereka. Entah...jika itu adalah fitrah. Maka mempercayai cinta lelaki hanya untukmu seorang....itu seperti mengharapkan hujan di kemarau yang teramat sangat. Begitu langka dan sulit untuk didapatkan.
Menatap wajah lelaki itu...yang dikatakan sebagian orang cukup menawan...membuatku terhenyak dan terhempas pada sebuah kesadaran. Suatu waktu akupun harus menyiapkan hatiku untuk terluka. Bisa jadi mata yang indah itu tak lagi kumiliki seorang diri. Bisa jadi senyum yang manis itu tak kunikmati seorang diri. Bisa jadi pula kehangatan dekapannya harus kubagi. Meski sulit....tapi aku takut jika ternyata harus melakoninya. Lelaki itu selalu berkelit...jika topik yang kuangkat adalah fenomena kerapuhan loyalitas kaum lelaki. Entah...kenapa dia begitu gusar. Aku tak menuduh...tidak pula mencela. Hanya membeberkan inilah kadar cinta dan kesetiaan seorang lelaki. Sedangkan bagiku dan bagi para perempuan lain...cinta itu hanya sekali....maka sekali mencintai selamanya tak akan terbagi. Seperti pepatah waktu SMA dulu....agak berlebihan memang....sekali satu tetap satu harram jadi dua
cinta...oh ...cinta....tak akan pernah habis untuk dikupas. Kenyataan ini kembali mengingatkan bahwa cintapun butuh pengalas yang teramat kuat. Butuh sandaran yang cukup kukuh. Butuh alasan yang menyabarkan...itulah cinta kepada Allah. Satu suara menggaung dari hatiku yang paling lubuk. Pilihan pilihan sulit dan rasa terluka hanyalah bagian dari ujian. Rasa egois dan keserakahan juga unsur dari hawa nafsu. Ingat satu hal...bahwa apapun yang terkait dengan dunia maka pasti akan ditinggalkan. Maka lepaskanlah....lepaskan pautan hatimu dari segala keduniawian...pun pada sesosok insan yang bernama kekasih. Suami hanya untuk dicintai....bukan dimiliki. Karena dia adalah milik Tuhannya..yang suatu waktu pasti kembali padanya. Entah ketika kau didunia...atau ketika kau tak mampu lagi menatapnya. Selalu bermohon...jika itu adalah takdirku maka berikanlah aku hati yang lapang untuk tetap mencintainya. Jiwa kuat untuk selalu membahagiakannya dan kesabaran yang luas untuk selalu berprasangka baik pada segala ketentuanMU.

Suara perempuan kedua

pada mata kurejam dalam-dalam
meski tak hendak namun dia memaksa
menyeruak dengan nanar
membuatku harus menatap
harus memandang
harus terpikat
harus berkata
aku tertawan
aku terpenjara cinta
kemana akan kubawa galau yang mendera
jika hatimu sekedar muara saja
tak pernah berbalas
maka cinta hanya jadi sejarah
tak akan tumbuh dan merekah
bagai bunga yang tertinggal di padang kerontang
maka akan kubiarkan
cinta itu layu saja
dalam hati yang tak bersuara
dan jiwa yang terdiam
tak kuasa
untuk menggenggam
tak berdaya untuk menjabat
tanganmu yang telah terikat
terpaut pada jemari lainnya
jemari wanita yang lebih awal
lebih awal memberimu cinta

Kesah

esah yang kusulam dalam diam
tak pernah kuucap atau kuungkap
hanya kueja lewat tatap
bahwa aku gamang dalam dilema
jika aku rejam dalam dekap
ada rasa indah dan bahagia
namun ku sadar suatu ketika
aku pasti kehilangan
dan semuanya kan punah
bila cinta mulai bertunas
maka luka merambat perlahan
jadi bayangan
yang akan menikam diam-diam
cinta dan luka
tak akan terpisah
jika berani mencinta
maka bersiaplah untuk terluka
aku ingin mencintai dengan sederhana
karena kutahu dunia tak kekal
segala yang ada pasti binasa
pun cinta yang pernah meraja
rabbi.....ajari aku jadi pencintaMu
Hingga dekap itu kunikmati dengan namaMu
pun cinta yang tumbuh
semuanya berada dalam naunganMu
karena hanya dengan keagunganMu
semua itu mampu kunikmati sungguh
tanpa ragu
ataupun sendu

Kenapa sih harus nyontek

ini adalah suara hati yang lama terpendam. tetapi suara itu nyaris menyerupai api dalam sekam. tak nampak memang, namun sesungguhnya dia menggelegak dan siap memuntahkan api kepada siapa saja. ya...siapa saja yang mempertahankan budaya tak tahu malu bin pecundang. jadi tukang nyontek! Rasa itu mulai terbit ketika musim ujian menjelang. tindakan-tindakan amoral yang dilakukan oleh sosok yang mengaku intelektual nyaris membuatku terserang super emesis, layaknya perempuan ngidam dua bulan. kenapa perilaku itu begitu menjijikkan. mungkin ini agak berlebihan...tapi sungguh aku sangat membenci perilaku menyontek. sejak dulu mulai bersekolah sampai menyelesaikan gelar kesarjanaan. aku selalu menutup rapat ruang hati bagi sebuah perbuatan yang bernama "menyontek". dan aku membenci semua oknum yang berkontribusi di dalamnya. maka selama aku masih bisa berperang melawan perbuatan itu....maka aku akan terus berjuang. memberantas tindakan asusila dalam dunia cendekia...
wahai.....mahasiswa yang masih berhati nurani....sadarkah engkau bahwa sesungguhnya menyontek adalah cikal bakal bagi perbuatan jelek lainnya. menyontek adalah bibit bagi perbuatan korupsi, kolusi ataupun mencuri. bagaimana tidak, engakau mengakui jerih payah orang lain sebagai milikmu sendiri. engkau mengambil keringat orang lain demi nilai dan martabat dirimu. padahal...belajar itu tak mudah. semua orang berpaya-payah...enak saja engkau langsung melirik sana melirik sini. sungguh tidak tahu malu!
Aku sebenarnya tergolong pendukung aliran kesantunan. semua hal harus dilekatkan dengan kelembutan dan kebaikan. tetapi jika menyangkut perbuatan yang satu ini tak tahu dari mana semua kata-kata kesar beredar di kepalaku. mungkin ini dampak dari rasa tidak suka yang sangat menghujam. karena perbuatan menyontek adalah perbuatan yang diharamkan Allah Subhanahu wa ta'ala
pokoknya....menyontek adalah perbuatan tercela. maka tercela pula semua stake holder yang terlibat di dalamnya. baik yang menyontek ataupun yang memberikan contekan
tidak ada manusia yang lebih bodoh menurutku dari pada orang yang memberikan contekan kepada orang lain. mereka itu tergoleng spesies pahlawan kemalaman...bukan lagi kesiangan. kalau memang engkau pintar, maka berekspresilah pada tempatnya. waktu ujian bukanlah saat yang tepa untuk menunjukkan kecerdasanmu dengan membeberkan semua jawaban yang kau tahu. cukup diam dan selesaikan tugasmu...jangan norak dengan menarik perhatian sehingga teman-temanmu mulai melancarkan aksi kode-kode maut kepadamu. huh....itu bukan perbuatan cendekia!
intinya....ujian adalah evaluasi personal. kita ingin mengukur sejauh mana kemampuan kita dalam menguasai ilmu pengetahuan. ketahuilah, bahwa tahu adalah tingkatan pengetahuan yang paling rendah pada hirarkinya. jika dalam masalah menempelkan pengetahuan di kepalamu saja engakau tak becus..bagaimana mewujudkan pengetahuan itu sebagai laku dalam keseharianmu. ilmu tak diukur dari apa yang kau tahu....tapi ilmu dinilai dari seberapa banyak wujudnya yang kau hadirkan pada dunia
jika engkau adalah intelek sejati maka jauhi tindakan menyontek dalam bentuk apapun. lebih baik bermandi peluh kau belajar untuk melekatkan ilmu itu pada kepala dan hatimu dari pada mengandalkan orang lain untuk menyelamatkan mukamu dari kehancuran.
ada kalanya kita harus berbagi dan bersama orang lain
namun ada waktunya kita harus berjuang sendiri dan bangga menunjukkkan inilah yang dapat kita lalukan