rasanya begitu sakit ketika tertampar oleh kenyataan. lebih lebam dari sekedar ditampar oleh tangan nan perkasa. Tamparan oleh realitas bahwa kadang manusia tercabik-cabik oleh cinta. Hh....utamanya jika cinta itu adalah cinta yang salah. Beberapa hari ini aku menjumpai perempuan-perempuan yang tergolong makhluk "langka". Entah jika ini justru menjadi keadaan dominan. Menjadi fenomena yang tak terungkap tapi nyata. Perempuan yang bersedia menjadi cinta yang kedua. Bukan mereka tak paham rasa sakit yang sedang dan akan dihadapi. Bukan pula mereka tak tahu konsekuensi dari pilihan yang tak lazim itu. Namun ketika cinta sudah menguasai...maka rasio seakan tak berarti lagi. Kembali kuterpekur pada hidupku. Kembali terngiang apa yang pernah kututurkan pada sosok itu. Duhai...aku tak ingin mencintaimu dengan sangat, karena itu pasti membuatku terluka lebih dalam. Aku hanya ingin mencintai dengan sederhana....sehingga hatiku tak akan pernah terluka. Namun sayang...cinta tergolong fenomena yang uncontroll. Sulit untuk menangkar hati pada skala yang kita inginkan. Aku pun menyadari...bahwa aku tak akan pernah bisa mencintainya dengan sederhana. perlahan tapi pasti...cintaku pada lelaki itu tergolong pada cinta yang menghujam...mulai dalam...berurat dan mengakar....juga berpotensi untuk menimbulkan kelukaaan yang berdarah-darah.
Bicara tentang fenomena berbagi...dulu waktu jomblo aku merasa akan sanggup untuk melakoni pilihan itu. Berbagi suami demi syurga yang hakiki. Itu kondisi ideal...sebelum hati terpaut pada cinta seseorang. sekilas pilihan itu bagiku begitu mudah...dulu. Karena seleraku pada laki-laki masih terkalahkan dengan kelezatan yang kunikmati dari buku-buku yang kukunyah. Aku sanggup meredam kebutuhanku pada laki-laki dibawah hingar bingar ilmu pengetahuan. Tapi sekarang...setelah mencintai....aku sangat paham mengapa pilihan itu diganjar dengan syurga. Sungguh tak mudah untuk berbagi orang yang kau cintai. Egoisme yang paling radikal akan menyeruak dan memaksa hati untuk berkata tidak. Karena cinta tak akan pernah mengizinkan siapun menjadi sekutu.
Hhhh....dan yang acap kutanyakan padanya. Tentang apa yang dicari oleh kaum adam dari anak keturunan hawa? kenapa mereka tak pernah cukup dengan satu pelabuhan saja. Perselingkuhan tak mungkin bisa terjadi jika hanya satu pihak yang mengawali. Interaksi butuh kehadiran kata saling. Yang tentu saja mengharuskan keterlibatan dua pihak. Oh...lelaki...loyalitas mereka terhadap satu cinta sangat rapuh. Lebih rapuh dari sarang laba-laba di ruangan tak berpenghuni. Kehausan mereka akan wanita seakan tak bisa dipuaskan hanya dengan kehadiran seorang istri. Bahkan tak melihat seberapa sempurna dan baik istri yang hadir untuk mereka. Entah...jika itu adalah fitrah. Maka mempercayai cinta lelaki hanya untukmu seorang....itu seperti mengharapkan hujan di kemarau yang teramat sangat. Begitu langka dan sulit untuk didapatkan.
Menatap wajah lelaki itu...yang dikatakan sebagian orang cukup menawan...membuatku terhenyak dan terhempas pada sebuah kesadaran. Suatu waktu akupun harus menyiapkan hatiku untuk terluka. Bisa jadi mata yang indah itu tak lagi kumiliki seorang diri. Bisa jadi senyum yang manis itu tak kunikmati seorang diri. Bisa jadi pula kehangatan dekapannya harus kubagi. Meski sulit....tapi aku takut jika ternyata harus melakoninya. Lelaki itu selalu berkelit...jika topik yang kuangkat adalah fenomena kerapuhan loyalitas kaum lelaki. Entah...kenapa dia begitu gusar. Aku tak menuduh...tidak pula mencela. Hanya membeberkan inilah kadar cinta dan kesetiaan seorang lelaki. Sedangkan bagiku dan bagi para perempuan lain...cinta itu hanya sekali....maka sekali mencintai selamanya tak akan terbagi. Seperti pepatah waktu SMA dulu....agak berlebihan memang....sekali satu tetap satu harram jadi dua
cinta...oh ...cinta....tak akan pernah habis untuk dikupas. Kenyataan ini kembali mengingatkan bahwa cintapun butuh pengalas yang teramat kuat. Butuh sandaran yang cukup kukuh. Butuh alasan yang menyabarkan...itulah cinta kepada Allah. Satu suara menggaung dari hatiku yang paling lubuk. Pilihan pilihan sulit dan rasa terluka hanyalah bagian dari ujian. Rasa egois dan keserakahan juga unsur dari hawa nafsu. Ingat satu hal...bahwa apapun yang terkait dengan dunia maka pasti akan ditinggalkan. Maka lepaskanlah....lepaskan pautan hatimu dari segala keduniawian...pun pada sesosok insan yang bernama kekasih. Suami hanya untuk dicintai....bukan dimiliki. Karena dia adalah milik Tuhannya..yang suatu waktu pasti kembali padanya. Entah ketika kau didunia...atau ketika kau tak mampu lagi menatapnya. Selalu bermohon...jika itu adalah takdirku maka berikanlah aku hati yang lapang untuk tetap mencintainya. Jiwa kuat untuk selalu membahagiakannya dan kesabaran yang luas untuk selalu berprasangka baik pada segala ketentuanMU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar