Selasa, 01 Maret 2011

Menulis atau Mati

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan karya. Pepatah lama ini penting juga untuk kita perhatikan. Ketika kita telah menjadi sesosok insan, apa yang dikenal dunia dari diri kita? Jejak apa yang telah kita tinggalkan sehingga dunia akan tetap mengenang kita. Hingga meski kita telah lama hilang dari dunia ini, namun sejatinya diri kita masih eksis dalam kehidupan. Karena mimpi, pemikiran, harapan dan cita-cita kita tetap terukir indah.

Bagaimana cara mewujudkan hal itu? Salah satunya adalah dengan menulis. Tulisan membuat kita akan dikenang oleh zaman. Mendokumentasikan semua hal yang pernah kita rasa ataupun kita pikirkan. Menulis adalah cara untuk mewariskan mimpi dan cita-cita kepada generasi pelanjut. Jika anda tak ingin hidup anda seperti buih, cobalah untuk menulis mulai sekarang. Apapun itu, meski hanya goresan perasaan yang dalam pandangan anda tak berarti. Tapi percayalah, bisa jadi lewat goresan itu dunia mengenal, mengenang dan mengekalkan kehidupan anda
Menulis adalah sebuah bentuk pembelajaran. Ketika anda menulis sesungguhnya anda tengah belajar.

Mengurai ide-ide yang ada di kepala anda, mengkomunikasikan apa yang anda rasakan dan memikirkan bagaimana agar tulisan itu bisa dinikmati dengan mudah oleh pembaca. Menulis akan membuat anda tetap pintar dan berpikir. Tentu hal tersebut akan membuat diri anda eksis, sebagaimana sebuah perkataan "aku berpikir, maka aku ada"
Saudara kandung dari menulis adalah membaca. Jika seseorang senang menulis maka ia pasti suka membaca. Karena kekayaan ide dan kosa kata yang dibutuhkan dalam menulis, sebagian besar diperoleh dari membaca. Pun jenis bacaan itu akan berpengaruh pada kualitas tulisan. Jika anda terbiasa membaca buku-buku bagus dan berkualitas, maka Insya Allah anda pun akan menjadi penulis yang handal.

Meski budaya menulis dan membaca pada masyarakat kita masih sangat rendah. Kita jangan pernah patah arang. Jika kita tidak mampu merubah orang lain, kenapa kita tidak mulai dari diri kita sendiri. Dari pada mengharap burung yang terbang membumbung, lebih baik kita menyelamatkan punai di tangan. Sekarang, mari kita sama-sama membentuk komunitas penulis. Memang sih tulisan kita mungkin belum sekualitas tulisannya Andrea Hirata atau penulis hebat lainnya. Tapi kita harus terus berlatih. Kita percaya ala bisa karena biasa. Yang paling penting menurut saya nih, ketika kita aktif dalam komunitas penulis, yakinlah bahwa kita adalah cendekia yang akan tetap eksis. Karena tulisan kita akan mematri setiap jengkal dari diri kita dalam kehidupan. Jadi, tunggu apa lagi, yuk menulis!
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar