Selasa, 01 Maret 2011

Ternyata...menikah itu

sekian lama ingin berbagi rasa ini. Tentang pengalaman mengecap sebuah peristiwa yang telah lama dinantikan. Peristiwa terindah bagi seluruh manusia. Sebab padanya segala cinta berbaur dalam bingkai kebahagiaan. itulah pernikahan
Dulu....ketika masih jomblo, menikah dalam definisiku adalah keindahan dan kebahagiaan. Aku tak mengenal definisi lain. Tapi....subhanallah, ketika mengecapnya sendiri...kini aku paham bahwa ternyata menikah itu tak hanya punya satu atau dua warna saja. Yang semuanya mungkin merujuk pada keindahan. Namun, ternyata menikah itu lebih kepada perjuangan dan pengalaman baru yang tak sanggup terlukis dengan kata-kata. Sebuah episode kehidupan yang lebih seru dan membutuhkan kelapangan hati.
Berkata itu mudah...namun mengaplikasikannya ternyata teramat sangat berat. Menerima orang lain sebagai bagian diri bukanlah pekerjaan yang mudah. Begitu banyak kepingan diri yang harus dipadankan. Begitu luas aspek yang harus diselaraskan. Dan begitu banyak kewajiban yang harus ditunaikan. Semuanya membutuhkan energi, tak semata semata nutrisi fisik, yang paling penting tentu saja adalah nutrisi jiwa
Jika sebelum pernikahan kesabaran itu telah kita punya, maka setelah menikah kesabaran itu harus lebih banyak lagi persediaanya di gudang hati kita. Jika sebelum menikah kita terbiasa berurai air mata, maka bersiaplah setelah menikah akan lebih banyak lagi air mata yang menghiasi hari-hari kita. Tapi, tak semuanya air mata duka....sebagian besarnya adalah airmata kebahagiaan
Kenapa....ya....karena kita bahagia telah mampu menundukkan sisi kelam egoisme dalam jiwa kita
Kita bahagia karena mampu mensyukuri sesuatu yang tak sesuai dengan nafsu
Kita bahagia karena bisa menyelesaikan masalah-masalah yang datang silih berganti
Dan yang paling penting, kita bahagia karena sekarang kita tak sendirian lagi menghadapi semua kesulitan, ada seseorang yang menguatkan dan juga dikuatkan
Ada sekeping hati yang melengkapi dan dilengkapi
intinya....kita mencoba dewasa memandang kehidupan ini, termasuk pula pernikahan. Bahwa semuanya selalu punya dua sisi....tak bisa tidak....itulah Sunnatullah. Jika kita mampu menrima kebaikan maka kitapun harus bersiap untuk menerima keburukan....sebagaimana pula jika kita berani untuk mencinta....maka bersiaplah pula untuk terluka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar