Bismillahirrahmanirrahim
Kepada Suamiku yang kucintai karena Allah semata
Lembaran ini adalah manifestasi keinginan yang terpendam selama bertahun-tahun….sejak adolenses menyapa…..aku ingin sekali menulis selembar surat cinta kepada lelaki yang kusayangi. Selama bertahun-tahun tak pernah kulakukan….bahkan kepada sosok manapun….hingga kini
Maka berkenanlah menerima suratku ini…..mungkin terasa kekanakan, tapi izinkan aku….karena ini seperti luapan hati yang kini baru menemui muaranya. Dan muara itu ada pada hatimu
Suamiku….mengawali kalimatku untukmu, tentu saja tak pernah aku lupa untuk mengajakmu bersyukur kepada Allah, yang telah menyatukan kita dalam kebaikan dan memberikan kita begitu banyak kebahagiaan. Khusus bagiku, syukurku sepertinya tak pernah cukup untuk memujiNya atas kehadiranmu dalam hidupku
Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada junjungan kita tercinta, yang mana pernikahan inipun semoga adalah bentuk ketaatan pada sunnahnya, tak hanya memenuhi kebutuhan kemanusiaan belaka. Rasul yang menunjukkan kita contoh terbaik, dengan kisah cinta terindah untuk kita ikuti. Dan aku ingin sekali menjadi seperti Khadijah bagi Muhammad untukmu
Kekasih….sebagai sosok yang selalu berusaha menjaga kehormatan diri, maka pernikahan bagi kita ibarat waktu magrib tatkala berpuasa. Tentu kebahagiaan yang tak terhingga. Bagiku engkau adalah hidangan berbuka terbaik, paling lezat dan menyehatkan. Walau….aku begitu cemas suamiku apakah bagimu aku adalah hidangan berbuka seperti yang kau inginkan. Maafkan atas segala kekurangan…tapi sungguh aku ingin sekali melakukan yang terbaik untukmu.
Suamiku..bagiku engkau memiliki banyak arti. Yang terpahat dalam waktu-waktu yang kulewati. Engkau adalah salah satu bukti kebesaranNya..tentang do’a dan tawakkal yang kupanjatkan padaNya. Tentang harapan dan berserah hanya kepada satu-satunya zat yang Maha Mengabulkan. Engkau adalah jawaban atas segala kecemasan dan kesedihan. Engkau adalah senyuman ibuku….maka sekali lagi aku ingin berterima kasih pada Allah, kemudian kepadamu….atas sesungging senyuman di wajah ibuku. Akhirnya ia punya menantu…setelah sekian lama hatinya bersedih dalam cemas karena putrinya tak kunjung menikah. Kau tahu….meski menikah adalah keputusan besar tapi aku berusaha untuk tegar karena aku ingin sekali membuat ibuku bahagia…sungguh, aku ingin sekali ia bahagia
Suamiku…aku hanya sosok yang tak sempurna. Sama sebagaimana manusia lainnya. Hanya… aku ingin menjadi hamba Allah yang berbakti dengan mentaatimu. Maka bantulah aku untuk taat kepada Allah kemudian kepadamu. Engkau pastinya tahu, bahwa istrimu laksana dahan yang bengkok, maka luruskanlah ia dengan kelembutan, jika tidak maka ia akan patah. Kasihilah aku karena kelemahanku dan bimbinglah aku karena ketidaktahuanku
Pernikahan ini semoga tak hanya manis pada awalnya, tapi semakin indah seiring waktu kebersamaan kita. Inilah buhul yang kita telah terikat padanya, dan semoga ikatan itu kekal di dunia dan akhirat. Sudikah engkau menjadikan aku istrimu di dunia dan di surgaNya kelak?. Perjalanan ini tentu menghadapi banyak onak dan duri, maka jangan pernah lepaskan tanganku, teruslah berada di sisiku sebagaimana aku tak akan pernah meninggalkanmu…aku akan selalu berada di sisimu…akan terus menggenggam tanganmu…menyeka keringatmu…tersenyum kepadamu…dan menyemangatimu. Insya Allah kita bisa melewati segalanya bersama. Adalah kehormatan bagiku ketika engkau mau berbagi segalanya bersamaku…karena bagiku engkau adalah belahan jiwaku. Bahagiamu adalah bahagiaku dan kesedihanmu adalah air mata untukku. Tolong….jangan zhalimi aku suamiku dengan menanggung kesusahan itu sendirian, tapi berbagilah denganku. Biarkan aku belajar untuk meletakkan senyumanku pada kebahagiaamu dan air mataku pada kesedihanmu
Suamiku….semoga kita menjadi kepingan puzzle yang saling melengkapi. Diri kita memang pasti tak sempurna. Namun semoga diri-diri kita saling menutupi satu sama lain. Maka bersabarlah atas kekurangan istrimu, sebab bisa jadi dia kurang di sisi lain namun engkau menyukainya pada sisi yang lain. Jika ada hal yang tidak berkenan dihatimu…bicaralah kekasihku….tegur aku….karena bagaimana mungkin aku bisa berbenah jika aku tak tahu apa yang kau harapkan dari diriku. Aku akan berusaha menjadi seperti apa yang kau harapkan…semata-mata karena mengharap wajahNya…bukan semata cintamu.
Suamiku…aku ingin sekali membangun rumah kita di atas konsep fastabiqul khaerat. Maka yang terbaik adalah yang paling suka berbuat baik. Saling mengingatkan, saling memperbaiki dan saling menguatkan. Kita adalah bagian dari ummat. Maka kita mulai memperbaiki ummat mulai dari rumah kita. Bersabarlah untuk membimbingku…semoga Allah menunjukkanmu kebaikan dan memberikanmu balasan yang lebih baik lagi
Suamiku…hal lain yang kuharapkan adalah komunikasi. Tak ada yang tidak bisa kita bicarakan. Aku akan belajar jujur padamu, karena sekarang aku adalah milikmu bukan lagi milik ayahku. Sebab itulah perlakukan milikmu dengan baik agar ia dapat memberi banyak manfaat bagimu. Jika engkau tak memeliharanya, maka milikmu akan cepat usang dan rusak. Katakan apa yang kau inginkan kekasihku…jika engkau tak sanggup bertutur, ucapkan itu lewat tulisan
Suamiku…sebelum menjadi istrimu aku adalah sosok yang sendirian. Selama bertahun-tahun lamanya. Aku tumbuh dan berusaha menjadi sosok yang mandiri. Dan hanya sibuk dengan mengurusi pikiran-pikiranku sendiri. Melakukan apa saja yang kuinginkan. Tapi kini engkau datang menyapa duniaku. Tentu aku butuh waktu untuk beradaptasi. Merubah segala kesendirianku dan mengisinya dengan kehadiranmu. Maafkan atas segala kekhilafan yang kulakukan padamu. Maafkan atas sedikit keegoisanku. Maakan atas segala kekanak-kanakanku. Maafkan ya….
Aku ingin mencintaimu dengan mata tertutup. Tak ingin melihat rupamu atau apa yang kau lakukan padaku. Aku hanya ingin meletakkan tanganku pada jantungmu…merasakan denyutannya….dan tersenyum dalam ketenangan….karena aku yakin engkau mencintaiku. Izinkan aku berlabuh pada hatimu…setelah sekian lama bidukku mengelana di lautan penantian. Perkenankan aku masuk ke dalam hatimu dan mengisinya dengan kebahagiaan. Meski sembari tertatih dan bangkit kembali. Setelah engkau membuhul hatiku pada hatimu…jangan pernah engkau lepaskan. Biarkan buhul itu menyatukan kita dalam kebaikan. Terimalah aku apa adanya seperti aku berusaha untuk menerimamu apa adanya. Izinkan aku menjadi Khadijah bagi Muhammad untukmu. Meski aku tak secantik, setaat, sekaya, secerdas Khadijah. Tapi bantulah aku agar bisa menjadi Khadijah
Selalu terluang untukmu ruang hati untuk menumpahkan segala kesah. Juga sebuah dekapan untuk menenangkan hatimu yang gelisah. Selalu ada sebuah senyuman untuk menguatkanmu dan selembut belaian untuk melelapkanmu. Selalu ada pangkuan untuk membaringkanmu dan sebuah kecupan untuk menidurkanmu. Jadikan aku kekasih, sahabat, teman, rekan, kakak, adik atau apapun yang kau inginkan. Aku hanya mengharap sebuah lengan untuk mendekap dan sebentuk dada untuk merebah. Serta tentunya, sebuah senyuman untuk kucintai
Inilah kalimatku untukmu duhai suamiku…..maafkan jika ada yang tidak berkenan di hatimu. Rasanya lega sekali…akhirnya aku bisa menulis sebuah surat cinta ; )
Salam hormat dan cinta
Istrimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar