Beberapa hari ini, perasaanku sangat tidak enak. Pagi-pagi demam dan kepala rasanya pening sekali. Sensitifitas yang meninggi terhadap berbagai bau-bauan. Apalagi kalau masuk dapur, duh…rasanya sangat menyiksa
Dalam hati, mulai bermunculan bermacam spekulasi. Hamilkah diriku? Hh…tapi aku agak pesimis tentang hal itu. Karena semenjak menikah sembilan bulan yang lalu, harapan itu belum kesampaian juga. Berkali-kali setiap terlambat haid, aku mencoba untuk melakukan uji kehamilan. Hasilnya selalu nihil. Satu garis merah muda seperti tertawa mencibir setiap kali aku usai melakukan tes tersebus. Jadi hopeless juga sih. Sampai-sampai karena inginnya hamil aku pernah mengalami gangguan haid
Aku terlambat hampir dua bulan. Mengalami beberapa gejala yang mirip orang hamil. Sakit kepala, mual, tidak enak makan dan tidak datang haid. Tapi sungguh hancur hatiku, setelah berkali-kali aku tes, hasilnya selalu sama. Negatif. Akhirnya aku seperti trauma melakukan tes kehamilan. Ah…paling hasilnya juga sama
Dari hatiku yang paling lubuk, ada suara lain yang berseru. Harapan itu teryata masih ada. Tidak ada salahnya mencoba kan? Bukankah harapan itu sesuatu yang harus selalu ada. Meski diantara segala ketidakmungkinan dan rasa pesimis. Akhirnya kuminta kepada suamiku untuk membeli alat tes kehamilan
Menjelang siang, suamiku tiba di rumah. Dengan perasaan yang masih tidak nyaman, aku segera mengambil alat itu dari suamiku. Rencananya sih besok subuh saja tes itu aku lakukan. Apalagi yang digunakan adalah urine primer. Air seni yang keluar pertama kali setelah bangun tidur. Tapi rasa penasaran ini tidak bisa kubendung lagi. Aku ingin tahu apakah segala ketidaknyamanan yang kurasakan sekarang adalah pertanda kehamilan.
Setelah menampung air seni, kucelupkan alat tes itu dengan hati-hati. Aku menunggu beberapa detik, sampai HCG terbaca oleh alat tersebut. Beberapa saat kemudian, jantungku rasanya seperti melompat saja. Tak percaya dengan apa yang kulihat. Bukan lagi satu garis yang tertawa mengejekku, tetapi dua garis yang tersenyum dengan manisnya memberiku perasaan yang sangat bahagia. Aku hamil. Kukucek mataku, dan kuperhatikan hasil tes itu berkali-kali. Penampakannya selalu sama, dua garis merah yang tidak berubah. Akhirnya, harapanku terkabulkan juga
Segera kuberitahukan berita itu kepada suamiku. Dia pun tak kalah gembiranya. Do’a-do’a kami selama ini akhirnya terkabul. Setelah bersabar dan berharap dalam waktu yang lama. Anugrah terindah itu kini telah kami nikmati
Beberapa pekan kemudian, rasa tidak nyaman yang kuderita semakin bertambah saja. Mual dan muntah di pagi hari seperti sudah menjadi rutinitas. Entah mengapa, jika masuk ke kamar mandi, lambungku akan segera mengeluarkan semua isinya. Nafsu makanku juga sangat menurun. Semuanya terasa tidak enak. Bahkan makanan kesukaanku, sayur sup, menjadi makanan yang paling tidak kusukai. Baunya saja pernah membuatku hampir pingsan. Makanan yang bisa kunikmati dengan sedikit nyaman adalah jeruk dan mangga muda. Dalam satu hari, hanya dua makanan itu saja yang bisa bertahan di dalam lambungku. Sedangkan yang lain, cuma numpang transit. Setelah beberapa menit dimakan pasti akan dikeluarkan. Bahkan beberapa makanan itu masih dalam bentuk yang masih utuh. Belum dicerna sama sekali
Aku pernah mencoba susu hamil. Khusus untuk yang emesis, seperti anjuran beberapa orang. Tapi tidak ada perubahan. Susu itu juga bernasib sama seperti makanan lainnya. Kumuntahkan kembali. Padahal, harganya tidak murah juga. Akhirnya, aku menghentikan minum susu dan memilih melanjutkan makanan kesukaanku, jeruk dan mangga muda. Ya, mudah-mudahan saja aku tidak mengalami gangguan pencernaan
Setelah kehamilanku memasuki usia 4 bulan. Aneh, semua rasa tidak nyaman itu seperti hilang sendiri. Hilang, tanpa jejak. Aku pun sudah melupakan bagaimana rasanya mual dan muntah di pagi hari. Nafsu makanku juga ikut membaik. Apapun akan aku lahap. Tak peduli enak atau tidak, karena di lidahku semuanya pasti terasa lezat. Sontak saja, berat badanku juga ikut meningkat. Dua kilo dalam satu bulan. Syukurlah, itu pertanda kehamilanku tidak perlu dikhawatirkan
Tapi sekarang, giliran pinggangku yang sering bermasalah. Nyeri dan pegal linu. Padahal aktifitasku standar saja. Bahkan jauh berkurang dibanding sebelumnya. Setelah berkonsultasi pada dokter, katanya itu normal. Hal itu disebabkan karena perbesaran janin dan rahim serta peningkatan beberapa hormon. Aku hanya dianjurkan untuk lebih banyak beristirahat
Pertama kali melakukan USG, perasaanku tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi ketika melihat janin itu bergerak-gerak. Sungguh sangat luar biasa. Aku merasa terharu, duh, itu anakku. Gerakan-gerakannya seakan berucap, bunda aku disini, di dalam dirimu. Setelah itu, aku mulai bisa merasakan janinku bergerak. Lucu rasanya. Kadang dia bergerak seperti ikan. Kadang seperti kupu-kupu. Sering pula ia menendang-nendang kecil. Hingga gerakannya tampak jelas di permukaan perutku. Aku hanya tertawa, tidak sendiri, karena aku tertawa bersama anakku
Hari demi hari kehamilanku semakin besar. Berat badanku konstan bertambah dua kilogram setiap bulannya. Gerakan janinku juga tambah luar biasa. Kuat sekali dia menendang. Sampai-sampai aku merasa badanku hampir limbung dibuatnya. Sekarang dia juga rutin bergerak. Mulai dari pagi, siang dan yang paling terasa adalah di malam hari. Ketika suamiku sedang menonton bola, aku merasa janinku seperti bermain bola juga di dalam rahimku
Ah…setiap hari yang kujalani kini terasa sangat indah. Meski banyak kekhawatiran melanda aku berusaha menikmatinya. Aku hanya berusaha menikmati hari-hariku bersama janinku. Apapun yang terjadi nanti, biarlah itu menjadi rahasiaNya. Tugasku hanya menjaga anugrah ini dengan sebaik-baiknya. Aku selalu menanamkan kasih sayang dan nilai-nilai kebaikan kepada janinku. Dengan mengajaknya bercerita ataupun dengan mengelusnya sepenuh perasaan. Rindu itu semakin membuncah. Ingin segera melihat rupanya. Semoga anakku kelak dijadikan sebagai orang yang bermanfaat bagi orang banyak. Dijadikan sosok yang penyayang, dermawan, pemberani, sabar, cerdas dan terpercaya. Semoga dia bisa menjadi cahaya mata kami, di dunia dan akhirat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar