Jumat, 26 Juli 2013

Mars dan Venus



Pagi kembali menyapa. Dalam derap semangat kepalaku berputar memikirkan agenda sepanjang hari ini. Hari yang sibuk dan penuh dengan tugas-tugas. Jadwal yang padat dan hal-hal yang harus diselesaikan. Hari yang berderap dengan kehidupan. Hari yang bergegas dengan karya. Karena hidup adalah pergerakan.
Tiba-tiba aroma maskulin menyeruak di seluruh udara yang kuhirup. Suasana laut biru memenuhi paru-paruku. Otakku memindai dengan cepat. Ini bau laki-laki. Karena sibuk dengan pikiranku sendiri aku lengah dengan keadaan di sekelilingku. Tanpa sadar ternyata beberapa lelaki baru saja berkelebat di sisiku.
Laki-laki....hhh.....sosok asing itu. Seperti teka-teki berjalan. Mengurai pikiran dan hidup mereka layaknya berhadapan dengan sebuah riset tanpa ujung dan tanpa kesimpulan. Apalagi teori. Menelisik apa yang ada di hati mereka sama sulitnya seperti menemukan jarum di Samudera Atlantik. Memang nggak nyambung, tapi seperti itulah sulitnya memahami seorang laki-laki.
Allah yang Maha Kuasa menjadikan makhluk yang bernama laki-laki itu sebagai manusia yang pertama diciptakan. Atas kesepiannya, maka Allah pun menciptakan seorang teman yang bernama perempuan. Untuk menemaninya. Untuk menghiburnya dan untuk mencintainya. Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk kirinya. Tak diciptakan dari tulang kepala, sehingga laki-laki tak perlu menjunjung dan menyembah  seorang perempuan. Pun tak diciptakan dari tulang kaki, calcaneus misalnya, agar perempuan tak diinjak-injak dan dijajah oleh laki-laki.. Tetapi dijadikan dari tulang rusuk agar ia menjadi pendamping. Sehingga laki-laki menempatkan perempuan di hatinya dan dalam dekap lengan kekarnya
Dalam ilmu Fisika, dikenal adanya tata surya beserta sembilan planet yang mengitarinya. Tersebutlah planet yang paling dekat dengan bumi yaitu planet Mars dan Planet Venus. Pada keseharian, meski laki-laki dan perempuan berada dalam satu bumi, namun mereka seperti hidup di planet yang berbeda. Laki-laki di planet Mars dan perempuan di planet Venus
Dalam pandangan perempuan, laki-laki itu adalah sosok yang egois. Selalu mau menang sendiri. Tak ada ruang bagi pendapat orang lain. Mereka selalu punya alasan untuk membenarkan segala hal yang mereka lakukan. Laki-laki tak pernah sudi untuk diatur atau diperintah. Apatah lagi oleh seorang perempuan. Hal yang paling sulit untuk diterima oleh seorang lelaki normal. Ya, hal tersebut bisa jadi memang kodrat yang diberikan Allah kepada mereka. Karena laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan.
Seorang perempuan yang telah menikah pernah menuturkan hasil pengamatannya tentang sifat laki-laki. Sebuah teori yang didapatkan dari observasi langsung selama hampir sembilan tahun pernikahannya. Didapatkan kesimpulan bahwa laki-laki itu cenderung berpikir praktis. Mereka fokus pada satu masalah saja. Kurang peka dan kurang mampu berempati.Tak suka ditentang dan tak suka dilawan. Mereka adalah makhluk yang sangat dominan dan berpikir dengan otak kiri mereka
Sedangkan perempuan diberikan oleh Allah kecerdasan bahasa yang melebihi laki-laki. Titik broka di otak perempuan berkembang dengan sangat baik sehingga mereka sangat suka berbicara. Mereka juga sangat perasa dan sensitif. Dominan berpikir dengan otak kanan sehingga mereka sangat pandai berempati. Ini penjelasan ilmiah kenapa kaum hawa sangat suka ngerumpi dan ngegosip.
Nah, hal tersebutlah yang biasa memicu munculnya fenomena piring terbang di beberapa rumah tangga. Lantaran persoalan sepele perabot yang dibeli dengan susah payah hancur dan musnah dalam waktu singkat. Karena laki-laki tak suka dilawan sedangkan perempuan sangat suka berbicara, maka masalah kecil merebak menjadi sebuah pertengkaran dasyat. Omelan-omelan dari perempuan tak jarang memicu amarah laki-laki yang menyebabkan fenomena tangan melayang juga menyertai pertengkaran itu.
Ah, andai laki-laki dan perempuan bisa lebih dewasa. Mengapa perbedaan justru dijadikan peretak. Bukankah Allah menciptakan perbedaan itu pasti dengan sebuah hikmah. Seyogyanya, perbedaan tidak menimbulkan perpecahan. Namun justru dengan perbedaan itu laki-laki dan perempuan bisa saling melengkapi. Seperti sepasang hati yang saling menggenapkan dan saling mengisi. Mengapa piring dan gelas itu tak diisi dengan beberapa potongan bolu coklat dan teh hangat? Dari pada saling melempar, lebih baik duduk berhadapan. Bicara sembari menikmati bolu coklat yang legit dan hangatnya teh melati. Pernikahan diawali dengan cinta, harusnya dijalani dan diakhiri dengan cinta pula
By the way, bicara memang mudah. Namun menjalaninya itu akan sangat....sangat....sangat sulit. Lebih mudah mengamati daripada melakoni. Ketika jadi jomblo enak sekali bicara dan bermimpi tentang hubungan yang ideal. Tapi, coba lihat kalau nanti sudah menikah? Mampukah bertahan dengan keidealan itu?
Sudahlah....yang jelas minimal sudah ada niat baik untuk menghadapi kekisruhan dalam rumah tangga. Konon, kuncinya ada pada perempuan. Satu hal, bukan, dua hal malah, yang harus selalu dilakukan oleh seorang istri. Bersabar dan mengalah. Sampai kapan???? Sampai kebahagiaan itu selalu ada dalam rumah kita dan sampai ruh kita telah menjumpai RabbNya.
Mungkin sebagian besar perempuan akan protes dan tak sepakat. Ya...boleh-boleh saja. Kita akan membahas ini pada bagian lain, sehingga kita bisa berbagi tentang makna menjomblo, makna menikah dan makna menjalani kehidupan bagi seorang perempuan. Seorang makhluk yang diciptakan demi sebuah misi agung.




Mars dan Venus



Pagi kembali menyapa. Dalam derap semangat kepalaku berputar memikirkan agenda sepanjang hari ini. Hari yang sibuk dan penuh dengan tugas-tugas. Jadwal yang padat dan hal-hal yang harus diselesaikan. Hari yang berderap dengan kehidupan. Hari yang bergegas dengan karya. Karena hidup adalah pergerakan.
Tiba-tiba aroma maskulin menyeruak di seluruh udara yang kuhirup. Suasana laut biru memenuhi paru-paruku. Otakku memindai dengan cepat. Ini bau laki-laki. Karena sibuk dengan pikiranku sendiri aku lengah dengan keadaan di sekelilingku. Tanpa sadar ternyata beberapa lelaki baru saja berkelebat di sisiku.
Laki-laki....hhh.....sosok asing itu. Seperti teka-teki berjalan. Mengurai pikiran dan hidup mereka layaknya berhadapan dengan sebuah riset tanpa ujung dan tanpa kesimpulan. Apalagi teori. Menelisik apa yang ada di hati mereka sama sulitnya seperti menemukan jarum di Samudera Atlantik. Memang nggak nyambung, tapi seperti itulah sulitnya memahami seorang laki-laki.
Allah yang Maha Kuasa menjadikan makhluk yang bernama laki-laki itu sebagai manusia yang pertama diciptakan. Atas kesepiannya, maka Allah pun menciptakan seorang teman yang bernama perempuan. Untuk menemaninya. Untuk menghiburnya dan untuk mencintainya. Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk kirinya. Tak diciptakan dari tulang kepala, sehingga laki-laki tak perlu menjunjung dan menyembah  seorang perempuan. Pun tak diciptakan dari tulang kaki, calcaneus misalnya, agar perempuan tak diinjak-injak dan dijajah oleh laki-laki.. Tetapi dijadikan dari tulang rusuk agar ia menjadi pendamping. Sehingga laki-laki menempatkan perempuan di hatinya dan dalam dekap lengan kekarnya
Dalam ilmu Fisika, dikenal adanya tata surya beserta sembilan planet yang mengitarinya. Tersebutlah planet yang paling dekat dengan bumi yaitu planet Mars dan Planet Venus. Pada keseharian, meski laki-laki dan perempuan berada dalam satu bumi, namun mereka seperti hidup di planet yang berbeda. Laki-laki di planet Mars dan perempuan di planet Venus
Dalam pandangan perempuan, laki-laki itu adalah sosok yang egois. Selalu mau menang sendiri. Tak ada ruang bagi pendapat orang lain. Mereka selalu punya alasan untuk membenarkan segala hal yang mereka lakukan. Laki-laki tak pernah sudi untuk diatur atau diperintah. Apatah lagi oleh seorang perempuan. Hal yang paling sulit untuk diterima oleh seorang lelaki normal. Ya, hal tersebut bisa jadi memang kodrat yang diberikan Allah kepada mereka. Karena laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan.
Seorang perempuan yang telah menikah pernah menuturkan hasil pengamatannya tentang sifat laki-laki. Sebuah teori yang didapatkan dari observasi langsung selama hampir sembilan tahun pernikahannya. Didapatkan kesimpulan bahwa laki-laki itu cenderung berpikir praktis. Mereka fokus pada satu masalah saja. Kurang peka dan kurang mampu berempati.Tak suka ditentang dan tak suka dilawan. Mereka adalah makhluk yang sangat dominan dan berpikir dengan otak kiri mereka
Sedangkan perempuan diberikan oleh Allah kecerdasan bahasa yang melebihi laki-laki. Titik broka di otak perempuan berkembang dengan sangat baik sehingga mereka sangat suka berbicara. Mereka juga sangat perasa dan sensitif. Dominan berpikir dengan otak kanan sehingga mereka sangat pandai berempati. Ini penjelasan ilmiah kenapa kaum hawa sangat suka ngerumpi dan ngegosip.
Nah, hal tersebutlah yang biasa memicu munculnya fenomena piring terbang di beberapa rumah tangga. Lantaran persoalan sepele perabot yang dibeli dengan susah payah hancur dan musnah dalam waktu singkat. Karena laki-laki tak suka dilawan sedangkan perempuan sangat suka berbicara, maka masalah kecil merebak menjadi sebuah pertengkaran dasyat. Omelan-omelan dari perempuan tak jarang memicu amarah laki-laki yang menyebabkan fenomena tangan melayang juga menyertai pertengkaran itu.
Ah, andai laki-laki dan perempuan bisa lebih dewasa. Mengapa perbedaan justru dijadikan peretak. Bukankah Allah menciptakan perbedaan itu pasti dengan sebuah hikmah. Seyogyanya, perbedaan tidak menimbulkan perpecahan. Namun justru dengan perbedaan itu laki-laki dan perempuan bisa saling melengkapi. Seperti sepasang hati yang saling menggenapkan dan saling mengisi. Mengapa piring dan gelas itu tak diisi dengan beberapa potongan bolu coklat dan teh hangat? Dari pada saling melempar, lebih baik duduk berhadapan. Bicara sembari menikmati bolu coklat yang legit dan hangatnya teh melati. Pernikahan diawali dengan cinta, harusnya dijalani dan diakhiri dengan cinta pula
By the way, bicara memang mudah. Namun menjalaninya itu akan sangat....sangat....sangat sulit. Lebih mudah mengamati daripada melakoni. Ketika jadi jomblo enak sekali bicara dan bermimpi tentang hubungan yang ideal. Tapi, coba lihat kalau nanti sudah menikah? Mampukah bertahan dengan keidealan itu?
Sudahlah....yang jelas minimal sudah ada niat baik untuk menghadapi kekisruhan dalam rumah tangga. Konon, kuncinya ada pada perempuan. Satu hal, bukan, dua hal malah, yang harus selalu dilakukan oleh seorang istri. Bersabar dan mengalah. Sampai kapan???? Sampai kebahagiaan itu selalu ada dalam rumah kita dan sampai ruh kita telah menjumpai RabbNya.
Mungkin sebagian besar perempuan akan protes dan tak sepakat. Ya...boleh-boleh saja. Kita akan membahas ini pada bagian lain, sehingga kita bisa berbagi tentang makna menjomblo, makna menikah dan makna menjalani kehidupan bagi seorang perempuan. Seorang makhluk yang diciptakan demi sebuah misi agung.




Catatan Seorang Jomblo



Matahari baru saja menyapa, ketika kaki ini melangkah menelusuri jalanan. Menapak perlahan suasana pagi yang begitu ceria. Nun jauh di langit sana awan biru ditemani cirrus yang berarak. Mengiringi sang surya yang perlahan merangkak. Pohon-pohon yang berbaris laksana punggawa. Sebagian daunnya meranggas kecoklatan. Sebagian lagi hijau tua dipenuhi debu-debu kendaraan. Bunga rumput yang memutih berhamburan tertiup angin pagi. Satu-satu luruh disaksikan embun yang menjuntai di ujung dedaunan
Suasana yang sama selama bertahun-tahun. Jalan yang sama, langit yang sama dan musim yang sama pula. Tak ada yang berubah. Selain bangunan yang tambah padat. Tetangga yang kian menua serta anak-anak mereka yang tumbuh besar. Sekilas tak ada yang berubah
Namun aku tahu hidupku tak demikian. Aku tahu gurat-gurat halus di wajahku kian bertambah seiring waktu. Bahkan bisa jadi setiap hela napas menancapkan gurat-gurat yang semakin jelas memudarkan kemudaanku. Ya....aku perlahan menua. Meski baru berkepala dua aku sadar bahwa usiaku semakin bertambah dan aku bukanlah remaja lagi yang penuh dengan daya tarik dan ketidakkhawatiran tentang masa depan..
HH.....semua orang tahu, bahwa hal yang paling menggelisahkan bagi seorang perempuan adalah ketika dirinya belum memiliki pasangan. Jangankan di usia dewasa, di usia remaja pun kekhawatiran jika tidak memiliki pasangan merasuk ke lubuk hati setiap perempuan. Hal itulah yang menyebabkan mereka rela melakukan apa saja agar terlihat cantik dan menarik.
Mulai dari menjaga agar tubuh selalu langsing, kulit terlihat putih dan wajah halus tanpa jerawat. Tak peduli berapapun biaya yang harus dikeluarkan untuk itu semua. Perempuan adalah makhluk yang paling konsumtif jika menyangkut masalah penampilan. Dan mereka menjadi mangsa paling empuk bagi para produsen kosmetik. Termasuk orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pernah terdengar kasus perempuan yang menghembuskan nafas terakhir lantaran operasi sedot lemak yang gagal. Atau perempuan lain yang wajahnya jadi hancur gara-gara pemutih yang mengandung merkuri. Semua itu dilakukan agar mereka terlihat menarik dan mendapatkan pasangan yang sesuai dengan keinginan hati
Jika ada manusia yang tidak memiliki pasangan, meski itu bukan suami atau istri yang sah, maka mereka biasa disebut dengan jomblo. Momok yang menakutkan bagi para remaja. Tentu saja orang dewasa jauh lebih khawatir lagi jika harus hidup menjomblo. Karena menjomblo itu artinya sendirian, kesepian dan kasihan. Jomblo itu identik dengan tidak laku, tidak menarik sehingga tak ada orang yang tertarik. Seperti atom pemicu radikal bebas yang bergerak kesana kemari tanpa pasangan. Ia dalam keadaan tidak stabil terus menerus hingga ada atom lain yang menemaninya. Sehingga jika ia tidak mendapat atom yang singel, maka ia akan mencari atom lain yang sudah berpasangan. Bahasa singkatnya merebut pasangan atom lain. Meski hal tersebut tidak serta merta terjadi di dunia manusia, namun ada saja jomblo yang bersifat seperti atom radikal bebas itu. Tak tahan kesepian, maka kehidupan orang lain pun dirusak
Kehidupan jomblo itu sendiri sebenarnya banyak alasannya. Ada yang menjomblo karena trauma dan sakit hati dengan sebuah hubungan. Ada juga yang tidak ingin terikat. Sebagian lagi memilih hidup menjomblo untuk menuntaskan cita-cita tertentu. Bahkan sebagian menjomblo karena mereka memang tak bisa membina sebuah hubungan. Entah karena standarnya terlalu tinggi sehingga belum menemukan pilihan yang cocok. Atau karena mereka tipe manusia yang sulit dipahami. Dan ada yang memilih hidup menjomblo demi menjaga kehormatan dan ketaatannya sebagai seorang hamba. Semoga aku adalah tipe jomblo yang terakhir ini
Kenapa bisa?? ya....tentu bisa. Aku memilih hidup menjomblo hingga datang seseorang yang berani untuk menikahiku. Bukan sekedar membangun hubungan palsu yang disebut pacaran. Menodai waktu-waktu berhargaku dengan kebaikan semu dan hal-hal palsu lainnya. Menggiringku pada sebuah kenistaan besar di hadapan Allah. Karena jelas sekali Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, tak menghendaki hambaNya terjebak dalam syahwat yang melenakan.  Sehingga dalam Al Quran, Dia Memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk tidak mendekati zina. Jangankan melakukan, mendekati saja dilarang
Maka, demi mentaati perintah Tuhanku, aku memilih hidup menjomblo. Jauh dari pacaran atau hubungan apapun namanya, yang dapat mengantarkanku pada cinta terlarang itu. Jadi aku menjomblo bukan karena tak suka lelaki, bukan pula tak ingin menikah. Tetapi karena waktunya saja yang belum sampai. Dari pada terjebak pada hubungan hitam nan tercela, lebih baik bersabar hidup menjomblo. Sembari mengamati kehidupan dan mempersiapkan diri untuk menjalaninya.
Menjadi seorang jomblo tentu saja tak mudah. Apalagi jika pilihan itu dijalani pada saat remaja. Tatkala semua hormon pertumbuhan mengkondisikan dirimu untuk peka dan fokus pada perhatian seorang lawan jenis. Keinginan dan kerinduan untuk mencicipi cinta terlarang begitu kuat menghentak setiap desah nafas. Karena itulah masa remaja adalah masa rawan bagi perjalanan keimanan seorang hamba. Godaan yang luar biasa dashyatnya mengintai di sepanjang periode adolesen itu
Jadi ingat bertahun-tahun waktu yang lalu. Ketika di saat remaja aku memilih menjadi seorang jomblo. Memang aku bukan satu-satunya jomblo. Tetapi yang membedakanku dengan jomblo lainnya adalah karena aku jomblo yang anti pacaran. Banyak teman-temanku yang menjomblo tapi ngejomblo karena patah hati diputuskan oleh laki-laki. Ada juga yang masih jomblo namun tetap saja terus berusaha untuk mencari pacar. Nah, dirikulah mungkin satu-satunya jomblo yang say good bye to pacaran
Bagaimana sejarahnya? Apakah aku terlibat dengan gerakan feminis sejak remaja? Ataukah aku memang memiliki kelainan sebagi seorang perempuan? Orientasi seksual terganggu mungkin. Oh, tidak. Sungguh, aku perempuan normal. Aku tidak munafik jika diriku pun pernah bersimpati dan menyukai seorang laki-laki. Pernah mengalami detakan jantung yang lebih cepat ketika berada di dekat laki-laki yang kusukai. Juga pernah hampir terjatuh dalam sebuah cinta terlarang. Sekiranya tanpa izin Allah, aku pun sudah menjadi korban jerat-jerat syethan dan merusak prinsip hidupku yang paling penting saat itu.
Tetapi aku adalah tipe remaja yang tidak suka ikut-ikutan jika aku tak tahu apa manfaat dari sebuah hal. Sebelum aku menjalani sebuah pilihan, maka aku akan mempertimbangkan baik-buruknya pilihan itu. Apalagi aku pun telah mengetahui jika pacaran tidak pernah dikenal dalam Islam dan Allah Tuhan Langit dan Bumi sangat membenci perbuatan zina. Sehingga hal-hal yang mengarah pada perbuatan itu juga dilarang
Demi menunjang pilihanku untuk menjadi seorang jomblo, maka akupun  menjadi seorang pemerhati. Mengobservasi kisah kasih beberapa teman sekolahku. Aku mengikuti perjalanan hubungan itu secara diam-diam. Untuk menemukan sebuah jawaban, manakah yang lebih dominan dari sebuah kegiatan pacaran di usia sekolah. Kebaikan atau justru keburukannya
Diantara penemuanku adalah bahwa sekilas kegiatan pacaran nampak sangat menyenangkan. Ya iyalah. Bagaimana tidak jika engkau mendapatkan limpahan perhatian dan kasih sayang dari seseorang. Apalagi secara hormonal tubuhmu memang mendukung hal tersebut. Pacaran dapat menjadi ajang memuaskan ego dan kebutuhan remaja akan sebuah pengakuan sosial. Pacaran bisa mendongkrak gengsimu jika pacarmu adalah orang penting atau selebritis sekolah. Entah pengurus OSIS, bintang olah raga, bintang akademik ataupun bintang yang paling cute and hand some. Pacaran juga bisa membuatmu berhemat jika pacarmu memiliki kendaraan. Siapa sih yang tidak senang jika fasilitas antar jemput tersedia setiap hari sekolah. Perempuan manapun pasti menginginkan hal tersebut. Dan katanya nih, yang paling seru dari pacaran adalah detakan jantungmu yang tiba-tiba menjadi lebih cepat. Wajah yang memanas lalu memerah. Napas yang tidak teratur juga keringat dingin yang mengucur tiba-tiba. Diiringi dengan perubahan perilaku, salah tingkah jika berada di dekat orang yang kita sukai. Hal tersebut memberikan sebuah sensasi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.  Nah, dampak buruk pacaran mulai terlihat ketika bunga cinta itu bermekaran. Sebagian besar teman-temanku yang fall in love mengalami gangguan konsentrasi terhadap pelajaran sekolah. Mereka hanya sibuk berdandan. Selain itu, pacaran bisa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya pelanggaran aturan sekolah. Lihat saja, teman-temanku lebih suka membolos untuk bisa berduaan dengan pacarnya. Juga lebih serius menatap wajah kekasihnya dari pada memperhatikan pelajaran sekolah. Dan kebanyakan siswa yang langganan masuk ke ruang konseling adalah mereka yang agresif dalam percintaan. Jadi dapat disimpulkan dalam analisis statistik terdapat hubungan terbalik antara prestasi akademik dengan aktivitas pacaran
Ketika bunga cinta mulai layu, maka itulah pertanda sebuah perang urat syaraf dimulai. Sepasang sejoli yang dulunya sangat berkasih-kasihan tiba-tiba berubah jadi musuh bebuyutan. Tak saling tegur, tak saling menyapa. Jika bertemu saling membuang muka. Saling menjelekkan dan saling menyakiti. Entahlah, kemana semua cinta itu hilang dan  menguap.
Kejadian paling konyol sebagai akibat buruk dari pacaran adalah bunuh diri. Memang di sekolahku belum pernah terjadi hal-hal seperti itu. Tapi di televisi, kejadian tersebut sudah sering diberitakan. Beberapa remaja rapuh memilih untuk mengakhiri hidup mereka lantaran diputuskan oleh pacarnya. Memilih mati, seakan-akan itu adalah akhir dari segalanya. Mencabut nyawanya sendiri seperti menjadikan nyawa sebagai barang murahan yang mudah dibeli di pasar loak. Mereka tak dapat memaknai kehidupan selain dari perasaan sesaat yang terbingkai dalam ketidakdewasaan.
Akhir dari observasi itu kian memantapkan pilihanku untuk menjomblo. Tepatnya, jomblo yang anti pacaran. Bagiku, pacaran hanyalah aktivitas yang menyia-nyiakan waktu dan usia. Selain menambah dosa juga menyita perhatian yang seharusnya ditumpukan hanya pada persiapan menghadapi masa depan. Lagi pula, tak ada yang tahu jika seseorang yang menjadi pacarmu itu akan menjadi suamimu kelak. Bagaimana kalo hanya cinta semusim. Cuma bikin sakit hati dan menambah kesedihan. Lebih baik memusatkan pikiran untuk berprestasi dan menjadi sosok yang lebih baik dari ke hari. Sehingga dirimu menjelma menjadi sosok yang memang layak untuk dicintai, ok!


Berburu Menantu Untuk Ibu



Pesan yang kubaca dari layanan sms itu begitu menghentak. Meluruhkan pertahananku dan mengalirkan butir-butir air mata dari sepasang mataku yang perih. Pedih menahan kecamuk rasa yang memenuhi rongga dada
Isi pesan itu sebenarnya berkali-kali kuterima lewat pesan sms ataupun pembicaraan di telepon. Pertanyaan yang sama tentang kapan aku menikah dan siapa calon yang telah aku siapkan. Biasanya hal itu aku tanggapi dengan canda. Dan selalu aku bisa berkelit dari desakan ibu untuk segera menikah
Tapi kali ini sms itu begitu dalam. Tertera kata-kata yang menghujam ke dalam jiwaku yang paling lubuk. Entah, jika kata-kata yang terungkap dalam sms tersebut adalah manifestasi sekeping hati yang perih. Sedih, lantaran harapan yang begitu lama dipendam tak jua kunjung menjadi kenyataan. Padahal, waktu yang terus berlalu menumbuhkan kerinduan dan kecemasan. Pada keinginan untuk menyaksikan putri tertuanya menikah dan memberikannya seorang cucu
Ibu....bukan aku tak ingin menikah. Sungguh, jika kemungkinan untuk itu dapat kulakukan. Maka dengan segera aku akan menikah. Tetapi sungguh, hingga saat ini belum ada satu pun seorang lelaki yang datang kepadaku. Tentu saja lelaki yang layak untuk dinikahi. Bukan seperti lelaki kebanyakan yang bertaburan di luar sana.
Para lelaki yang sering ibu minta aku untuk meliriknya, memikirkannya lalu memilihnya. Ibu...bukan para lelaki itu yang kucari. Aku mencari lelaki yang mencintai Tuhannya, RasulNya dan Islam. Aku mencari pejuang. Aku mencari mujahid. Karena aku mencintai Tuhanku, RasulNya dan Islam. Karena aku adalah pejuang dan mencintai apa-apa yang mendekatkan kepadanya
Juga....karena cinta tak cukup kuat menjadi perekat sebuah perkawinan. Rumah tangga membutuhkan simpul yang lebih liat dari cinta. Itulah kesamaan cita-cita. Yang dengannya masing-masing sosok akan siap untuk memberikan yang terbaik bagi yang lainnya. Rela dengan kesabaran dan kondisi terburuk sekalipun. Karena menikah tak hanya memuaskan naluri kemanusiaan. Tetapi menikah adalah separuh agama. Yang ukurannya tak main-main bagi seorang hamba yang tengah berjuang mencari kesejatiannya.
Maka ibu...maafkan jika aku masih membuatmu tenggelam dalam kekhawatiran. Maafkan jika aku membuatmu terduduk syahdu di penghujung malam untuk melirihkan namaku ke haribaanNya. Maafkan jika aku menambahkan lagi sebaris gurat di dahimu yang senja. Maafkan pula jika aku mengalirkan lagi air matamu untuk ke sekian kalinya. Maafkan aku ibu.....maafkan....tapi percayalah aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Aku akan berusaha memenuhi apa yang kau inginkan. Selama aku mampu. Selama tidak menyalahi apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Apalagi jika hal itu adalah sesuatu yang sesuai dengan keinginan Allah dan RasulNya. Tunggulah ibu....aku akan berburu menantu untukmu
Maka perburuan itupun kumulai....tetapi aku tak tahu ke hutan mana aku akan menuju. Mencari seorang menantu untuk ibu. Apalagi di kota besar seperti ini. Mana ada hutan untuk berburu. Lalu aku mencoba menyusun rencana demi terwujudnya asa di dada. Mancari dan memilih beberapa kenalan yang berpotensi untuk menjadi channel bagi sebuah pernikahan. Mulai dari yang memiliki keponakan laki-laki, paman laki-laki juga yang punya saudara laki-laki. Semua kuurutkan dalam mata pikiranku. Akhirnya hati dan pikiran ini pun terbetik pada sebuah sosok
Seorang ikhwa yang masih sekampung denganku. Usianya jauh lebih tua sekitar 6 tahun. Dulu pernah kuliah, tapi entah bagaimanan ceritanya kuliah itu tak pernah tuntas. Sangat idealis dan dulu seorang aktivis vokal yang paling dicari oleh birokrat. Mungkin karena itu pulalah mengapa kuliahnya tak kelar. Ia terlalu jengah dengan kepongahan birokrat. Maka ia pun mencari jalannya sendiri....memberontak dan meninggalkan ruang kuliah. Sekarang...masih sesekali aku menyaksikan kelebatnya di masjid pondokan. Mengajar anak-anak mengaji atau bermain bola. Aktivitasnya yang lain di luar sana, sedikitpun aku tak tahu
Mengapa dia menjadi pilihan? Mhh...entah...saat itu aku hanya terkagum dan takjub dengan proses perubahan yang ia alami. Metamorfosis yang mencengangkan. Sedikit menyejarah, aku mengenal sosoknya ketika masih menjadi mahasiswa baru. Dia kenalan teman satu kamarku. Orangnya asyik dan ramai. Juga idealis dan aktivis  di sebuah organisasi kampus yang paling terkenal di masanya. Dia sosok yang ramah. Yang paling kuingat dia adalah orang yang selalu menyapaku untuk singgah di pondokannya setiap pulang kuliah. Sehingga bagiku dia senior yang paling baik. Trus...dia punya seorang pacar yang sangat dia sayangi. Mereka seperti sepasang jiwa yang saling melengkapi. Karena mereka punya banyak persamaan. Sama-sama kuliah difakultas yang sama, satu kelas, satu pondokan dan satu organisasi.
Tetapi meski sudah punya pacar, sosok itu tetap suka jahil dan usil. Jika dia datang ke pondokan kami tak ada satu pun cewek yang lewat di depannya, melainkan pasti mendapat gangguannya. Mulai dari siulan, sapaan ataupun nyanyian penuh rayuan. Pokoknya dalam pandanganku saat itu dia laki-laki biasa...bukan pejuang. Dia hanya seorang senior yang ramah tetapi tak akan pernah membuat aku jatuh hati padanya. Terlebih dia sudah punya pacar
Hingga terjadilah sebuah peristiwa yang sungguh tak pernah terduga. Tiba-tiba aku mendengar bahwa pacarnya telah meninggal. Padahal, mereka nyaris menikah. Pacarnya meninggal saat menjalani kegiatan KKN. Sosok itu sepertinya mengalami goncangan yang sangat keras hingga dia tidak pernah terlihat lagi di pondokan. Aku pun tak pernah mendengar lagi beritanya. Tak ada sapaan...tak ada candaan...sosok itu seperti menghilang
Beberapa waktu kemudian...lagi-lagi aku mendengar kabar bahwa dia mulai berubah. Tak lagi jadi aktivis kampus yang suka berdemo dan merongrong ketenangan birokrat. Tetapi dia mulai tertarik belajar Islam dengan sungguh-sungguh. Dalam hati aku bertanya, apa iya sosok itu bisa berubah. Dengan membayangkan buku-buku Karl Marx di meja belajarnya juga poster Iwan Fals seukuran pintu di depan kamarnya. Belum lagi bacaan-bacaan berbau sosialis dan kekiri-kirian yang pernah kusaksikan terpajang rapi di lemari bukunya. Juga tulisan-tulisannya yang mencerminkan jiwa berbalut pemberontakan
Hingga di sebuah tikungan....jantungku seperti melompat. Ketika kami nyaris bertabrakan. Tapi tak ada lagi candaan ataupun sapaan..sosok yang sama namun dalam balutan fisik yang berbeda. Baju putih berlengan pendek dipadu dengan celana di atas mata kaki, dan kalau mataku tak salah jenggot lebat telah menghiasi wajahnya yang menunduk. Aku diam...diapun terdiam. Meski dulu kami sempat agak akrab tapi kami sama-sama paham. Kini, dia tengah bermetamorfosis menjadi seorang muslim yang sesungguhnya.  Pun aku, saat itu tengah berbenah menjadi sosok muslimah yang jauh lebih baik.
Bertahun waktu berlalu. Aku mulai aktif dalam dakwah daerah. Dan berkenalan dengan seorang akhwat. Yang ternyata adalah adiknya. Secara substansi mereka serupa. Sama-sama suka berjuang. Adiknya adalah pembina di lembaga dakwah daerahku dan kami saling kenal meski tak terlalu akrab. Ternyata sosok itu tak kunjung menikah, padahal adiknya hampir memberikannya keponakan yang kedua
Berbekal perkenalan yang agak akrab, maka kucoba memberanikan diri menyampaikan maksud hati kepada adiknya. Meski rasanya lumayan malu juga. Tapi rasa malu itu tergantikan dengan suara sendu ibuku..bagaimanapun aku harus segera mencarikannya menantu. Maka kucoba menghubungi akhwat tersebut beberapa kali. Qadarallah tak pernah tersambung. Ternyata dia tengah berada di kampung suaminya. Lalu akupun menyusun sms sepanjang 6 kali sms untuk menyampaikan maksud hati ini. Sedikit lega rasanya...minimal aku sudah berusaha
Tetapi...lagi-lagi ketetapan Allah berlaku. Setelah berhari-hari ternyata sms itu terpending dan tak pernah sampai pada tujuannya. Hhhh...aku merasa lelah karena usaha itu. Energi mentalku seperti terkuras. Tapi aku tak putus asa, maka kucari cara lain lagi. Kali ini mencari informasi tentang walimah jama’i. Itu loh menikah yang baramai-ramai dan seru abis. Ternyata prosesnyapun agak berbelit. Tambah pula waktu pelaksanaannya belum jelas. Entah dalam waktu dekat ataukah dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Maka walimah jama’i menjadi alternatif kesekian jika usaha lain tak berhasil
Saat diri ini dilanda kegamangan untuk melanjutkan perburuan datanglah sebuah panggilan. Aku ingat sekali. Waktu itu baru saja aku berembuk dengan adikku tentang strategi mencari menantu untuk ibu. Suara handphone memutus perbicangangan kami yang sedang seru-serunya. Ternyata dari temanku yang menawarkan sesuatu. Singkat, padat dan jelas. Sebuah ta’aruf. Dia memintaku untuk membawa biodata dan foto sesegera mungkin. Karena ada ikhwa yang sedang mencari akhwat. Saat itu hatiku cenderung merasa biasa saja. Karena kegagalan usahaku sebelumnya telah memberi sebuah pelajaran. Jangan pernah over estimate...tapi bersiaplah dengan kemungkinan terburuk.
Bergegaslah aku untuk menyusun biodata. Aku bingung karena tak pernah membuat biodata untuk walimah sebelumnya. Kalau untuk melamar pekerjaan aku sudah punya beberapa dokumen. Kucoba untuk memilah-milahnya dan memperkirakan informasi yang dibutuhkan. Selesai biodata maka aku pun mencari selembar foto sebagai pelengkapnya. Namun aku baru ingat ternyata aku tak punya selembar foto pun...ya...tak punya meski selembar foto ukuran 2x3. Setelah bongkar sana bongkar sini, aku menemukan foto yang tertempel di kartu ujian. Foto yang discan secara terburu-buru karena kasus yang serupa. Aku tak punya foto. Dari pada tidak ada, maka foto seadanya yang sangat tidak layak pajang itu pun kulampirkan bersama biodata
Ketika temanku menerima biodata dan fotoku dia mencak-mencak, karena foto yang tidak bagus itu. Lalu aku berusaha mencari kamera digital ataupun alat foto yang lain. Tetapi tidak ada yang kuperoleh. Kukatakan pada temanku agar biodata itu diserahkan beberapa hari lagi karena aku baru mau membuat foto. Temanku tidak menyetujuinya, dia tetap meminta agar biodata dan fotoku harus diserahkan pada hari itu juga. Setelah keringatan kesana kemari mencari kamera, akhirnya dapat juga kamera pinjaman dari salah seorang kawan di kampus. Maka terpampanglah wajahku yang sederhana dan sangat biasa di sudut atas biodata.
Progresifitas ta’aruf itu begitu lama kurasa. Hingga aku melanjutkan usaha yang lain. Tidak lagi membidik sasaran sebelumnya, karena aku masih ingin mengumpulkan energi. Berburu sosok yang satu itu ternyata membutuhkan nafas yang cukup panjang. Jadi aku mendiamkan usaha tersebut di salah satu sudut hati. Kelak, jika usaha lain tak berhasil dan energiku sudah cukup kuat maka  perburuan akan kulanjutkan. Sekarang aku mulai serius berburu informasi tentang walimah jama’i. Meski waktunya tak jelas...tak apalah. Yang penting di hadapan Allah aku bisa mempertanggun jawabkan sesuatu. Bahwa betul-betul aku berusaha mencari menantu untuk ibuku